Tuesday, December 6, 2022

Strategi Diversifikasi Pangan Membangun Kekuatan Ketahanan Pangan

 

Fakta dan kondisi tersebut, upaya pencapaian ketahanan pangan tidak bisa hanya mengandalkan upaya peningkatan produksi. Diperlukan rencana aksi strategis untuk usaha pencapaian ketahanan pangan. Indonesia memiliki banyak varian konsumsi pokok seperti singkong, talas, jagung, sagu dan lain sebagainya. Diversifikasi pangan memang merupakan salah satu prasyaratan pokok dalam konsumsi pangan yang cukup mutu dan gizinya. Diversifikasi pangan untuk aneka olahan dari Produk pertanian akan berjalan efektif apabila industri makanan dan minuman Indonesia telah mapan untuk mengolah ratusan jenis pangan bermutu tinggi yang dapat di produksi negeri ini. Upaya diversifikasi pangan sebagai salah satu solusi mencukupi kebutuhan pangan pun terus dilakukan oleh pemerintah dengan program pengembangan diversfikasi olahan produk seperti pengembangan produk umbi-umbian sebagai pengganti beras sebagai makanan pokok, pengembangan produk olahan. Menurut UU No.7 tahun 1996, Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Program untuk diversifikasi konsumsi pangan telah ada sejak dahulu, namun dalam perjalanannya menghadapi berbagai kendala baik dalam konsep maupun pelaksanaannya. Beberapa kelemahan diversifikasi konsumsi pangan masa lalu adalah (1) Distorsi konsep ke aplikasi, diversifikasi konsumsi pangan bias pada aspek produksi penyediaan; (2) Penyempitan arti, diversifikasi konsumsi pangan bias pada pangan pokok dan energi politik untuk komoditas beras sangat dominan; (3) Koordinasi kurang optimum, tidak ada lembaga yang menangani secara khusus dan berkelanjutan; (4) Kebijakan antara satu departemen dengan departemen lainnya kontra produktif terhadap perwujudan diversifikasi konsumsi pangan; (5) Kebijakan yang sentralistik dan penyeragaman, mengabaikan aspek budaya dan potensi pangan lokal; (6) Riset diversifikasi konsumsi pangan masih lemah, bias pada beras, terpusat di Jawa-Bali, pada on-farm, dana hanya dari pemerintah pusat (7) Ketiadaan alat ukur keberhasilan program, program bersifat partial tidak berkelanjutan dan tidak memiliki target kuantitatif yang disepakati bersama; (8) Kurangnya kemitraan dengan swasta/industri dan LSM; (9) Ketidakseimbangan perbandingan antara biaya pengembangan dan harga produk altematif dengan beras, (Ariani dan Ashari, 2003; Martianto, 2005, Krisnamurthi, 2003).                  
Masalah peningkatan produksi pangan di dalam negeri ini sudah sering diserukan banyak pihak sejak beberapa tahun ini. Faktanya, hingga saat ini pemerintah selalu mengambil jalan pintas membuka keran impor untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Jika kita sadari awal pemerintah serius membenahi sektor produksi pertanian, Indonesia tak perlu terlalu tergantung pada impor pangan seperti sekarang ini.Di sisi lain, ancaman krisis pangan di Indonesia makin terlihat nyata seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan tidak adanya kebijakan pangan yang kuat. Selain itu, maraknya alih fungsi lahan-lahan pertanian menjadi peruntukan selain pertanian, juga menambah semrawutnya masalah. Klaim pemerintah untuk menjaga tanah pertanian yang subur hanya untuk pangan dan dijamin tidak ada konversi ke penggunaan lainnya hingga kini realisasinya masih dipertanyakan publik.

Kebijakan diversifikasi pangan menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan serapan produk dalam negeri oleh masyarakat. Selain itu, kegiatan riil berupa pameran juga bisa membuka cakrawala pengetahuan terhadap produk dalam negeri. Jika kita analisa bahwa Diversifikasi pangan dari aspek konsumsi mencakup perilaku yang didasari pertimbangan ekonomis / pendapatan dan harga komoditas dan nonekonomis (selera, kebiasaan dan pengetahuan). Diversifikasi pangan dan pola konsumsi ini secara dinamis mengalami perubahan. Jadi, diversifikasi pangan selain merupakan upaya mengurangi ketergantungan pada beras, juga penganekaragaman dari beras ke sumber kalori dan protein lainnya yang lebih berkualitas. Untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia semakin membaik yang ditunjukkan dengan pangsa pengeluaran pangan yang semakin kecil. Konsumsi pangan baik protein masyarakat sudah melebihi dari yang dianjurkan, sebaliknya untuk konsumsi protein. Dalam hal ini bagaimana mengoptimalkan diversifikasi pangan dalam perspektif ketahanan nasional guna meningkatkan ketahanan pangan dalam rangka kemandirian bangsa. (Berbagai sumber media terkait, artikel pangan, data diolah F. Hero K. Purba)

