Friday, November 4, 2022

Kopi Bajawa Flores dalam Potensi Ekspor

                                       

Sejarah perkopian berawal pada tahun 1696, ketika untuk kali pertama kopi berjenis Arabika. Salah satu propinsi di Indonesia yakni, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Khususnya Kabupaten Ngada dan Kab. Manggarai dan Manggarai Timur memiliki potensi wilayah yang besar dalam pengembangan agribisnis dan ketahanan pangan terutama untuk komoditi tanaman perkebunan. Kabupaten Ngada dan Kab. Manggarai serta Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur yang terdapat di Kepulauan Flores merupakan salah satu daerah yang dikunjungi pada kesempatan ini dimana Komoditi unggulan seperti Kopi Bajawa Flores dan Manggarai merupakan Kopi Specialty Indonesia serta pelaku usaha kopi yang ingin bermitra dengan pelaku usaha agribisnis kopi Indonesia khususnya dalam menjalin pengembangan pangsa ekspor Indonesia ke wilayah Asia, Eropa dan Amerika.

Unit Usaha Kopi pengolahan Hasil (UPH) di Bajawa, Kab. Ngada telah menunjukkan hasil yang signifikan dari binaan UPH oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, Kabupaten Ngada. Pada tanggal 13 Juli 2009 yang lalu Direktur Coffee Amerika Serikat, Nicholous Fullmer dengan eksportir asal Indonesia PT. Indokom Citra Persada, Asnawi melakukan kemitraan dalam pengembangan pangsa pasar ekspor kopi Bajawa Flores ke Amerika. Dengan adanya pembentukan suatu Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis untuk memproteksi dan mempromosikan suatu hak paten dari wilayah tertentu. Pata tanggal 26 Mei 2009 yang lalu telah dirancang dalam pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, Kabupaten Ngada dari 12 UPH Kopi Arabica. Adapun beberapa UPH aktif yang merupaka unggulan untuk pengembangan Kopi Arabica Bajawa Flores: UPH Wongo Wali, UPH Lobo Wutu di Wawohae, UPH Famasa di Beiwali, UPH Papataki di Langa, UPH Sukamaju di Ubedomulo. Untuk areal Kopi Arabica di Bajawa dengan luas kurang lebih 6000 Ha. Tahun 2009 yang lalu sebanyak 50 Ton Arabica Bajawa Flores di kirim ke Amerika. Dan 12 Unit UPH ini memproduksi 150 ton/ tahun. Arabica Bajawa Higland original dari Flores pada tahun 2009 dengan harga ekspor kopi yakni Rp. 26.800,/kg. Tahun 2011 harga gelondong merah (buah kopi masak dipetik dari pohon) yang dijual petani ke UPH sekitar Rp 6.000 per kg, dan kopi biji kering yang dijual ke eksportir Rp 51.000 per kg.

