Wednesday, July 5, 2017

Potensi Jagung dalam Target Pencapaian



Peluang untuk mensukseskan swasembada pangan, dimana gaung swasembada pangan untuk Padi Jagung dan Kedelai, salah satu komoditasnya yaitu jagung, realisasi target dan pencapaian yang perlu dipertimbangkan. Pemenuhan untuk kebutuhan jagung yang mengandalkan impor akan berisiko menghambat indutri peternakan dan pakan dalam negeri. Sebab sebagian besar produksi jagung dikonsumsi oleh negara produsennya. Dalam hal ini produktivitas jagung yang merupakan memang sangat dipengaruhi faktor benih, tanah, irigasi, pemupukan, pengendalian hama, hingga panen dan pascapanen. Selain itu faktor alam, kondisi geografis, dan agroklimat juga sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Hal-hal yang bisa dilakukan pemerintah adalah menjalankan kebijakan untuk menunjang peningkatan produktivitas pangan di Indonesia baik benih, pupuk, infrastruktur, termasuk irigasi, hingga permodalan dan jaminan pasar bagi produk pangan. Indonesia harus meningkatkan prioritas peningkatan produksi jagung. Komoditas jagung yang diperdagangkan di pasar dunia sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, kemudian diikuti China, Fiji, Brazil, Mexico dan Argentina. Namun tidak semua negara produsen jagung menjadi negara pengekspor. Pemerintah memutuskan untuk mengimpor jagung sebanyak 2,4 juta ton untuk kebutuhan pakan ternak pada 2016. Impor itu akan direalisasikan secara bertahap sebanyak 200 ribu ton setiap bulan. Impor tahun depan hanya mencapai 30% dari total kebutuhan jagung nasional yang mencapai 8,6 juta ton per tahun atau sekitar 665 ribu ton per bulan.Di Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Berdasarkan urutan bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ke 3 setelah gandum dan padi. Negara pesaing utama Indonesia dalam merebut pasar ekspor adalah adalah Amerika Serikat dan Argentina. Impor jagung bahkan mencapai 182 ribu ton atau US$ 53,7 juta. Selama Januari-September, total impor tercatat sebesar 2 juta ton atau US$ 578,1 juta.Asal dari jagung impor tersebut berbeda-beda. Brasil merupakan negara terbesar dalam memasok jagung. Tercatat di bulan September volume impor mencapai 40.080 ton atau US$ 11,6 juta.Kemudian adalah Argentina dengan 34.039 ton atau US$ 10,7 juta, India 36.470 ton atau US$ 11,2 juta, Thailand 82 ton atau US$ 171 ribu dan negara lainnya sebesar 229 ton atau US$ 163 ribu.Menurut data bahwa harga jagung berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Juli 2012 tampak mengalami kenaikan sebesar 4 sen dan ditutup pada posisi 5.98 dolar per bushel. Sedangkan harga jagung berjangka untuk kontrak pengiriman bulan September tampak mengalami peningkatan 8 sen dan ditutup pada posisi 5.51 dolar per bushel. Untuk produksi jagung terbesar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa yakni Jawa Timur, Jawa Tengah masing-masing lima juta ton per tahun, setelah itu menyusul beberapa daerah di Sumatra antara lain Medan dan Lampung, sehingga produksi jagung Indonesia mencapai 16 juta ton per tahun.Di Indonesia daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung di Indonesia adalah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Khususnya di Daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya. Di Indonesia pada tahun 2004 produksinya baru 11,225 juta ton, pada 2005 meningkat menjadi 12,52 juta ton. Dan prediksi untuk tahun 2006 diperkirakan 12,13 Juta ton.
Berbagai studi telah dilakukan oleh para ahli untuk komoditas jagung berdasarkan beberapa permasalahan dengan mengkaji kesesuaian sebaran sentra produksi jagung, pabrik pakan, dan populasi ternak di Indonesia; menganalisis kebutuhan pakan pabrikan untuk ternak; Menganalisis kebutuhan jagung untuk pakan pabrikan; serta menyusun alternatif kebijakan dalam upaya memenuhi kebutuhan jagung untuk pakan. Untuk mewujudkan suatu sistem pertanian yang terpadu, bahwa perlunya peningkatan produksi jagung untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan apabila memungkinkan dengan kapasitas produksi yang besar dapat membuka jaringan pasar ekspor Internasional. Apabila dilihat dari kondisi lahan, iklim serta kapasitas produksinya Indonesia cukup mampu didalam peningkatan agribisnis jagung untuk memenuhi permintaan daripada konsumen domestik dan Internasional. Dalam hal ini bagaimana sttrategi dan pelaksanaan pertanian yang digalakkan dengan integritas dan pemanfaatan lahan serta budidaya dan pertumbuhannya. Menurut survey dan pencatatan USDA, Departemen Pertanian, USA tahun 2005 stoknya masih 122,6 juta ton. Namun, sampai Oktober 2006 yang lalu tinggal 88,1 juta ton.
Berdasarkan data analisa bahwa produksi jagung dalam negeri memang belum mampu mencukupi kebutuhan bahan baku industri pakan ternak, untuk itulah dengan berbagai upaya dalam memenuhi permintaan konsumen agribisnis jagung ini, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan swasembada jagung pada 2007, dengan target produksi 15 juta ton dikarenakan kebutuhan konsumsi dan industri pakan ternak yang melonjak. Diharapkan dalam pencanangan swasembada agribisnis jagung 2007 dapat berjalan dengan baik sesuai dengan mutu bibit tanaman jagung yang berkualitas didalam pengembangannya. Dimana dengan terbatasnya persediaan jagung dunia untuk ekspor dan meningkatnya permintaan etanol baik di Amerika, China dan berbagai negara berpotensi menciptakan ekspektasi kenaikan harga jagung di pasar dunia untuk beberapa tahun ke depan, Indonesia diharapkan dapat mampu menangkap peluang pasar ini menjadi salah satu acuan untuk mencari celah pasar kebutuhan konsumen di pasar dunia. (Berbagai sumber terkait, vizbiz, data usda, etc, data diolah F. Hero K Purba)

