Thursday, October 28, 2021

Potensi Kopi Liberika Tungkal Jambi dalam Peluang Usaha

  • Potensi Kopi liberika Tungkal komposit berasal dari kopi jenis liberika yang dikembangkan pertama kali oleh Haji Sayuti di Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Sejarah Kopi Liberika adalah kopi yang berasal dari Liberia, Afrika Barat. Kopi ini dibawa oleh Belanda dari Afrika dan ditanam di Indonesia untuk menggantikan kopi jenis Arabica yang rentan terhadap serangan hama. Pohon Kopi liberika lebih besar, bisa mencapai 9 meter. Biji kopi liberika juga lebih besar, terkadang bisa dua kali ukuran dari biji arabika. Hal yang juga membuat liberika unik adalah daunnya. Pada bagian daun, ditemukan lebih banyak kafein dibandingkan pada bijinya. Kopi varietas liberika Tungkal komposit ini tergolong pada tipe pertumbuhan pohon dengan habitus tipe tinggi, diameter tajuk 3,5 – 4 m dan jika dibiarkan tumbuh melancur tinggi tanaman dapat mencapai 5 m. Keunggulan lainnya adalah varietas ini memiliki kriteria tahan – agak tahan terhadap penyakit karat daun dan terhadap serangan penggerek buah kopi. Total produksi kopi ini sebanyak 270 ton dalam setahun dengan areal tanam seluas 3000 ha, dan menjadikan Provinsi Jambi sebagai wilayah penghasil kopi jenis Liberika terbesar di Indonesia. Dari segi citarasa, hasil uji mencapai nilai kesukaan (preferensi) rata-rata 7 atau mutu citarasa bagus. Keunikan kopi Liberika dari kopi ini adalah karena ia tumbuh dan berkembang biak di dataran rendah dan lahan gambut dengan tingkat keasaman yang cukup tinggi, tidak seperti tanaman kopi pada umumnya yang tumbuh subur di dataran tinggi.

    Kopi Liberika salah satu tanaman perkebunan yang cocok untuk dikembangkan pada lahan gambut. Kopi liberika dikenal sebagai kopi khas gambut karena kemampuan untuk bisa beradaptasi dengan baik ditanah gambut sementara kopi jenis lain (Arabica dan Robusta) tidak bisa tumbuh (Hulupi 2014). Berbeda dengan kopi Arabika dan kopi Robusta, kopi Liberika memiliki citarasa khas nangka, sehingga di beberapa daerah menyebut kopi ini sebagai kopi nangka. Kopi Liberika telah menjadi komoditas unggulan daerah di beberapa kabupaten seperti Tanjung Jabung Barat, Jambi dan Kepulauan Meranti, Riau. Teknologi yang perlu dipersiapkan untuk pengembangan kopi Liberika adalah; ameliorasi lahan dengan pemberian kapur dan penambahan bahan organik untuk meningkatkan kemampuan retensi hara, pemupukan lengkap untuk meningkatkan ketersediaan hara, perbaikan sistem drainase, dan pengaturan sistem tata air tanah dan tinggi permukaan air tanah harus di atas lapisan bahan sulfidik. (sumber data terkait, diolah FHKP)


    Sunday, October 3, 2021

    Peluang Usaha dan Pengolahan “Kopi Solong Ulee Kareng” Aceh

     

    Pemanfaatan potensi Kopi Solong merupakan salah satu icon Kota Banda Aceh yang wajib dinikmati oleh setiap pendatang. Pengembangan budidaya tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang bermutu tinggi dan menguntungkan. Pengolahan Kopi ini terbuat dari jenis kopi robusta dari dataran tinggi Gayo (Aceh Tengah) dan Lamno (Aceh Jaya), yang diracik oleh orang yang sangat berpengalaman karena kopi ini sudah turun temurun. Indonesia adalah pengekspor biji kopi terbesar keempat di dunia, dan Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesarnya yang mampu menghasilkan sekitar 40% biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia. Kopi Solong Ulee Kareng yang mulai dirintis sejak tahun 1959, Kopi Ulee Kareng ini menjadi salahsatu bubuk kopi lokal terkenal di Aceh. Ulee Kareng sejak tahun 1974 telah menjadi ikon makanan khas Aceh. Cita rasa khas Aceh yang dan keunikan kopi yang merupakan salah satu khas nusantara. Aceh menghasilkan sekitar 40 persen biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia. Mengenai potensi agribisnis kopi Aceh pasca tsunami, tidak bisa lepas dari berdatangannya komunitas internasional di bumi Serambi Mekkah ini.  Mayoritas para pendatang  menyukai kopi Aceh. (Wilayah Ulee Kareeng merupakan salah satu Kecamatan di Banda Aceh, Ibu Kota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ulee Kareng terkenal dengan kopi Ulee KarengnyaBiji kopi Ulee Kareng dihasilkan dari biji kopi pilihan berkualitas yang berasal dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Biji-biji kopi tersebut diproduksi oleh usaha kecil menengah. Selain hal tersebut untuk kopi bubuk Aceh Ulee Kareng ada dua macam, yaitu kopi Arabica dan jenis kopi Robusta.

    Kopi Arabica dan Robusta berasal dari dataran tinggi Aceh Selatan dan Gayo Luwes. Gabungan Kelompok tani kopi mulai dari petani, lembaga pemasaran yang terlibat sampai ke konsumen industri pengolahan kopi bubuk Ulee Kareng yang ada di kota Banda Aceh. Kopi solong yang berada di pojok pasar Ulee Kareng sekarang ini kembali hidup dan menjadi bagian dari denyut nadi perekonomian. Dibalik kepulan dari asap kopi solong yang aromanya yang sangat menggoda selera itu terbayang harapan hidup pencinta dan peminat kopi, tergambar pula bangkitnya ekonomi kerakyatan pembuatan pengolahan kopi secara tradisional. Dalam hal ini petani membuat pengolahan produk kopi bubuk dan harga jual sehingga didapatkan pendapatan usahataninya, pada lembaga pemasaran yang terlibat akan dihitung besarnya keuntungan dan margin pemasarannya sedangkan pada industri pengolahan kopi bubuk Ulee Kareeng akan dihitung seberapa besar nilai tambah bagi petani. Industri bubuk kopi Solong Ulee Kareng analisis nilai tambah yang dilakukan mulai dari pengadaan bahan baku berbentuk biji kopi ose sampai dengan menjadi produk bubuk kopi yang siap dipasarkan. Untuk pangsa pasar ekspor kemasan modern dan berkualitas dari kopi Ulee Kareng di kemas dengan baik. (Sumber data Litbang, data diolah Fhero13).