Kopi Bajawa yang produksinya secara keseluruhan dibuat secara tradisional dan sederhana, mulai dari pengeringan, penggilingan, hingga cara memasukkan ke dalam kemasan. Selain itu Kabupaten Manggarai Propivinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki Unit Pengolahan Hasil (UPH) salah satunya Pocoranaka merupakan UPH percontohan demikian juga UPH Wela Waso, Kelurahan Waso, Kec. Langke Lembong dan UPH Kopi Lo’o poco, desa Cumbi, Kec. Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan luas Hektaran kurang lebih 12.000 Ha. Untuk daerah Kabupaten Manggarai produksi per tahun 486 Ton dari UPH Lleda, P. Ranaka, Borong, K.Komba, Elar, S. Rampas. Indikasi Geografis (IG) untuk Kopi Bajawa akan membantu Kelompok Tani, Pelaku Usaha adalah nama suatu daerah atau kekhasan lokal tertentu, dan mencirikan suatu produk yang dihasilkan dari daerah tersebut atau kekhasan lokal tertentu.  IG dapat memberikan nilai tambah dan memberikan perlindungan terhadap hal-hal yang telah diadopsi oleh para produsen dalam hal persyaratan yang diperlukan dan pendekatan yang telah ditentukan. Mereka dapat memberikan informasi yang lebih rinci kepada para konsumen mengenai hal ihwal asal dan mutu produk (tempat, proses, pelaksanaan verifikasi, dll). Untuk pasar global sekarang ini peran Perlindungan Indikasi Geografis dirasa begitu penting, dimana masyarakat produser lokal membutuhkan perlindungan hukum terhadap nama asal produk agar tidak dipergunakan oleh pihak lain untuk melakukan persaingan curang, selain itu Indikasi Geografis memegang peranan penting dalam memberikan daya tarik kepada para konsumen nasional maupun Internasional. Mereka menjamin bahwa produk dapat dirunut asal muasalnya (traceability). Kegiatan pengembangan industri kopi dengan latar indikasi geografis sangat bermanfaat bagi kelompok tani di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai untuk mempatenkan produk suatu daerah yang nantinya juga sangat bermanfaat dalam suatu brand image suatu daerah. Petani masih membutuhkan bantuan untuk mesin pengolahan kopi dan bantuan penguatan modal. Petani juga perlu informasi untuk harga pasaran kopi domestik dan luar negeri tentunya untuk menjaga kestabilan harga dipasaran serta juga untuk lebih meningkatkan mutu kopi olahan yang dihasilkan. Diharapkan potensi pengembangan kopi daerah ini dapat dikembangkan dengan kerjasama diberbagai pihak didalam pengembangannya. Diharapkan dan dianjurkan kerjasama instasi setempat terus membina petani / kelompok tani dan memanfaatkan semaksimal mungkin demi kesejahteraan petani kopi. (Sumber: sumber terkait data Disbun NTT hasil survey lapangan, data diolah FHero Purba)

Sunday, October 2, 2022

Pengembangan dan Potensi Kopi Liberika


Kopi Liberika memang berbeda dan menambah citarasa kopi pada umumnya. Pengembangan dan potensi Kopi liberika Tungkal komposit berasal dari kopi jenis liberika yang dikembangkan pertama kali oleh Haji Sayuti di Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Sejarah Kopi Liberika adalah kopi yang berasal dari Liberia, Afrika Barat. Kopi ini dibawa oleh Belanda dari Afrika dan ditanam di Indonesia untuk menggantikan kopi jenis Arabica yang rentan terhadap serangan hama. Pohon Kopi liberika lebih besar, bisa mencapai 9 meter. Biji kopi liberika juga lebih besar, terkadang bisa dua kali ukuran dari biji arabika. Hal yang juga membuat liberika unik adalah daunnya. Pada bagian daun, ditemukan lebih banyak kafein dibandingkan pada bijinya. Kopi varietas liberika Tungkal komposit ini tergolong pada tipe pertumbuhan pohon dengan habitus tipe tinggi, diameter tajuk 3,5 – 4 m dan jika dibiarkan tumbuh melancur tinggi tanaman dapat mencapai 5 m. Keunggulan lainnya adalah varietas ini memiliki kriteria tahan – agak tahan terhadap penyakit karat daun dan terhadap serangan penggerek buah kopi. Total produksi kopi ini sebanyak 270 ton dalam setahun dengan areal tanam seluas 3000 ha, dan menjadikan Provinsi Jambi sebagai wilayah penghasil kopi jenis Liberika terbesar di Indonesia. Dari segi citarasa, hasil uji mencapai nilai kesukaan (preferensi) rata-rata 7 atau mutu citarasa bagus. Keunikan kopi Liberika dari kopi ini adalah karena ia tumbuh dan berkembang biak di dataran rendah dan lahan gambut dengan tingkat keasaman yang cukup tinggi, tidak seperti tanaman kopi pada umumnya yang tumbuh subur di dataran tinggi.

