Saturday, February 24, 2024

Kopi Liberika Indonesia dalam Potensi Pemasaran Ekspor

 

Potensi Budidaya Kopi Liberika memiliki potensi untuk dikembangkan baik dari segi citarasa, penunjang pariwisata, maupun pengembangan konservasi. Kopi liberica dapat memberikan rasa kopi yang khas dan banyak jasa terhadap lingkungan dengan menyerap karbon dari udara, selain juga memiliki keunggulan yaitu ketahanan terhadap hama penyakit maupun perubahan iklim. Potensi Ekspor Kopi Indonesia trendnya terus menurun sejak 2010 atau tinggal 352.007 ton pada 2011 di karenakan produksi berkurang dan harga di dalam negeri lebih mahal dibandingkan dengan  ekspor. Meskipun volume ekspor anjlok tinggal 352.007 ton, nilai ekspor jauh lebih besar dari perolehan di 2009 dan 2010. Produksi kopi Indonesia tahun 2012 diperkirakan di kisaran 600.000-an ton dari tahun lalu yang juga tidak sampai sebesar 640.000 ton seperti yang diperhitungkan awalnya. Pada tahun 2011 ekspor kopi tercatat 352.007 ton atau turun 21 persen dibandingkan tahun 2010. Dibandingkan tahun 2009, ekspor kopi tahun 2010 juga tercatat menurun 11,4 persen. Tahun 2009 menjadi puncak ekspor kopi Indonesia selama satu dekade terakhir, dengan volume 505.381 ton. Kopi Liberika merupakan kopi yang berasal dari Liberia, Afrika Barat. Kopi ini dibawa oleh Belanda dari Afrika dan ditanam di Indonesia untuk menggantikan kopi jenis Arabica yang rentan terhadap serangan hama. Kopi ini juga dikenal dengan nama “Kopi Nangka” karena aroma kopi ini mirip dengan aroma buah nangka. Untuk kualitas, Kopi Liberika adalah jenis kopi yang terbaik bila di bandingkan jenis kopi lainnya. Bahkan kualitas kopi liberika mengalahkan kualitas kopi Arabika. Hanya saja kopi jenis liberika tidak sepopuler kopi arabika karena harganya yang sedikit lebih mahal dan produksinya yang terbatas. Untuk harga, Liberika dalam bentuk Green Bean di jual dengan harga Rp 35.000/kg, sedikit lebih mahal bila dibandingkan dengan kopi arabika yang umumnya dijual dengan harga Rp.24.000-Rp.28.000/kg. (Sources: Data Media, Data Litbang, Data diolah Hero13)

Masyarakat Tanjung Jabung Barat, Khususnya Kecamatan Bram Itam, Betara, Pengabuan dan Senyerang yang merupakan daerah dataran rendah, berkebun kopi merupakan sumber pendapatan utama. Kondisi tanah gambut dengan tingkat keasaman cukup tinggi, namun tanaman kopi yang dikenal dengan nama “kopi excelsa” justru tumbuh subur. Berdasarkan pengajuan perlindungan produk yang diajukan oleh Masyarakat Perindungan Indikasi Geografis, Mentrian Pertanian Republik Indonesia menetapkan varietas kopi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan nama “kopi liberika tungkal komposit.Menurut data pada akhir tahun 2013 lalu, pemerintah Jambi mengumumkan bahwa produksi kopi Liberika sepanjang tahun 2013 berhasil mencapai angka produksi sebesar 270 ton. Dengan perolehan tersebut, Provinsi Jambi telah berhasil menempatkan namanya di tangga teratas sebagai daerah penghasil kopi Liberika terbesar di Indonesia. Kopi Liberika Tungkal Spesifik Khas Jambi  pada tahun yang sama pemerintah Provinsi Jambi juga mengenalkan kopi Liberika jenis baru. Kopi tersebut dinamakan dengan Kopi Liberika Tungkal Komposit atau disingkat menjadi Kopi Litbtukom. Jenis Kopi tersebut merupakan kopi spesifik Jambi yang mampu tumbuh di dataran rendah, meski di lahan gambut sekalipun. Kopi ini memiliki cita rsa, daun, dan buah yang berbeda dengan kopi Robusta atau Arabica. Jenis kopi Liberika ini berbeda dengan kopi Liberika asli Afrika. harga kopi Liberika memang cukup tinggi. Jika kopi Robusta dipatok mulai dari harga Rp18.000 –Rp20.000/Kg, dan kopi Arabika dengan harga Rp24.000 hingga Rp28.000/Kg, sementara kopi Liberika dibanderol di harga Rp35.000 per kilonya.