Monday, September 21, 2020

Pengembangan Peluang Budidaya Kambing dan Peluang Pasar Ekspor

 


Pengembangan ternak Kambing merupakan sebagai ternak penghasil daging yang dijadikan sebagai alternatif sumber protein hewani. Pemeliharaan ternak kambing di Indonesia merupakan salah satu upaya dalam pengembangan usaha peternakan agar dapat memenuhi kebutuhan daging dalam negeri. Pengembangan agribisnis ternak kambing maupun domba dalam keluarga petani belumlah memberi penghasilan yang baik bila faktor-faktor panca usaha ternak kambing seperti: pemilihan bibit yang baik, pemberian pakan yang memenuhi gizi dan pencegahan terhadap penyakit belum dilaksanakan secara maksimal. Adapun jenis-jenis kambing dan domba potong yaitu: 1. Kambing kacang; Cirinya adalah badannya kecil dan relatif pendek, telinga pendek dan tegak, jantan dan betina memiliki tanduk, leher pendek dan punggung meninggi, warna bulu bervariasi, ada yang hitam, coklat, merah atau belang hitam-putih. 2. Kambing Peranakan Etawah (PE); Sasaran utama dari kambing PE pada dasarnya adalah penghasil susu, tetapi dapat digunakan juga sebagai penghasil daging, terutama setelah masa afkir. Ciri dari kambing ini adalah bagian hidung ke atas melengkung, panjang telinga antara 15-30 cm, menggantung ke bawah dan sedikit kaku, warna bulu bervariasi antara hitam dan coklat, memiliki bulu tebal dan agak panjang dibawah leher dan pundak (jantan), di bagian bawah ekor (betina)3. Domba Ekor Gemuk; Memiliki ciri bentuk ekor yang panjang, tebal, besar dan semakin ke ujung makin kecil; tidak mempunyai tanduk; sebagian besar bewarna putih, tetapi ada anaknya yang bewarna hitam atau kecoklatan. 4. Domba Ekor Tipis.Memiliki ciri tubuh yang kecil, ekor relatif kecil dan tipis, bulu bewarna putih, tidak bertanduk (betina), bertanduk kecil dan melingkar (jantan). (Berbagai sumber media terkait, data diolah F. Hero K. Purba).

Berdasarkan Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah polulasi kambing di seluruh Indonesia pada tahun 2019 mencapai 18.975.955 ekor, naik lebih dari 600 ribu ekor dari 2018. Sedangkan populasi domba sebesar 17.794.344 ekor, naik sekitar 100 ribu ekor dari jumlah domba tahun 2018. Data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menyebutkan, ternak domba dipelihara oleh 929 ribu Rumah Tangga Usaha peternakan (RTUP), meningkat sebanyak 284 ribu jika dibandingkan pada 2017, sedangkan ternak kambing dipelihara oleh 3,06 juta RTUP, meningkat sebesar 0.36 juta jika dibandingkan pada 2017.

Untuk beternak kambing, merupakan salah satu usaha yang cukup menjanjikan. Pertama, karena beternak kambing tidak memerlukan lahan yang luas. Kedua, kambing memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan sehingga mudah dipelihara dan dikembangkan. Ketiga, untuk berkembang biak kambing tidak memerlukan waktu yang lama. Keempat, bahan pangan kambing tidak mahal harganya karena dapat memanfaatkan limbah pertanian. Kambing merupakan sumber protein yang bernilai gizi tinggi. Pangsa pasar kambing tergolong baik, karena kambing disamping sangat dibutuhkan masyarakat sebagai sumber pangan dan gizi serta peluang ekspornya masih terbuka.

Berdasarkan data yang diolah dari Kementerian Pertanian (2008), terungkap bahwa daerah yang populasinya paling padat dan cocok untuk mengembangkan kambing dan domba sebagai sumber bibit dan bakalan untuk komoditas :(1) Kambing secara berturut-turut adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darusallam, dan Sulawesi Selatan.(2) Domba secara berturut-turut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darusallam.Upaya pengembangan komoditas peternakan, termasuk pengembangan dan peningkatan produktivitas domba dan kambing, tidak terlepas dari visi pembangunan sektor pertanian dan misi pembangunan peternakan yang telah ditetapkan sebagai arah dalam upaya pengembangan setiap komoditas ternak. Sementara itu untuk konsumsi daging domba dan kambing di Indonesia sampai saat ini hanya mencapai 0,24 g (Data Diolah, 2010), sedangkan data konsumsi daging doka di beberapa negara maju adalah sebagai berikut Jerman 3,33 g, Rusia 3,36 g, Cina 6,39, Perancis 13,89, Inggris 16,94, Yunani 38,61, Australia 52,50 g, dan yang tertinggi adalah New Zealand yaitu 81,11 g (Anonimous, 2003). Pada 2018 Indonesia telah mulai mengekspor ternak domba ekor tipis ke Malaysia, dengan permintaan sebanyak 5.000 ekor per bulan, juga dilakukan ekspor domba Garut ke Uni Emirat Arab (UEA), dengan permintaan sebanyak 3.600 ekor per tahun.