Kopi Liberika salah satu tanaman perkebunan yang cocok untuk dikembangkan pada lahan gambut. Kopi liberika dikenal sebagai kopi khas gambut karena kemampuan untuk bisa beradaptasi dengan baik ditanah gambut sementara kopi jenis lain (Arabica dan Robusta) tidak bisa tumbuh (Hulupi 2014). Berbeda dengan kopi Arabika dan kopi Robusta, kopi Liberika memiliki citarasa khas nangka, sehingga di beberapa daerah menyebut kopi ini sebagai kopi nangka. Kopi Liberika telah menjadi komoditas unggulan daerah di beberapa kabupaten seperti Tanjung Jabung Barat, Jambi dan Kepulauan Meranti, Riau. Teknologi yang perlu dipersiapkan untuk pengembangan kopi Liberika adalah; ameliorasi lahan dengan pemberian kapur dan penambahan bahan organik untuk meningkatkan kemampuan retensi hara, pemupukan lengkap untuk meningkatkan ketersediaan hara, perbaikan sistem drainase, dan pengaturan sistem tata air tanah dan tinggi permukaan air tanah harus di atas lapisan bahan sulfidik. (sumber data terkait, diolah FHKP)


Sunday, September 4, 2022

Potensi Kopi Aceh dalam Peluang Pasar Dunia

 

Pengolahan Kopi ini terbuat dari jenis kopi robusta dari dataran tinggi Gayo (Aceh Tengah) dan Lamno (Aceh Jaya), yang diracik oleh orang yang sangat berpengalaman karena kopi ini sudah turun temurun. Potensi Kopi Solong merupakan salah satu icon Kota Banda Aceh yang wajib dinikmati oleh setiap pendatang. Pengembangan budidaya tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang bermutu tinggi dan menguntungkan. Indonesia adalah pengekspor biji kopi terbesar keempat di dunia, dan Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesarnya yang mampu menghasilkan sekitar 40% biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia. Kopi Solong Ulee Kareng yang mulai dirintis sejak tahun 1959, Kopi Ulee Kareng ini menjadi salahsatu bubuk kopi lokal terkenal di Aceh. Ulee Kareng sejak tahun 1974 telah menjadi ikon makanan khas Aceh. Cita rasa khas Aceh yang dan keunikan kopi yang merupakan salah satu khas nusantara. Aceh menghasilkan sekitar 40 persen biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia. Mengenai potensi agribisnis kopi Aceh pasca tsunami, tidak bisa lepas dari berdatangannya komunitas internasional di bumi Serambi Mekkah ini.  Mayoritas para pendatang  menyukai kopi Aceh. (Wilayah Ulee Kareeng merupakan salah satu Kecamatan di Banda Aceh, Ibu Kota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ulee Kareng terkenal dengan kopi Ulee KarengnyaBiji kopi Ulee Kareng dihasilkan dari biji kopi pilihan berkualitas yang berasal dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Biji-biji kopi tersebut diproduksi oleh usaha kecil menengah. Selain hal tersebut untuk kopi bubuk Aceh Ulee Kareng ada dua macam, yaitu kopi Arabica dan jenis kopi Robusta. Kopi Arabica dan Robusta berasal dari dataran tinggi Aceh Selatan dan Gayo Luwes. Gabungan Kelompok tani kopi mulai dari petani, lembaga pemasaran yang terlibat sampai ke konsumen industri pengolahan kopi bubuk Ulee Kareng yang ada di kota Banda Aceh. Kopi solong yang berada di pojok pasar Ulee Kareng sekarang ini kembali hidup dan menjadi bagian dari denyut nadi perekonomian. Dibalik kepulan dari asap kopi solong yang aromanya yang sangat menggoda selera itu terbayang harapan hidup pencinta dan peminat kopi, tergambar pula bangkitnya ekonomi kerakyatan pembuatan pengolahan kopi secara tradisional. Dalam hal ini petani membuat pengolahan produk kopi bubuk dan harga jual sehingga didapatkan pendapatan usahataninya, pada lembaga pemasaran yang terlibat akan dihitung besarnya keuntungan dan margin pemasarannya sedangkan pada industri pengolahan kopi bubuk Ulee Kareeng akan dihitung seberapa besar nilai tambah bagi petani. Industri bubuk kopi Solong Ulee Kareng analisis nilai tambah yang dilakukan mulai dari pengadaan bahan baku berbentuk biji kopi ose sampai dengan menjadi produk bubuk kopi yang siap dipasarkan. Untuk pangsa pasar ekspor kemasan modern dan berkualitas dari kopi Ulee Kareng di kemas dengan baik. (Sumber data Litbang, data diolah Fhero13).