 

Friday, November 4, 2022

Kopi Bajawa Flores dalam Potensi Ekspor

                                       

Sejarah perkopian berawal pada tahun 1696, ketika untuk kali pertama kopi berjenis Arabika. Salah satu propinsi di Indonesia yakni, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Khususnya Kabupaten Ngada dan Kab. Manggarai dan Manggarai Timur memiliki potensi wilayah yang besar dalam pengembangan agribisnis dan ketahanan pangan terutama untuk komoditi tanaman perkebunan. Kabupaten Ngada dan Kab. Manggarai serta Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur yang terdapat di Kepulauan Flores merupakan salah satu daerah yang dikunjungi pada kesempatan ini dimana Komoditi unggulan seperti Kopi Bajawa Flores dan Manggarai merupakan Kopi Specialty Indonesia serta pelaku usaha kopi yang ingin bermitra dengan pelaku usaha agribisnis kopi Indonesia khususnya dalam menjalin pengembangan pangsa ekspor Indonesia ke wilayah Asia, Eropa dan Amerika.

Unit Usaha Kopi pengolahan Hasil (UPH) di Bajawa, Kab. Ngada telah menunjukkan hasil yang signifikan dari binaan UPH oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, Kabupaten Ngada. Pada tanggal 13 Juli 2009 yang lalu Direktur Coffee Amerika Serikat, Nicholous Fullmer dengan eksportir asal Indonesia PT. Indokom Citra Persada, Asnawi melakukan kemitraan dalam pengembangan pangsa pasar ekspor kopi Bajawa Flores ke Amerika. Dengan adanya pembentukan suatu Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis untuk memproteksi dan mempromosikan suatu hak paten dari wilayah tertentu. Pata tanggal 26 Mei 2009 yang lalu telah dirancang dalam pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, Kabupaten Ngada dari 12 UPH Kopi Arabica. Adapun beberapa UPH aktif yang merupaka unggulan untuk pengembangan Kopi Arabica Bajawa Flores: UPH Wongo Wali, UPH Lobo Wutu di Wawohae, UPH Famasa di Beiwali, UPH Papataki di Langa, UPH Sukamaju di Ubedomulo. Untuk areal Kopi Arabica di Bajawa dengan luas kurang lebih 6000 Ha. Tahun 2009 yang lalu sebanyak 50 Ton Arabica Bajawa Flores di kirim ke Amerika. Dan 12 Unit UPH ini memproduksi 150 ton/ tahun. Arabica Bajawa Higland original dari Flores pada tahun 2009 dengan harga ekspor kopi yakni Rp. 26.800,/kg. Tahun 2011 harga gelondong merah (buah kopi masak dipetik dari pohon) yang dijual petani ke UPH sekitar Rp 6.000 per kg, dan kopi biji kering yang dijual ke eksportir Rp 51.000 per kg.