Tuesday, June 6, 2017

Potensi Peluang Kebutuhan Komoditi Kacang Tanah



Memberdayakan petani lokal untuk memproduksi komoditas kacang tanah dengan kualitas yang bagus sehingga tidak perlu mengimpor atau bisa mengurangi jumlah impor dari luar negeri dan para petani kacang tanah juga bisa menikmati hasilnya. Produksi kacang tanah di Indonesia masih tergolong rendah, produksi kacang tanah di Indonesia berkisar antra 1 – 1,3 ton/ ha (BPS 2015). Perbandingan dengan produksi Negara-negara tetangga seperti Filipina yang mampu memproduksi kacang tanah 3,05 ton/ha, Vietnam mampu 1,8 ton/ha, sedangkan kita 1,3 ton/ ha hanya lebih tinggi dari pada Thailand  yaitu 1,2 ton/ha. Nilai impor kacang tanah lebih tinggi dari ekspor, rata-rata 5 tahun terakhir impor sebesar 163.745 Ton sedangkan ekspor sebesar 8.751 Ton. Kebutuhan kacang tanah dalam negeri mencapai 799.194 ton sedangkan kemampuan produksi atau yang kita targetkan 706 ribu ton, masih ada kekurangan 92 ribu ton. Di Indonesia, tanaman Kacang Tanah cocok ditanam didataran rendah yang berketinggian dibawah 500 m diatas permukaan laut. lklim yang dibutuhkan tanaman Kacang Tanah adalah bersuhu tinggi antara 25°C - 32°C, sedikit lembab ( rH 65 % - 75 % ), curah hujan 800 mm -1300 mm per tahun, tempat terbuka. (Data Wikipedia, data media, data BPS, data diolah F. Hero K. Purba) Kacang tanah (Arachis hypogaea L.), mengandung Omega 3 yang merupakan lemak tak jenuh ganda dan Omega 9 yang merupakan lemak tak jenuh tunggal. Dalam 1 0ns kacang  tanah terdapat 18 gram Omega 3 dan 17 gram Omega 9. Kacang tanah mengandung fitosterol yang justru dapat menurunkan kadar kolesterol dan level trigliserida, dengan cara menahan penyerapan kolesterol dari makanan yang disirkulasikan dalam darah dan mengurangi penyerapan kembali kolesterol dari hati, serta tetap menjaga HDL kolesterol.
Pembudidayaan kacang tanah memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman palawija lain seperti jagung, kedelai, dan kacang hijau. Di samping itu, kacang tanah merupakan tanaman komersial dan sebagai sumber pendapatan penting bagi petani di lahan kering dan lahan bekas sawah. Risiko kegagalan panen kacang tanah akibat serangan hama dan penyakit lebih kecil dibandingkan dengan kedelai. Sentra kacang tanah terpusat di Pulau Jawa, Sumatra Utara, Sulawesi dan kini telah ditanam di seluruh Indonesia. Dari data yang di peroleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) di tiap provinsi di Indonesa pada tahun 2009, menunjukan bahwa di Indonesia luas areal pertanaman kacang tanah sekitar 628.660 ha dan produksinya sekitar 763.507 Ton. Dari tahun ke tahun luas areal pertanaman kacang tanah di Indonesia semakin menyempit, pada tahun 2006 seluas 706.753 hektar menjadi 660.480 hektar pada tahun 2007 Konsumsi kacang tanah di Indonesia sebesar 4,2 kg per kapita pada tahun 2011. Dengan jumlah penduduk 237 juta jiwa pada tahun yang diperlukan kacang tanah sebanyak 1 juta ton. kacang tanah termasuk komoditas pangan yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi, hal itu terlihat dari  kontribusi komoditas ini terhadap pendapatan petani di Kabupaten Tuban yang merupakan penghasil utama kacang tanah di Jawa Timur mencapai 65%.
Tahun 2006 produksi hasil sekitar 838.096 ton, pada tahun 2009 sekitar 763.507 ton selama tahun 2006 sampai 2009 produksi hasil kacang tanah berkurang 74.569 ton, tidak sebanding dengan makin bertambahnya penduduk dari tahun ke tahun di Indonesia yang mengakibatkan volume impor kacang meningkat. Diharapkan dari setiap daerah lebih menggali potensi produk unggulan yang ada seperti kacang tanah ini, sehingga kita tidak hanya terus ketergantungan impor. (data: berbagai sumber terkait, diolah F. Hero K. Purba)