Thursday, August 4, 2022

Potensi Pengolahan dan Pengembangan Kopi Papua


Potensi penghasil kopi di Papua, yaitu Nabire, Dogiyai, Cartenz dan Lembah Baliem. Bentang alam pegunungan membuat pohon-pohon kopi tumbuh dengan subur di empat wilayah itu. Di Papua, kopi Arabica umumnya ditanam pada ketinggian berkisar antara 1200 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga 2000 mdpl.Pengembangan Potensi Pengolahan kopi membahas potensi dan tantangan yang dihadapi di dalam pengembangan Komoditas kopi arabika organik di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Lembah Baliem merupakan daerah tempat tinggal Suku Dani dimana Masyarakat adat yang diperkenalkan ke dunia luar sebagai petani pejuang. Mereka hidup bertani, namun gemar berperang. Kopi Baliem ini adalah kopi papua jenis arabika. Petani di wilayah utara Wamena umumnya menjual biji kopi mereka ke Koperasi Baliem Arabica yang saat Ini membayar sebesar Rp. 25.000 per kilogram untuk biji kopi yang sudah dikupas Dan dikeringkan. Petani memilih menjual ke Koperasi karena tidak mampu menanggung biaya angkut biji kopi dari kampong ke Wamena, walaupun di Wamena terdapat pembeli yang bersedia membeli hingga Rp.40.000, per kilogram Biji kopi yang belum dikupas tetapiHarus kering. Kopi yang memiliki ciri khasnya arabika, karakter rebusannya asam, agak berbeda dengan karakter rebusan kopi robusta yang lebih pahit. Tidak terlalu pahit karena memang arabika memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibanding robusta. Head of Cooperative KSU Baliem Arabica; Selion Karoba mengungkapkan, September 2012 mendatang, pihaknya akan mengekspor kopi ke Amerika 18 ton. Tahun ke tahun hasil produksi kopi di Pegunungan Tengah Papua terus meningkat, pertama kita ekspor 12 ton, kemudian 14 ton dan 16 ton, selanjutnya September 2012 ekspor ke Amerika 18 ton. Pada tahun 2001 untuk luas lahan tanaman kopi di Kabupaten Jayawijaya tercatat 3.076 hektar, yang merupakan hampir setengah (42,7 persen) dari luas total 6.208 Ha areal perkebunan kopi Provinsi Papua. Perkebunan yang keseluruhannya milik rakyat ini tersebar di Kecamatan Tiom, Bokondini, dan Asologaima.

Produksi kopi Jayawijaya yang juga diekspor ke Singapura, Jepang, dan Australia ini, besarnya 316,30 ton atau setara dengan hampir setengah produksi kopi provinsi yang besarnya 740,3 ton. Selain ke Amerika, pihaknya juga akan mengirim kopi ke sejumlah tempat seperti Freeport dan Jakarta. Mengenai harga kopi, harga kopi ditentukan dalam Rapat Umum Anggota (RUA) KSU Baliem Arabica, dimana tahun ini harga pembelian kopi dari petani Rp 6.000 per liter. “Kita sudah beberapa kali naikkan harga pembelian kopi, 2010 lalu harga kopi gabah (kopi dengan kulit kering) Rp 5.000 per liter, tahun ini harganya Rp 6.000 per liter, dan 2013 mendatang harganya kita naikkan menjadi Rp 7.000 per liter. Kualitas kopi dari Lembah Baliem tidak perlu lagi diragukan. Dalam berbagai tes uji citarasa yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri, sudah terbukti “Baliem Blue Coffee”atau disingkat “Bebecoffee”memiliki citarasa yang tinggi. Terakhir pada konfrensi Asosiasi Kopi Spesial Amerika yang diikuti oleh pelaku-pelaku kopi Spesial dari seluruh dunia, kopi dari daerah ini diikutsertakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia karena Koperasi Baliem Arabica adalah salah satu anggota organisasi itu. Berdasarkan data kopi di Kabupaten Yahukimo, Jayawijaya dan Lani Jaya cukup besar, dengan jumlah petani kopi 2010 orang dan luas lahan 1.102 ha serta kemampuan produksi 193,25 ton pertahun. Potensi produk kopi terbesar terdapat di kabupaten Jayawijaya, yaitu sebesar 138,75 ton pertahun, kemudian Lani Jaya. Pada tahun Rainforest Alliance melakukan audit terhadap Koperasi Baliem Arabika. Hal ini merupakan bagian dari program Aliansi Pembangunan Pertanian Papua (PADA) untuk pengembangan kopi di Lembah Baliem, Papua. Rainforest Alliance memiliki misi untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan menjamin mata pencaharian yang berkesinambungan dengan mengubah praktek-praktek penggunaan lahan, praktek bisnis dan perilaku konsumen. Diharapkan potensi pengolahan kopi dibeberapa daerah dapat ditingkatkan dalam meningkatkan perekonomian masyarapat petani kopi di Papua. (Sumber: data Litbang, Disbun Papua, data diolah frans hero13)

