Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memperkuat pilar ekonomi kerakyatan melalui tiga aspek utama yaitu membangun permintaan pangan yang stabil dan berkelanjutan, mempercepat perputaran ekonomi lokal, dan memperkuat kedaulatan pangan nasional. Oleh karena itu, MBG dianggap sebagai program multi-dimensi yakni bukan hanya berfokus pada gizi, tetapi memiliki dampak turunan yang luar biasa besar untuk perekonomian rakyat.Ekonomi kerakyatan merupakan sistem ekonomi yang bertumpu pada kekuatan masyarakat, terutama sektor informal yang meliputi petani, nelayan, dan UMKM. Sistem ini menekankan pemerataan, partisipasi, dan pemberdayaan. Dalam hal ini Pemerintah berupaya untuk meningkatkan status gizi anak dalam program MBG melalui investasi jangka Panjang. Program bantuan pemerintah (banper) berupa MBG ternyata tidak sekedar meningkatkan kualitas SDM anak Indonesia yang dibutuhkan dalam visi pembangunan Indonesia Emas 2045. Namun juga berdampak secara multiplier effect bagi keberlangsungan kehidupan bermasyarakat. Hal ini dikarenakan, stakeholder program MBG merupakan elemen masyarakat yang bersinggungan secara langsung dalam pelaksanaan Program. Adapun hal yang dapat diidentifikasi terkait multiplier effect program MBG yaitu:
1.
Tingkat Daya Beli Masyarakat Meningkat. Untuk Pembangunan
SPPG pada setiap Kecamatan di Indonesia, yang telah merekrut sebanyak 50
orang anggota masyarakat untuk menjadi relawan. Rata-rata masyarakat yang
direkrut adalah warga sekitar SPPG yang usianya beragam, mulai 18 hingga 50
tahun. Dengan rentang usia yang ditentukan tersebut, sangat memungkinkan warga
yang telah lama tidak bekerja menjadi dapat bekerja. Memungkinkan pula warga
yang baru selesaikan kuliah dapat langsung berkiprah terutama untuk kepala dapur,
ahli gizi dan tenaga akuntan.
2.
Upaya untuk Peningkatan Kesehatan yang lebih
Baik. Berdasarkan penerima manfaat,bagi anak sekolah, terutama yang malas
makan, akan dapat membaur dengan teman-teman sekolahnya dalam makan bersama. Siswa akan merasa senang dapat menikmati hidangan lezat yang disajikan
pemerintah melalui SPPG. Tak jarang, siswa-siswa merindukan kehadiran mobil MBG
ke halaman sekolah. Terkadang,
ada orang tua yang mengeluh bahwa anaknya susah makan, namun dengan adanya MBG di sekolah, tanpa disuruh makan biasanya anak-anak langsung
berinisiatif untuk menghabiskan hidangan. Hal ini selain membahagiakan orang
tua juga membuat kesehatan dan kekuatan tubuh tumbuh lebih sempurna. Selain
anak sekolah, ibu hamil dan menyusui dan anak-anak stunting dapat secara
langsung hadir di SPPG untuk konsultasi gizi oleh ahli gizi yang
disiapkan oleh SPPG.
3.
Upaya untuk Kebutuhan Pangan Membaik. Makan Bergizi Gratis (MBG) juga
memperkuat sistem pangan lokal karena bahan baku makanan diprioritaskan berasal
dari petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan setempat. Pola ini
tidak hanya meningkatkan distribusi pangan, tetapi juga memperbaiki akses
masyarakat terhadap pangan yang layak dan bergizi.
4. Memperbaiki Pendidikan. Upaya pemenuhan
gizi anak melalui MBG berdampak positif pada status pendidikan. Makan Bergizi
Gratism membantu anak untuk fokus lebih baik di kelas agar dapat berkonsentrasi
dalam pembelajaran, meningkatkan kehadiran di sekolah, memberikan motivasi dan semangat belajar, dan meningkatkankemampuan
belajar akademik menjadi lebih baik.
Dalam
hal pengawasan untuk pelaksanaan Program MBG yang lebih baik beberapa hal utama
yang perlu diperhatikan yaitu:
1.
Pengawasan
Lintas Sektor: Kementerian
Kesehatan dan Pemda memantau kualitas gizi, sementara TNI/Polri membantu
pengawasan harian di lapangan.
2.
Keamanan
& Higiene Pangan: BPOM
memperkuat pengawasan dengan memastikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi
(SPPG) memiliki sertifikasi keamanan pangan (SLHS/HACCP) untuk mencegah agar
tidak ada kontaminasi.
3.
Pengawasan
Anggaran dan Sistem: Inspektorat
Utama BGN mengawasi kepatuhan tata kelola anggaran agar transparan dan mencegah
penyimpangan, sesuai Pedoman Umum Sistem dan Tata Kelola BGN.
4. Pengawasan
Mutu Nutrisi: Integrasi
tenaga kesehatan untuk memeriksa standar gizi pada makanan yang
didistribusikan.
5. Pengawasan
Partisipatif: Masyarakat,
orang tua, dan guru didorong memberikan masukan terhadap kualitas Makanan (Quality
Foods), yang akan ditindaklanjuti sebagai perbaikan layanan.
6.
Evaluasi
Terhadap Program Secara Berkesinambungan
7.
Mengukur
dampak MBG yang
mencakup dampak terhadap penyerapan tenaga kerja, rantai pasok, dan
ketersediaan bahan baku, food insecurity, dan persepsi manfaat program terhadap
kesehatan dan pendidikan. Responden survei adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan
Gizi (SPPG), sekolah, dan siswa/rumah tangga penerima.
Transparansi
dan Kompleksitas program MBG yang melibatkan banyak pihak menuntut tata kelola
yang terpadu agar pelaksanaannya berjalan akuntabel dan bebas dari
penyalahgunaan. Keberhasilan Program MBG berdasarkan dukungan semua pihak secara
berkesinambungan dan evaluasi perbaikan yang lebih baik. (Sources: Data
berbagai sumber terkait, data diolah FHKP)