Thursday, May 4, 2017

Kacang Mete dalam Potensi Pengembangan dan Akses Pemasaran



Produksi gelondong mete Indonesia saat ini sekitar 146.000 ton pertahun. Sekitar 42% dari produksi tersebut diekspor dalam bentuk gelondong mete, 10% diekspor setelah dikacip menjadi kacang mete, dan 48% dikonsumsi di dalam negeri. Nilai ekspor mete Indonesia pada tahun 2007 sekitar US$ 83 juta yang berasal dari ekspor gelondong mete sebesar US$ 58 juta dan dari ekspor kacang mete US$ 25 juta. Dengan tingkat produksi gelondong mete seperti di atas, Indonesia masih tergolong sebagai negara kecil dalam industri mete dunia. Produksi gelondong mete dunia saat ini sekitar 2.400.000 ton, lebih dari setengahnya dihasilkan oleh dua negara produsen utama yaitu Vietnam (35%) dan India (20%). Berdasarkan data pada tahun 2010 Indonesia menduduki peringkat ke -5 penghasil biji kacang mete terbesar di dunia. Walaupun potensi ekspor kacang mete Indonesia cukup besar, namun nilai ekspor kacang mete dari Indonesia masih sangat rendah.Dari data statistik FAO terlihat ada fenomena yang perlu dicermati dalam produksi kacang mete di 6 negara penghasil kacang mete terbesar: Produksi kacang mete Vietnam yang mulanya terus naik, turun di tahun 2009, kemudian naik kembali di tahun 2010. Produksi kacang mete Nigeria juga mengalami penurunan cukup banyak di tahun 2009 dan belum sepenuhnya pulih di tahun 2010. Penurunan produksi kacang mete di India yang semula naik hingga tahun 2009, turun di tahun 2010. Negara Pantai Gading tampaknya memiliki produksi kacang mete yang meningkat dari tahun ke tahun, hingga 2010. Hal ini mungkin disebabkan adanya kesadaran negara tersebut akan nilai ekspor kacang mete yang semakin meningkat. Pengembangan potensi budidaya kacang mete (Cashew Nut) Indonesia juga sudah mengintroduksi jambu mete klon unggul dari Thailand. Tahun 2001, Menteri Pertanian telah melepas varietas mete unggul  Gunung Gangsir 1. Kemudian tahun 2004 ada dua varietas yang dilepas, yakni MR 851 dan PK 36. Namun benih-benih unggul ini belum diproduksi secara massal, hingga  belum bisa menyebar ke masyarakat. Perkembangan mete saat ini penghasil utama biji mete justru Vietnam. Data mutakhir FAO (2006), menunjukkan bahwa negeri ini menghasilkan 941.600 ton biji mete (I), Nigeria 636.000 ton (II), India 573.000 ton (III), Brasil 236.140 ton (IV), dan Indonesia 122.000 ton (V). Tahun sebelumnya, Nigeria, di benua Afrika ini, masih merupakan penghasil mete nomor empat di atas Indonesia. Tiba-tiba dia menyodok ke urutan kedua menggantikan India. Lima besar penghasil mete tahun 2005 adalah Vietnam 827.000 ton (I), India 460.000 ton (II),  Brasil 251.268 ton (III), Nigeria 213.000 ton (IV), dan Indonesia 122.000 ton (V).Penghasil