 

Thursday, July 7, 2022

Pengembangan Kopi Arabica Humbanghasundutan, Kopi Doloksanggul dalam Potensi Pasar Ekspor

 

  • Saat ini masyarakat, khususnya pecinta kopi di Indonesia dan luar negeri mulai familiar dengan kopi Dolok Sanggul. Peluang potensi Kopi di daerah Sumatera Utara yang berada di daerah khatulistiwa sangatlah cocok untuk budidaya tanaman kopi. Salah satu Kabupaten Humbang Hasundutan sudah lama menjadi sentra produsen kopi di Indonesia, bahkan sebelum mekar dari kabupaten induk Tapanuli Utara. Bangsa Indonesia terdiri atas banyak pulau sehingga membuat kopinya begitu kaya rasa dan aroma. Penggemar kopi Indonesia tidak hanya para orang tua tetapi juga disukai oleh kalangan usia muda, laki-laki maupun perempuan. Pengembangan Penanaman kopi di daerah ini dikelola oleh anggota keluarga atau sanak famili hingga proses penjualannya.Salah satu potensi Kopi di Sumatera Utara untuk pengembangan kopi yang tersebar di Kecamatan Lintongnihuta, Doloksanggul, Paranginan, Pollung dan Onan Ganjang. Kopi Lintong Dolok Sanggul ini pada umumnya ditanam pada ketinggian 1400 meter dpl. Kopi arabika Lintong Dolok Sanggul ini berasal dari onan ganjang dan catimor diproses dengan metode basah.Setelah dikeringkan, green bean Lintong Dolok Sanggul beraroma floral atau bunga-bungaan. Dry aroma dari kopi ini sewaktu di roast di city plus adalah spicy sedikit herbal dan karamel, cukup unik dibandingkan dengan kopi Lintong lainnya yang pada umumnya lebih beraroma herbal. Aroma spices dan karamel kali ini lebih intenssaat disajikan sebagai milkbased drinks dan  jika diresapi lebih dalam akan muncul aroma sarsaparilla. Diantara berbagai varian kopi dari Sumatera Utara, adalah kopi arabika Dolok Sanggul. Sesuai namanya, kopi ini berasal dari Kecamatan Dolok Sanggul, ibu kota Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Kabupaten Humbang Hasundutan sudah lama menjadi sentra produsen kopi di Indonesia, bahkan sebelum mekar dari kabupaten induk Tapanuli Utara. Jenis tanaman arabika mulai dikembangkan sejak 1970-an dan terus berkembang hingga saat ini. "Perkebunan kopi bertebaran di punggung-punggung bukit, Dolok Sanggul berada di ketinggian 900 sampai 1.400 mdpl. Kopi arabika Dolok Sanggul menggambarkan karakter kopi Sumatera yang klasik menjadi sangat fokus dan jelas dari kopi Lintong. Dimulai dengan aroma tetes tebu manis, kelapa, dan wangi cedar (sejenis cemara), lebih banyak buah dan kualitas kaya aroma karamel muncul saat diseduh. 