Kopi Bajawa yang produksinya secara keseluruhan dibuat secara tradisional dan sederhana, mulai dari pengeringan, penggilingan, hingga cara memasukkan ke dalam kemasan. Selain itu Kabupaten Manggarai Propivinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki Unit Pengolahan Hasil (UPH) salah satunya Pocoranaka merupakan UPH percontohan demikian juga UPH Wela Waso, Kelurahan Waso, Kec. Langke Lembong dan UPH Kopi Lo’o poco, desa Cumbi, Kec. Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan luas Hektaran kurang lebih 12.000 Ha. Untuk daerah Kabupaten Manggarai produksi per tahun 486 Ton dari UPH Lleda, P. Ranaka, Borong, K.Komba, Elar, S. Rampas. Indikasi Geografis (IG) untuk Kopi Bajawa akan membantu Kelompok Tani, Pelaku Usaha adalah nama suatu daerah atau kekhasan lokal tertentu, dan mencirikan suatu produk yang dihasilkan dari daerah tersebut atau kekhasan lokal tertentu.  IG dapat memberikan nilai tambah dan memberikan perlindungan terhadap hal-hal yang telah diadopsi oleh para produsen dalam hal persyaratan yang diperlukan dan pendekatan yang telah ditentukan. Mereka dapat memberikan informasi yang lebih rinci kepada para konsumen mengenai hal ihwal asal dan mutu produk (tempat, proses, pelaksanaan verifikasi, dll). Untuk pasar global sekarang ini peran Perlindungan Indikasi Geografis dirasa begitu penting, dimana masyarakat produser lokal membutuhkan perlindungan hukum terhadap nama asal produk agar tidak dipergunakan oleh pihak lain untuk melakukan persaingan curang, selain itu Indikasi Geografis memegang peranan penting dalam memberikan daya tarik kepada para konsumen nasional maupun Internasional. Mereka menjamin bahwa produk dapat dirunut asal muasalnya (traceability). Kegiatan pengembangan industri kopi dengan latar indikasi geografis sangat bermanfaat bagi kelompok tani di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai untuk mempatenkan produk suatu daerah yang nantinya juga sangat bermanfaat dalam suatu brand image suatu daerah. Petani masih membutuhkan bantuan untuk mesin pengolahan kopi dan bantuan penguatan modal. Petani juga perlu informasi untuk harga pasaran kopi domestik dan luar negeri tentunya untuk menjaga kestabilan harga dipasaran serta juga untuk lebih meningkatkan mutu kopi olahan yang dihasilkan. Diharapkan potensi pengembangan kopi daerah ini dapat dikembangkan dengan kerjasama diberbagai pihak didalam pengembangannya. Diharapkan dan dianjurkan kerjasama instasi setempat terus membina petani / kelompok tani dan memanfaatkan semaksimal mungkin demi kesejahteraan petani kopi. (Sumber: sumber terkait data Disbun NTT hasil survey lapangan, data diolah FHero Purba)

Sunday, October 2, 2022

Pengembangan dan Potensi Kopi Liberika


Kopi Liberika memang berbeda dan menambah citarasa kopi pada umumnya. Pengembangan dan potensi Kopi liberika Tungkal komposit berasal dari kopi jenis liberika yang dikembangkan pertama kali oleh Haji Sayuti di Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Sejarah Kopi Liberika adalah kopi yang berasal dari Liberia, Afrika Barat. Kopi ini dibawa oleh Belanda dari Afrika dan ditanam di Indonesia untuk menggantikan kopi jenis Arabica yang rentan terhadap serangan hama. Pohon Kopi liberika lebih besar, bisa mencapai 9 meter. Biji kopi liberika juga lebih besar, terkadang bisa dua kali ukuran dari biji arabika. Hal yang juga membuat liberika unik adalah daunnya. Pada bagian daun, ditemukan lebih banyak kafein dibandingkan pada bijinya. Kopi varietas liberika Tungkal komposit ini tergolong pada tipe pertumbuhan pohon dengan habitus tipe tinggi, diameter tajuk 3,5 – 4 m dan jika dibiarkan tumbuh melancur tinggi tanaman dapat mencapai 5 m. Keunggulan lainnya adalah varietas ini memiliki kriteria tahan – agak tahan terhadap penyakit karat daun dan terhadap serangan penggerek buah kopi. Total produksi kopi ini sebanyak 270 ton dalam setahun dengan areal tanam seluas 3000 ha, dan menjadikan Provinsi Jambi sebagai wilayah penghasil kopi jenis Liberika terbesar di Indonesia. Dari segi citarasa, hasil uji mencapai nilai kesukaan (preferensi) rata-rata 7 atau mutu citarasa bagus. Keunikan kopi Liberika dari kopi ini adalah karena ia tumbuh dan berkembang biak di dataran rendah dan lahan gambut dengan tingkat keasaman yang cukup tinggi, tidak seperti tanaman kopi pada umumnya yang tumbuh subur di dataran tinggi.

Kopi Liberika salah satu tanaman perkebunan yang cocok untuk dikembangkan pada lahan gambut. Kopi liberika dikenal sebagai kopi khas gambut karena kemampuan untuk bisa beradaptasi dengan baik ditanah gambut sementara kopi jenis lain (Arabica dan Robusta) tidak bisa tumbuh (Hulupi 2014). Berbeda dengan kopi Arabika dan kopi Robusta, kopi Liberika memiliki citarasa khas nangka, sehingga di beberapa daerah menyebut kopi ini sebagai kopi nangka. Kopi Liberika telah menjadi komoditas unggulan daerah di beberapa kabupaten seperti Tanjung Jabung Barat, Jambi dan Kepulauan Meranti, Riau. Teknologi yang perlu dipersiapkan untuk pengembangan kopi Liberika adalah; ameliorasi lahan dengan pemberian kapur dan penambahan bahan organik untuk meningkatkan kemampuan retensi hara, pemupukan lengkap untuk meningkatkan ketersediaan hara, perbaikan sistem drainase, dan pengaturan sistem tata air tanah dan tinggi permukaan air tanah harus di atas lapisan bahan sulfidik. (sumber data terkait, diolah FHKP)