mete gelondongan (mete yang belum dibuka cangkangnya/belum dikacip, cashews in-shell) adalah Afrika Barat (25 % dari produksi dunia), disusul oleh India (22 %), Vietnam (21 %), Brazil (16 %), Afrika Timur (9 %) dan kemudian Indonesia (5 %). Hampir seluruh produksi mete di dunia (90 %) dihasilkan oleh petani kecil di pedesaan. Walaupun ada sekitar 25 negara penghasil mete, namun sebagian besar (99 %) pangsa pasar kacang mete (biji mete olahan, cashews kernels) dikuasai oleh tiga negara saja, yaitu India, Vietnam dan Brasil. Indonesia merupakan penghasil mete terbesar di dunia setelah India, Vietnam, Afrika Barat, Afrika Timur dan Brasil. India merupakan negara pengekspor kacang mete terbesar di dunia, menggantikan kedudukan Afrika Barat yang industri kacang metenya rontok sejak era 1980-an, disusul oleh Vietnam, yang industri metenya baru berkembang sekitar 15 tahun lalu, namun karena pesatnya pertumbuhan berpeluang menjadi pengekspor kacang mete terbesar di dunia. Untuk memenuhi industri kacang metenya, India mengimpor mete gelondongan dari Afrika Barat, Afrika Timur dan Indonesia. Sedangkan Vietnam mengimpor mete dari Afrika Barat dan Indonesia. Sekitar 600 ton mete gelondongan dunia diekspor ke India dan Vietnam setiap tahunnya. Brasil sebagai pengekspor kacang mete terbesar ketiga, selama ini masih dapat memenuhi kebutuhan metenya sendiri. Konsumen kacang mete dunia adalah negara-negara di Amerika Utara, Uni Eropa, China, Timur Tengah, India dan Australia. Yang menarik, India merupakan negara produsen dan sekaligus konsumen mete terbesar di dunia. (Sources: Berbagai media terkait, data diolah F. Hero K. Purba).
Kacang mete mentah dalam penjualannya memiliki kelas-kelas sendiri dan pada setiap kelasnya memiliki spesifikasi dan harga tersendiri. Secara umum tergolong dalam 3 jenis yaitu kacang mete utuh, kacang mete campuran dan kacang mete pecahan. Kacang mete olahan mempunyai proses produksi yang cukup sederhanaUntuk tanaman jambu mete banyak tumbuh di Jawa Tengah (Jepara, Wonogiri), Jawa Timur (Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pasuruan, dan Ponorogo), dan di Yogyakarta (Gunung Kidul, Bantul, dan Sleman). Di luar Pulau Jawa, Jambu mete banyak ditanam di Bali (Karangasem), Sulawesi Selatan (Kepulauan Pangkajene, Sidenreng, Soppeng, Wajo, Maros, Sinjai, Bone, dan Barru), Sulawesi Tenggara (Muna). dan NTB (Sumbawa Besar, Dompu, dan Bima). Menurut data jumlah penduduk India sekitar 5 kali lipat Indonesia, namun konsumsi metenya 45 kali lipat. Kebutuhan kacang mete Amerika Utara dan Uni Eropa selama ini dipenuhi oleh India dan Brasil. India juga mengekspor kacang mete ke Timur Tengah, sedangkan Vietnam mengekspor kacang mete ke Amerika Utara, China dan Australia.