Thursday, June 2, 2022

Pengembangan Talas Beneng Dalam Potensi Pangan Lokal


 Pengembangan Talas Beneng besar dan koneng atau kuning (Xanthosoma undipes) merupakan jenis talas yang banyak tumbuh di wilayah Pandeglang, terutama di sekitar Kecamatan Jiput. Berdasarkan pohon industri talas memiliki 16 produk turunan seperti daun talas dapat digunakan dalam produk rokok herbal dan teh herbal, batang talas dapat digunakan unutk pakan ternak serta anyaman, umbi talas digunakan untuk olahan segar seperti pasta, talas beku, keripik dan olahan kering seperti tepung yang dapat digunakan untuk membuat mie, kue dan makanan bayi. Talas beneng tersebut diharapkan akan menjadi sumber pangan lokal yang bisa dimunculkan dari wilayah Banten. Daerah Kelurahan Juhut, Kabupaten Pandeglang tumbuh tanaman sejenis talas yang masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Talas Beneng. Talas beneng memiliki karakteristik yang berbeda dengan talas dari daerah lainnya. Talas ini tumbuh liar di lereng gunung, memiliki batang yang besar dan panjang serta pada bagian akarnya terdapat umbi-umbi kecil (kimpul) yang bergerombol. Selain kimpul, bagian utama yang dapat dimakan adalah batang. Tanaman ini memiliki umbi yang dapat mencapai berat lebih dari 30 kg dalam umur 2 tahun.

Pengolahan talas beneng dapat diolah menjadi beragam produk, seperti keripik, donat, dan bolu. Talas Beneng sebagai bahan pangan alternative beda dengan pangan lokal lainnya yang mempunyai kandungan protein sebesar 2,01%, 18,30% Karbohidrat, 15,21% pati, 83, 7 kalori, 0,73% serat kasar dan 0,27% lemak. Talas beneng memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber pangan lokal. Ukurannya yang besar dengan kadar protein yang tinggi serta warna kuning yang menarik adalah kelebihan yang dimiliki talas beneng yang menjadi ciri khas yang tidak dimiliki talas jenis lain. Kearifan pangan lokal seperti talas beneng asal Kabupaten Pandeglang ini merupakan potensial ciri khas dari suatu daerah tertentu. Seperti diketahui bahwa talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Talas termasuk dalam suku talas-talasan        (Araceae), berperawakan tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan tanaman semusim atau sepanjang tahun. Talas mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro, Old cocoyam, ‘Dash(e)en’ dan ‘Eddo (e)’. Di beberapa negara dikenal dengan nama lain, seperti: Abalong (Philipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaya), Satoimo (Jepang), Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China). Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara, menyebar ke China dalam abad pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa di jumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 meter dpl baik liar maupun ditanam. 

Produk olahan yang akan dikembangkan sebagai industri rumah tangga adalah keripik talas beneng. Talas beneng sangat potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai macam produk makanan sebagai substitusi beras dan tepung terigu. Selama ini masyarakat telah membuat keripik talas beneng, perbaikan mutu diutamakan untuk mengurangi rasa gatal pada talas atau oksalat dalam produk keripik dan pengemasan produk. Untuk mengurangi rasa gatal pada produk keripik. (Sumber: Distan Kab. Pandeglang, media terkait, data diolah hero13)

 

Monday, May 2, 2022

Optimalisasi Pangan dan Menjamin Pangan dalam Peningkatan Produk Olahan Pertanian Rakyat

 

Berdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan / Food Security and Vulnerability Atals (FSVA). “Berdasarkan data FSVA, jumlah kabupaten/kota yang rentan rawan pangan mengalami penurunan dari 76 kab/kota pada 2019 menjadi 70 Kabupaten/Kota rentan rawan pangan di tahun 2020. Perkembangan dinamika pemantapan perkembangan ketahanan pangan dilaksanakan dengan mengembangkan sumber-sumber bahan pangan, kelembagaan pangan dan budaya pangan yang dimiliki pada masyarakat masing-masing wilayah. Keunggulan dari pendekatan ini antara lain adalah bahwa bahan  pangan yang di produksi secara lokal telah sesuai dengan sumberdaya pertanian. Dengan kondisi fenomena kenaikan harga pangan, terlihat jelas bagaimana lemahnya kemampuan dalam menjaga kestabilan harga pangan bagi rakyat. Hal ini seperti mengulang berbagai langkah pemerintah yang kemudian terbukti gagal, seperti saat kenaikan dan kelangkaan daging sapi beberapa waktu lalu yang kemudian di sikapi dengan cara menambah kuota dan mempercepat import daging sapi. Akan tetapi harga daging sapi tidak pernah kembali turun ke harga normal, bahkan sampai saat ini pedagang daging masih juga mengandalkan pasokan daging lokal di bandingkan import. Fakta ini menunjukan bagaimana berbagai langkah pemerintah untuk mengontrol harga pada hakikatnya tidak akan bisa menyelesaikan masalah kenaikan harga.Negara akan kuat apabila dari sector pertaniannya kuat dan dukungan dari pemerintah yang serius dalam menanggapi segala persoalan dan mencari solusi yang tepat.

Pangan tidak terpenuhi maka akan mengancam stabilitas ekonomi suatu Negara. Teknologi pengolahan hasil pertanian harus mendorong dalam proses hilirisasi yang terkait dengan upaya peningkatan nilai tambah produk pertanian. Perlu dipahami bahwa nilai tambah produk olahan akan lebih tinggi dibandingkan dengan produk segar. Penggunaan teknologi dalam mengolah produk yang dihasilkan dapat dirancang untuk memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk syarat keamanan pangan. Integrasi yang memadai antar kegiatan dari hulu hingga hilir dalam hal produksi harus dilakukan. Upaya meyakinkan pada petani bahwa membangun integrasi hulu-hilir sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas dan nilai produk yang dihasilkan. Kebijakan yang harus diambil ke depan dalam rangka pengembangan dan aplikasi inovasi dan teknologi pertanian antara lain, pertama, kebijakan moneter dan fiskal untuk memberikan dukungan pengembangan riset dan teknologi serta pelaksanaan program penerapan teknologi bagi masyarakat. Meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Pertanian merupakan upaya dalam memenuhi persaingan pasar dengan melihat kemampuan dalam kapasitas, kualitas dan kontinuitas Keuntungan dalam Adapun hal- hal yang perlu diperhatikan dalam Pengolahan Hasil Pertanian yaitu:

   1. Peningkatan nilai tambah (Added Value)

2.          Peningkatan daya saing (Competitive Product)

3.          Meningkatkan daya simpan

4.          Diversifikasi produk (Product Diversification)

5.          Kemudahan distribusi

6.          Perluasan pasar produk (Market Product Expansion)

7.          Pemenuhan nutrisi

8.          Peningkatan keamanan produk

9.          Optimalisasi sumber daya alam (Optimalization Resources)

10.        Peningkatan struktur perekonomian 

Persaingan kompetitif harga pangan jangan menjadi imprealisme ataupun penjajahan terhadap harga. Kondisi petani saat ini yang masih serba lemah, baik penguasaan lahan, modal maupun teknologi maka diperlukan multi approach yakni pendekatan modernisasi, kemandirian dan partisipatif. Untuk maksud tersebut peran koperasi pertanian yang semakin profesional merupakan kebutuhan petani sehingga mempunyai daya saing dan kemampuan meningkatkan nilai tambah bagi petani. Pembangunan pertanian diarahkan pada pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan yang berbudaya industri, maju dan efisien ditingkatkan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi yang berguna di masyarakat. Diharapkan ke depan bahwa pengembangan sektor agribisnis lebih konkrit lagi hasilnya dan pengembangan teknologi proses dan petani pun akan semakin tahu potensi pasarnya serta dapat meningkat mutu dan kapasitas hasil olahan pertaniannya. (sources data: media terkait, data diolah F. Hero K Purba)