Sunday, September 4, 2022

Potensi Kopi Aceh dalam Peluang Pasar Dunia

 

Pengolahan Kopi ini terbuat dari jenis kopi robusta dari dataran tinggi Gayo (Aceh Tengah) dan Lamno (Aceh Jaya), yang diracik oleh orang yang sangat berpengalaman karena kopi ini sudah turun temurun. Potensi Kopi Solong merupakan salah satu icon Kota Banda Aceh yang wajib dinikmati oleh setiap pendatang. Pengembangan budidaya tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang bermutu tinggi dan menguntungkan. Indonesia adalah pengekspor biji kopi terbesar keempat di dunia, dan Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesarnya yang mampu menghasilkan sekitar 40% biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia. Kopi Solong Ulee Kareng yang mulai dirintis sejak tahun 1959, Kopi Ulee Kareng ini menjadi salahsatu bubuk kopi lokal terkenal di Aceh. Ulee Kareng sejak tahun 1974 telah menjadi ikon makanan khas Aceh. Cita rasa khas Aceh yang dan keunikan kopi yang merupakan salah satu khas nusantara. Aceh menghasilkan sekitar 40 persen biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia. Mengenai potensi agribisnis kopi Aceh pasca tsunami, tidak bisa lepas dari berdatangannya komunitas internasional di bumi Serambi Mekkah ini.  Mayoritas para pendatang  menyukai kopi Aceh. (Wilayah Ulee Kareeng merupakan salah satu Kecamatan di Banda Aceh, Ibu Kota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ulee Kareng terkenal dengan kopi Ulee KarengnyaBiji kopi Ulee Kareng dihasilkan dari biji kopi pilihan berkualitas yang berasal dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Biji-biji kopi tersebut diproduksi oleh usaha kecil menengah. Selain hal tersebut untuk kopi bubuk Aceh Ulee Kareng ada dua macam, yaitu kopi Arabica dan jenis kopi Robusta. Kopi Arabica dan Robusta berasal dari dataran tinggi Aceh Selatan dan Gayo Luwes. Gabungan Kelompok tani kopi mulai dari petani, lembaga pemasaran yang terlibat sampai ke konsumen industri pengolahan kopi bubuk Ulee Kareng yang ada di kota Banda Aceh. Kopi solong yang berada di pojok pasar Ulee Kareng sekarang ini kembali hidup dan menjadi bagian dari denyut nadi perekonomian. Dibalik kepulan dari asap kopi solong yang aromanya yang sangat menggoda selera itu terbayang harapan hidup pencinta dan peminat kopi, tergambar pula bangkitnya ekonomi kerakyatan pembuatan pengolahan kopi secara tradisional. Dalam hal ini petani membuat pengolahan produk kopi bubuk dan harga jual sehingga didapatkan pendapatan usahataninya, pada lembaga pemasaran yang terlibat akan dihitung besarnya keuntungan dan margin pemasarannya sedangkan pada industri pengolahan kopi bubuk Ulee Kareeng akan dihitung seberapa besar nilai tambah bagi petani. Industri bubuk kopi Solong Ulee Kareng analisis nilai tambah yang dilakukan mulai dari pengadaan bahan baku berbentuk biji kopi ose sampai dengan menjadi produk bubuk kopi yang siap dipasarkan. Untuk pangsa pasar ekspor kemasan modern dan berkualitas dari kopi Ulee Kareng di kemas dengan baik. (Sumber data Litbang, data diolah Fhero13).