Monday, April 3, 2017

Pengembangan Komoditi Wijen dalam Pemanfaatan Nilai Bisnis




Pengembangan komoditi Wiijen yang bernilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai bahan industri. Di pasar dalam negeri harga produk wijen bervariasi tergantung pada jenis (macam)produknya. Harga produk wijen makin meningkat lagi setelah biji disosoh, bahkan bila diproses menjadi minyak wijen harganya semakin meningkat. Wijen dalam pengolahan memiliki khasiat bahwa makanan berbasis biji wijen atau dalam bahasa lokal disebut tahini bisa mengurangi risiko kematian. Biji wijen berkhasiat menurunkan faktor risiko kardiovaskular pada penderita diabetes tipe-2, gula tinggi kronis, glikasi dan resistensi insulin. Peneliti melakukan survei pada 41 pasien diabetes tipe-2 secara acak yang dibagi dalam dua kelompok, A dan B. Pasien kelompok A diberikan 28 gram atau sekitar dua sendok makan biji wijen ke dalam menu sarapan mereka setiap hari. Wijen (Sesamum indicum L. syn. Sesamum orientalis L.) merupakan tumbuhan yang berasal dari Afrika Khatulistiwa yang berada pada ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Tumbuhan wijen saat ini sudah banya tersebar, bahkan telah sampai di Indonesia. Pengembangan wijen dapat juga dilakukan di lahan sawah petani banyak dilakukan secara monokultur, akan tetapi dengan pertimbangan risiko kegagalan dan peningkatan pendapatan dapat ditanam secara tumpangsari, tumpangsisip, atau campuran (dua tanaman atau lebih ditanam secara bersamaan). Pengolahan wijen juga seperti  Minyak Wijen, Minyak wijen mengandung asam lemak omega-3 yang baik untuk kesehatan. Asam lemak omega-6 dalam minyak wijen membantu mengurangi gangguan kulit, seperti eksim. Kandungannya sangat besar sehingga perlu diperhatikan penggunaannya.
Pengembangan komoditas wijen  di Indonesia masih sangat rendah itu karena: Masih banyak petani yang belum mengenal wijen sehingga tanaman ini tidak sepopuler tanaman palawija (kedelai, jagung dll).Serta minat petani masih rendah karena kurangnya teknologi budidaya wijen. Produktivitas masih rendah, ini karena teknik budidaya yang kurang baik pada umumnya wijen hanya ditanam sebagai tanaman selingan. Dalam hal ini kurangnya informasi pasar.  Biji wijen banyak digunakan sebagai bahan industri minyak dan makanan.  Untuk memenuhi kebutuhan tersebut sampai saat ini Indonesia masih mengimpor biji wijen dari Vietnam, Thailand dan China serta mengimpor winyak wijen dari Cina, Singapura, Hongkong.  Tapi Indonesia juga sudah mulai mengekspor wijen ke Jepang, Hongkong, Amerika Serikat dan Turki. (Sources: Berbagai sumber media tekait, Litbang Kementan, data diolah F. Hero K. Purba). Perkembangan komoditas wijen dunia pada tahun 1993, adalah 486.000 ton. Jepang adalah importir terbesar mengambil 24% dari impor dunia. Pengimpor terbesar kedua adalah Amerika Serikat dengan 8% dari impor dunia. Hal ini diperkirakan bahwa impor biji wijen akan tumbuh antara 6 dan 8% per tahun. Australia diimpor 6400 t biji wijen pada tahun 1996 (senilai $ A12.7m), dengan China, Meksiko dan India pemasok utama. Wijen produksi benih Australia berpusat di Northern Territory dan Queensland, New South Wales dengan menunjukkan minat.Meskipun produksi telah turun dari ton 291 di 1988-1989 sampai 90 t di 1993-94, diantisipasi bahwa perbaikan dalam kultivar dan teknologi panen akan meningkatkan produksi. Potensi yang jelas untuk mengembangkan pasar untuk biji wijen Australia, baik di lokal maupun di luar negeri. Biji wijen saat ini diimpor ke Australia baik sebagai biji utuh dan produk olahan. Di Indonesia pengembangan wijen di Indonesia setiap tahun meningkat. Pada tahun 2006 areal wijen mencapai 4.788 hektar, yang tersebar di Lampung (150 ha), Jawa Tengah (1.426 ha), Yogyakarta (250 ha), Jawa Timur (1.473 ha), Nusa Tenggara Barat (1.217 ha), dan Sulawesi Selatan (272 ha). Potensi komoditas wijen ini dapat dilkembangkan lagi dengan melihat pemanfaatannya dan peluang akses pasar lokal dan Internasional.