Monday, September 11, 2017

Pemanfaatan Cabai dalam Tantangan serta Peluang dan Pengembangan





Potensi tanaman Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak diusahakan oleh petani di dataran rendah sampai dataran tinggi.Aneka jenis cabai/Cabe yang banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia antara lain cabe keriting, cabe besar, cabe rawit, dan cabe paprika.Kenaikan harga cabe beberapa pekan terakhir, membuat pemerintah kembali mengandalkan pasokan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.Penanganan Cabe dikarenakan sulitnya masalah karena belum ada teknologi yang mampu menyimpan cabai untuk waktu yang lama.  Perkembangan fluktuasi harga komoditas Cabe yang terjadi di pasar eceran, selain disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi permintaan juga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi penawaran. Dapat dijelaskan bahwa kadang-kadang keseimbangan harga terjadi pada kondisi jumlah yang ditawarkan relatif jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang diminta. Hal inilah yang mengakibatkan harga akan sangat tinggi. Cabai (Capsicum annuum L.) merah adalah salah komoditas perdagangan, sehingga pengusahaan  ditingkat petani bersifat komersial yang dicirikan hasilnya berdasarkan permintaan pasar. Jenis cabe juga cukup bervariasi, beberapa jenis dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, rasa pedasnya dan warna buahnya. 
Berdasarkan data bahwa harga cabe di pasar domestik pada bulan Agustus 2012 turun sebesar 9 % dibandingkan bulan Juli 2012. Harga cabe di pasar domestik pada bulan Agustus 2012 naik sebesar 53 % dibandingkan bulan Agustus 2011. Harga cabe secara nasional cenderung berfluktuasi dengan koefisien keragaman harga bulan Agustus 2011 sampai dengan bulan Agustus 2012 sebesar 16 %.
Untuk disparitas harga cabe antar wilayah pada bulan Agustus 2011 sampai dengan bulan Agustus 2012 cukup tinggi dengan koefisien keragaman harga antar wilayah sebesar 33%. Konsumen pembeli Cabe saat ini banyak beralih membeli cabe impor karena harga cabe lokal masih sangat tinggi selain itu rasanya pun tak kalah pedas, dibanding cabe lokal. Banyaknya pasokan cabe impor dikeluhkan pedagang yang biasa menjual cabai lokal. Masuknya cabe impor ke dikhawatirkan di Indonesia pasaran cabe lokal dan ini sangat merugikan pedagang cabai lokal maupun para petani.
Berdasarkan survey  tahun 2011 dengan produksi cabai mencapai 1,3-1,9 juta ton/ tahun membuat Indonesia menjadi negara ke-Empat penghasil cabai terbesar di Dunia. Berikut tabel 6 besar negara penghasil cabai terbesar di Dunia. Untuk peringkat pertama dunia produksi Cabai negara China dengan jumlah produksi 13.189.303 ton/tahun, ke 2 Mexico dengan jumlah produksi 2.335.560 ton/tahun, ke 3 Turki dengan jumlah produksi 1.986.700 ton/tahun dan yang ke 4 Indonesia dengan jumlah produksi 1.332.360 ton/tahun. Produksi cabai Indonesia menempati posisi ke-empat tetap saja tidak dapat memenuhi kebutuhan cabai nasional karena produksi yang masih tergolong rendah kalah telak dari China yang mencapat lebih dari 13,18 juta ton/ tahun dan memang karena jumlah penduduk yang tinggi mengakibatkan permintaan akan cabai juga sangat besar. Dengan jumah permintaan cabai mencapau 1,12 juta ton/ tahun membuat Indonesia melakukan impor cabai segar terutama dari Vietnam.
Melonjaknya luas tanam komoditi cabai yang berdampak terjadinya over product cabai, mulai dikeluhkan oleh para petani. Dengan harga jual seperti saat ini, para petani nyaris tidak mampu menutup modal atau biaya produksi yang sudah dikeluarkannya, karena untuk melakukan usaha tani cabai, modal yang dibutuhkan cukup besar, mulai dari biaya pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk dan obat-obatan serta mulsa, biaya perawatan sampai pengendalian hama dan penyakit tanaman membutuhkan dana yang tidak sedikit. Berdasakan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,5 persen pada Mei 2015. Cabai merah menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar yakni 0,1 persen.Beberapa langkah yang dilakukan oleh para petani juga pedagang mengatasi rendahnya cabai merah belum ada solusinya karena cabai merah tidak tahan lama, kurang dari sepekan kualitas sudah berubah menunggu dua pekan membusuk paling dimanfaatkan oleh pedagang bumbu sebagai bahan cabai merah kering. Harga cabai merah sebelumnya sempat dikeluhkan oelh konsumen karena para pedagang menjual dengan harga sekitar Rp 65 ribu-Rp 70 ribu per kg bahkan sampai Rp. 100 ribu. Kenaikan harga cabai merah ketika itu disebabkan harga bahan bakar minyak (BBM) naik. (Sources data media terkait, data diolah F. Hero K. Purba). Sebagai contoh Cabe bubuk merupakan olahan lanjut dari cabe merah kering. Pada jenis olahan ini, setelah kering cabe selanjutnya mengalami proses penggilingan hingga menjadi bubuk cabe. Bubuk cabe banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industry macaroni, bihun, industry mie instant dan ikan kaleng, mie, kecap, kerupk, emping, bumbu masak, pati, dan industry pelumatan buah-buahan serta sayuran. Bubuk cabai merah dibuat dari cabai merah yang telah dikeringkan. (sumber data: data BPS, Media, data diolah F.hero K. Purba)
Pasar-pasar tradisional di Jakarta membutuhkan cabe merah setiap harinya sebanyak 75 ton, dan di pasar tradisional Bandung membutuhkan 32 ton per hari, yang semuanya berasal dari Brebes. Usahatani komoditi cabe merah pada akhirnya untuk memperoleh pendapatan dan tingkat keuntungan yang layak dari usahataninya. Kegairahan petani untuk meningkatkan kualitas produksinya akan terjadi selama harga produk berada di atas biaya produksi. Komoditi cabai merah selain harga juga menjanjikan memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, juga mempunyai nilai ekonomi tinggi. Untuk pemanfaatannya sebagai bumbu masak atau sebagai bahan baku berbagai industri makanan, minuman dan obat-obatan membuat cabai merah semakin menarik untuk diusahakan sebagai usaha agribisnis yang memiliki prospek.

Thursday, August 3, 2017

Pelestarian Alam Mangrove /Bakau Pulau Sikka Alor antara Alam Natural dibandingkan Ilmu Pengetahuan pengembangan Pahlawan Tanaman Mangrove



Pada tahun 2007 Bapak Ones telah  aktif menanam tanaman bakau di Pulau Sika, pulau yang tidak memiliki penghuni di daerah timur laut Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Pertemuan  kami  dengan Bapak Onesimus Laa (54 tahun)  dirumahnya didaerah pesisir Pantai dekat dengan Bandara Udara Mali Pulau Alor. Kami melakukan perjalannan dengan mengendarai motor ke pantai untuk  melanjutkan perjalanan  dengan menaikan kapal motor ke tengah laut dekat Pulau Sikka. Seketika itu pada sore hari Bapak Ones mematikan mesin kapal kayunya setelah lima belas menit kami didekat perairan pulau sikka dan memanggil-manggil nama “Mawar”/ Dugong  untuk datang "Datang sini, ini ada tamu datang". Mawar datanglah. Kemudian  berapa lama muncul makhluk laut yang meliukan tubuhnya mengikuti gelombang. Kulitnya tampak licin berwarna abu-abu pucat. Liuk terakhir makhluk itu memperlihatkan ekornya yang besar, berukuran sekitar satu meter. Duyung ini yang memiliki nama ilmiah Dugong dugon. Bapak Ones yang bisa disebut sebagai pawang dugong tak lantas menjadikan dugong sebagai obyek wisata. One memperlakukan dugong layaknya rekan dengan mengikuti dasar yang memikirkan keberlanjutan dugong tersebut. 

Bapak Ones pertama kali bertemu dia duyung dugong  pada tahun 2009. Pertama saya pergi dengan kapal dia ikuti saya. Pulang dari laut dia antar saya, ada sekitar empat kali," cerita One. Dengan kepercayaan bahwa Bapak Ones percaya pertemuannya dengan dugong diawali oleh niatnya yang ingin menjaga lingkungan. Pulau Sika seluas 53,683 hektar ini juga menyimpan potensi sebagai rumah bagi mangrove atau bakau. Ketika kita berjalan mengitari pulau ini akan terlihat semacam sabuk hijau di pantai. Sabuk hijau ini adalah kumpulan dari anakan mangrove yang mulai tumbuh secara rapat. Anakan mangrove yang ditanam umumnya dari jenis Rhizopora. Ekosistem mangrove ini tidak tumbuh secara alami, namun hasil dari upaya penanaman yang diinisiasi oleh para penggiat lingkungan yang ada di Kabupaten Alor. Salah satunya adalah Bapak Onesimus Laa.
Hidup didalam melestarikan alam kawasan mangrove atau bakau merupakan jidup mencintai alam. Kita dapat belajar terhadap alam dan pelestariaannya, sehingga nikmat karunia kekayaan dari alam itu bisa kita jaga dan lestarikan dari karya pemberian Tuhan dan tidak kita rusak. Apapun jenis pekerjaan kita, lakukanlah itu untuk kemulian Tuhan dan menjadi berkat bagi sesame, itulah yang dapat kita petik dalam hal ini. (Sources: data sumber lainnya, data survey lapang dan wawancara dan cerita Bapak Ones, data diolah F.HeroK. Purba)