Thursday, August 4, 2022

Potensi Pengolahan dan Pengembangan Kopi Papua


Potensi penghasil kopi di Papua, yaitu Nabire, Dogiyai, Cartenz dan Lembah Baliem. Bentang alam pegunungan membuat pohon-pohon kopi tumbuh dengan subur di empat wilayah itu. Di Papua, kopi Arabica umumnya ditanam pada ketinggian berkisar antara 1200 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga 2000 mdpl.Pengembangan Potensi Pengolahan kopi membahas potensi dan tantangan yang dihadapi di dalam pengembangan Komoditas kopi arabika organik di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Lembah Baliem merupakan daerah tempat tinggal Suku Dani dimana Masyarakat adat yang diperkenalkan ke dunia luar sebagai petani pejuang. Mereka hidup bertani, namun gemar berperang. Kopi Baliem ini adalah kopi papua jenis arabika. Petani di wilayah utara Wamena umumnya menjual biji kopi mereka ke Koperasi Baliem Arabica yang saat Ini membayar sebesar Rp. 25.000 per kilogram untuk biji kopi yang sudah dikupas Dan dikeringkan. Petani memilih menjual ke Koperasi karena tidak mampu menanggung biaya angkut biji kopi dari kampong ke Wamena, walaupun di Wamena terdapat pembeli yang bersedia membeli hingga Rp.40.000, per kilogram Biji kopi yang belum dikupas tetapiHarus kering. Kopi yang memiliki ciri khasnya arabika, karakter rebusannya asam, agak berbeda dengan karakter rebusan kopi robusta yang lebih pahit. Tidak terlalu pahit karena memang arabika memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibanding robusta. Head of Cooperative KSU Baliem Arabica; Selion Karoba mengungkapkan, September 2012 mendatang, pihaknya akan mengekspor kopi ke Amerika 18 ton. Tahun ke tahun hasil produksi kopi di Pegunungan Tengah Papua terus meningkat, pertama kita ekspor 12 ton, kemudian 14 ton dan 16 ton, selanjutnya September 2012 ekspor ke Amerika 18 ton. Pada tahun 2001 untuk luas lahan tanaman kopi di Kabupaten Jayawijaya tercatat 3.076 hektar, yang merupakan hampir setengah (42,7 persen) dari luas total 6.208 Ha areal perkebunan kopi Provinsi Papua. Perkebunan yang keseluruhannya milik rakyat ini tersebar di Kecamatan Tiom, Bokondini, dan Asologaima.

Produksi kopi Jayawijaya yang juga diekspor ke Singapura, Jepang, dan Australia ini, besarnya 316,30 ton atau setara dengan hampir setengah produksi kopi provinsi yang besarnya 740,3 ton. Selain ke Amerika, pihaknya juga akan mengirim kopi ke sejumlah tempat seperti Freeport dan Jakarta. Mengenai harga kopi, harga kopi ditentukan dalam Rapat Umum Anggota (RUA) KSU Baliem Arabica, dimana tahun ini harga pembelian kopi dari petani Rp 6.000 per liter. “Kita sudah beberapa kali naikkan harga pembelian kopi, 2010 lalu harga kopi gabah (kopi dengan kulit kering) Rp 5.000 per liter, tahun ini harganya Rp 6.000 per liter, dan 2013 mendatang harganya kita naikkan menjadi Rp 7.000 per liter. Kualitas kopi dari Lembah Baliem tidak perlu lagi diragukan. Dalam berbagai tes uji citarasa yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri, sudah terbukti “Baliem Blue Coffee”atau disingkat “Bebecoffee”memiliki citarasa yang tinggi. Terakhir pada konfrensi Asosiasi Kopi Spesial Amerika yang diikuti oleh pelaku-pelaku kopi Spesial dari seluruh dunia, kopi dari daerah ini diikutsertakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia karena Koperasi Baliem Arabica adalah salah satu anggota organisasi itu. Berdasarkan data kopi di Kabupaten Yahukimo, Jayawijaya dan Lani Jaya cukup besar, dengan jumlah petani kopi 2010 orang dan luas lahan 1.102 ha serta kemampuan produksi 193,25 ton pertahun. Potensi produk kopi terbesar terdapat di kabupaten Jayawijaya, yaitu sebesar 138,75 ton pertahun, kemudian Lani Jaya. Pada tahun Rainforest Alliance melakukan audit terhadap Koperasi Baliem Arabika. Hal ini merupakan bagian dari program Aliansi Pembangunan Pertanian Papua (PADA) untuk pengembangan kopi di Lembah Baliem, Papua. Rainforest Alliance memiliki misi untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan menjamin mata pencaharian yang berkesinambungan dengan mengubah praktek-praktek penggunaan lahan, praktek bisnis dan perilaku konsumen. Diharapkan potensi pengolahan kopi dibeberapa daerah dapat ditingkatkan dalam meningkatkan perekonomian masyarapat petani kopi di Papua. (Sumber: data Litbang, Disbun Papua, data diolah frans hero13)

 

Thursday, July 7, 2022

Pengembangan Kopi Arabica Humbanghasundutan, Kopi Doloksanggul dalam Potensi Pasar Ekspor

 

  • Saat ini masyarakat, khususnya pecinta kopi di Indonesia dan luar negeri mulai familiar dengan kopi Dolok Sanggul. Peluang potensi Kopi di daerah Sumatera Utara yang berada di daerah khatulistiwa sangatlah cocok untuk budidaya tanaman kopi. Salah satu Kabupaten Humbang Hasundutan sudah lama menjadi sentra produsen kopi di Indonesia, bahkan sebelum mekar dari kabupaten induk Tapanuli Utara. Bangsa Indonesia terdiri atas banyak pulau sehingga membuat kopinya begitu kaya rasa dan aroma. Penggemar kopi Indonesia tidak hanya para orang tua tetapi juga disukai oleh kalangan usia muda, laki-laki maupun perempuan. Pengembangan Penanaman kopi di daerah ini dikelola oleh anggota keluarga atau sanak famili hingga proses penjualannya.Salah satu potensi Kopi di Sumatera Utara untuk pengembangan kopi yang tersebar di Kecamatan Lintongnihuta, Doloksanggul, Paranginan, Pollung dan Onan Ganjang. Kopi Lintong Dolok Sanggul ini pada umumnya ditanam pada ketinggian 1400 meter dpl. Kopi arabika Lintong Dolok Sanggul ini berasal dari onan ganjang dan catimor diproses dengan metode basah.Setelah dikeringkan, green bean Lintong Dolok Sanggul beraroma floral atau bunga-bungaan. Dry aroma dari kopi ini sewaktu di roast di city plus adalah spicy sedikit herbal dan karamel, cukup unik dibandingkan dengan kopi Lintong lainnya yang pada umumnya lebih beraroma herbal. Aroma spices dan karamel kali ini lebih intenssaat disajikan sebagai milkbased drinks dan  jika diresapi lebih dalam akan muncul aroma sarsaparilla. Diantara berbagai varian kopi dari Sumatera Utara, adalah kopi arabika Dolok Sanggul. Sesuai namanya, kopi ini berasal dari Kecamatan Dolok Sanggul, ibu kota Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Kabupaten Humbang Hasundutan sudah lama menjadi sentra produsen kopi di Indonesia, bahkan sebelum mekar dari kabupaten induk Tapanuli Utara. Jenis tanaman arabika mulai dikembangkan sejak 1970-an dan terus berkembang hingga saat ini. "Perkebunan kopi bertebaran di punggung-punggung bukit, Dolok Sanggul berada di ketinggian 900 sampai 1.400 mdpl. Kopi arabika Dolok Sanggul menggambarkan karakter kopi Sumatera yang klasik menjadi sangat fokus dan jelas dari kopi Lintong. Dimulai dengan aroma tetes tebu manis, kelapa, dan wangi cedar (sejenis cemara), lebih banyak buah dan kualitas kaya aroma karamel muncul saat diseduh. 

Thursday, June 2, 2022

Pengembangan Talas Beneng Dalam Potensi Pangan Lokal


 Pengembangan Talas Beneng besar dan koneng atau kuning (Xanthosoma undipes) merupakan jenis talas yang banyak tumbuh di wilayah Pandeglang, terutama di sekitar Kecamatan Jiput. Berdasarkan pohon industri talas memiliki 16 produk turunan seperti daun talas dapat digunakan dalam produk rokok herbal dan teh herbal, batang talas dapat digunakan unutk pakan ternak serta anyaman, umbi talas digunakan untuk olahan segar seperti pasta, talas beku, keripik dan olahan kering seperti tepung yang dapat digunakan untuk membuat mie, kue dan makanan bayi. Talas beneng tersebut diharapkan akan menjadi sumber pangan lokal yang bisa dimunculkan dari wilayah Banten. Daerah Kelurahan Juhut, Kabupaten Pandeglang tumbuh tanaman sejenis talas yang masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Talas Beneng. Talas beneng memiliki karakteristik yang berbeda dengan talas dari daerah lainnya. Talas ini tumbuh liar di lereng gunung, memiliki batang yang besar dan panjang serta pada bagian akarnya terdapat umbi-umbi kecil (kimpul) yang bergerombol. Selain kimpul, bagian utama yang dapat dimakan adalah batang. Tanaman ini memiliki umbi yang dapat mencapai berat lebih dari 30 kg dalam umur 2 tahun.

Pengolahan talas beneng dapat diolah menjadi beragam produk, seperti keripik, donat, dan bolu. Talas Beneng sebagai bahan pangan alternative beda dengan pangan lokal lainnya yang mempunyai kandungan protein sebesar 2,01%, 18,30% Karbohidrat, 15,21% pati, 83, 7 kalori, 0,73% serat kasar dan 0,27% lemak. Talas beneng memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber pangan lokal. Ukurannya yang besar dengan kadar protein yang tinggi serta warna kuning yang menarik adalah kelebihan yang dimiliki talas beneng yang menjadi ciri khas yang tidak dimiliki talas jenis lain. Kearifan pangan lokal seperti talas beneng asal Kabupaten Pandeglang ini merupakan potensial ciri khas dari suatu daerah tertentu. Seperti diketahui bahwa talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Talas termasuk dalam suku talas-talasan        (Araceae), berperawakan tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan tanaman semusim atau sepanjang tahun. Talas mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro, Old cocoyam, ‘Dash(e)en’ dan ‘Eddo (e)’. Di beberapa negara dikenal dengan nama lain, seperti: Abalong (Philipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaya), Satoimo (Jepang), Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China). Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara, menyebar ke China dalam abad pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa di jumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 meter dpl baik liar maupun ditanam. 

Produk olahan yang akan dikembangkan sebagai industri rumah tangga adalah keripik talas beneng. Talas beneng sangat potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai macam produk makanan sebagai substitusi beras dan tepung terigu. Selama ini masyarakat telah membuat keripik talas beneng, perbaikan mutu diutamakan untuk mengurangi rasa gatal pada talas atau oksalat dalam produk keripik dan pengemasan produk. Untuk mengurangi rasa gatal pada produk keripik. (Sumber: Distan Kab. Pandeglang, media terkait, data diolah hero13)

 

Monday, May 2, 2022

Optimalisasi Pangan dan Menjamin Pangan dalam Peningkatan Produk Olahan Pertanian Rakyat

 

Berdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan / Food Security and Vulnerability Atals (FSVA). “Berdasarkan data FSVA, jumlah kabupaten/kota yang rentan rawan pangan mengalami penurunan dari 76 kab/kota pada 2019 menjadi 70 Kabupaten/Kota rentan rawan pangan di tahun 2020. Perkembangan dinamika pemantapan perkembangan ketahanan pangan dilaksanakan dengan mengembangkan sumber-sumber bahan pangan, kelembagaan pangan dan budaya pangan yang dimiliki pada masyarakat masing-masing wilayah. Keunggulan dari pendekatan ini antara lain adalah bahwa bahan  pangan yang di produksi secara lokal telah sesuai dengan sumberdaya pertanian. Dengan kondisi fenomena kenaikan harga pangan, terlihat jelas bagaimana lemahnya kemampuan dalam menjaga kestabilan harga pangan bagi rakyat. Hal ini seperti mengulang berbagai langkah pemerintah yang kemudian terbukti gagal, seperti saat kenaikan dan kelangkaan daging sapi beberapa waktu lalu yang kemudian di sikapi dengan cara menambah kuota dan mempercepat import daging sapi. Akan tetapi harga daging sapi tidak pernah kembali turun ke harga normal, bahkan sampai saat ini pedagang daging masih juga mengandalkan pasokan daging lokal di bandingkan import. Fakta ini menunjukan bagaimana berbagai langkah pemerintah untuk mengontrol harga pada hakikatnya tidak akan bisa menyelesaikan masalah kenaikan harga.Negara akan kuat apabila dari sector pertaniannya kuat dan dukungan dari pemerintah yang serius dalam menanggapi segala persoalan dan mencari solusi yang tepat.

Pangan tidak terpenuhi maka akan mengancam stabilitas ekonomi suatu Negara. Teknologi pengolahan hasil pertanian harus mendorong dalam proses hilirisasi yang terkait dengan upaya peningkatan nilai tambah produk pertanian. Perlu dipahami bahwa nilai tambah produk olahan akan lebih tinggi dibandingkan dengan produk segar. Penggunaan teknologi dalam mengolah produk yang dihasilkan dapat dirancang untuk memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk syarat keamanan pangan. Integrasi yang memadai antar kegiatan dari hulu hingga hilir dalam hal produksi harus dilakukan. Upaya meyakinkan pada petani bahwa membangun integrasi hulu-hilir sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas dan nilai produk yang dihasilkan. Kebijakan yang harus diambil ke depan dalam rangka pengembangan dan aplikasi inovasi dan teknologi pertanian antara lain, pertama, kebijakan moneter dan fiskal untuk memberikan dukungan pengembangan riset dan teknologi serta pelaksanaan program penerapan teknologi bagi masyarakat. Meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Pertanian merupakan upaya dalam memenuhi persaingan pasar dengan melihat kemampuan dalam kapasitas, kualitas dan kontinuitas Keuntungan dalam Adapun hal- hal yang perlu diperhatikan dalam Pengolahan Hasil Pertanian yaitu:

   1. Peningkatan nilai tambah (Added Value)

2.          Peningkatan daya saing (Competitive Product)

3.          Meningkatkan daya simpan

4.          Diversifikasi produk (Product Diversification)

5.          Kemudahan distribusi

6.          Perluasan pasar produk (Market Product Expansion)

7.          Pemenuhan nutrisi

8.          Peningkatan keamanan produk

9.          Optimalisasi sumber daya alam (Optimalization Resources)

10.        Peningkatan struktur perekonomian 

Persaingan kompetitif harga pangan jangan menjadi imprealisme ataupun penjajahan terhadap harga. Kondisi petani saat ini yang masih serba lemah, baik penguasaan lahan, modal maupun teknologi maka diperlukan multi approach yakni pendekatan modernisasi, kemandirian dan partisipatif. Untuk maksud tersebut peran koperasi pertanian yang semakin profesional merupakan kebutuhan petani sehingga mempunyai daya saing dan kemampuan meningkatkan nilai tambah bagi petani. Pembangunan pertanian diarahkan pada pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan yang berbudaya industri, maju dan efisien ditingkatkan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi yang berguna di masyarakat. Diharapkan ke depan bahwa pengembangan sektor agribisnis lebih konkrit lagi hasilnya dan pengembangan teknologi proses dan petani pun akan semakin tahu potensi pasarnya serta dapat meningkat mutu dan kapasitas hasil olahan pertaniannya. (sources data: media terkait, data diolah F. Hero K Purba)

Monday, April 25, 2022

Potensi Singkong /Cassava dalam Pemanfaatan Peluang Program Ekonomi Rakyat

Indonesia sentra produksi singkong tersebar di 13 provinsi. Lima besar provinsi penghasil singkong ada Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DI Yogyakarta. Data Ditjen Tanaman Pangan, luas areal penanaman singkong tahun 2019 sebesar 628.305 ha dan produksi sebanyak 16,35 juta ton. Program pengembangan tahun 2020 seluas 11.175 ha. 
Indonesia merupakan negara yang melimpah sumber daya alamnya, yang masih luas lahan–lahan yang tidak produktif, menunggu sentuhan program yang nyata, khususnya pembangunan ekonomi yang pro rakyat. Mengingatkan kita akan lagunya Koes Plus, “kata orang tanah kita tanah surga, tongkat kayu pun menjadi tanaman”. Tanaman singkong tumbuh subur di Negara Kita. Dengan kata lain, stok singkong di negeri ini melimpah ruah. Kita merasa terkejut, ternyata negeri ini malah mengimpor singkong dari Cina, Vietnam hingga Italia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Januari hingga Juni 2011, Indonesia mengimpor ubi kayu dengan total 4,73 ton dengan nilai 21,9 ribu dolar AS. Negara Italia merupakan negara dengan nilai terbesar yaitu 20,64 ribu dolar AS dengan berat 1,78 ton. Sedangkan Cina merupakan negara pensupply ubi kayu impor terbesar yaitu 2,96 ton dengan nilai 1.273 dolar AS. Data BPS pada bulan April dan Mei 2012, sebanyak 5.057 ton singkong asal China dengan nilai US$ 1,3 juta masuk ke Tanah Air. Pada Mei impor singkong (manihot utilissima) dilakukan dari negara Vietnam. Sebanyak 1.342 ton singkong dengan nilai US$ 340 ribu masuk ke Indonesia. Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan, Nigeria menjadi negara produsen singkong terbesar di dunia. Nigeria mampu menghasilkan singkong mencapai 60 juta ton pada 2020. Republik Kongo menempati urutan kedua sebagai produsen singkong terbesar kedua dunia dengan kapasitas produksi sebanyak 41,01 juta ton. Thailand dan Ghana di urutan berikutnya dengan produksi singkong masing-masing sebanyak 28,9 juta ton dan 21,8 juta ton. Indonesia menempati urutan kelima sebagai produsen singkong terbesar di dunia. Indonesia tercatat mampu memproduksi singkong sebanyak 18,3 juta singkong pada 2020.

Budidaya singkong relatif mudah dan banyak dilakukan oleh para petani, karena tanaman singkong dapat tumbuh disemua tipe tanah (dataran tinggi, dataran rendah) dan tanaman singkong tidak banyak penyakitnya. Untuk komoditi Singkong dan produk-produk berbahan baku singkong sangat dikenal masyarakat luas dan telah menghidupi keluarga petani dalam jumlah besar. