Wednesday, December 20, 2023

Potensi dan Peluang Bisnis Kopi Arabika Kintamani Bali

 

Mengenal ciri khas asal dari Kopi Kintamani yang ditanam di ketinggian 900-1000 mdpl di dekat Gunung Batur.Untuk produktivitas kopi Arabika Kintamani tentunya terjadi perubahan dari waktu ke waktu karena beberapa faktor. Menurut sejarah yang berkembang, wilayah penanaman kopi Arabika Kintamani Bali mengalami penyusutan akibat meletusnya Gunung Batur sebanyak beberapa kali pada tahun 1917, 1948 dan 1977 serta meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963 sehingga tingkat produktivitasnya juga menurun. Sekitar tahun 1979 pada Dinas Perkebunan Provinsi Bali mulai berupaya untuk meningkatkan produktivitas serta budidaya kopi di wilayah Kintamani.

Jenis Kopi arabika yang tumbuh di kawasan wisata Kintamani, memiliki keunggulan yang diakui konsumennya mancanegara, di antaranya citarasa yang khas, tahan hama penyakit, berbuah lebat serta produktivitas tinggi. Gelondong merah dipetik secara manual dan dipilih dengan cara seksama dengan persentase gelondong merahnya 95%. Kopi gelondong merah selanjutnya diolah secara basah. Karakteristik Kopi Kintamani Bali (biji kopi dan citarasa) telah diteliti secara mendalam sejak 2003. Pada tahun 2003-2004 dan 2006 telah diambil ratusan sample yang dianalisis oleh para ahli kopi di-PPKKI (Jember) dan cirad (montpelllier, Perancis). (Sumber data: Berbagai data Perkebunan dan Infomedia, data diolah FHKP). kopi Kintamani memiliki potensi tanam pada luas wilayah 14.000 ha. Saat ini hanya dimanfaatkan sekitar 7.000 ha dan sekitar 3.000 sampai dengan 4.000 ha yang murni ditanani pohon kopi. Beberapa petani beralih ke tanaman lain seperti jeruk ataupun sayur mayur, saat harga biji kopi yang baru dipetik dengan harga relatif murah yaitu Rp, 5.000 sampai dengan Rp. 6.000 per kilogram. Namun, sebagai sebuah komoditi yang strategis. Potensi pasar ekspor kemasan modern dan berkualitas dari kopi arabika Kintamani di kemas dengan baik. (Sumber: Data Disbun, media terkait, data diolah F. Hero Purba)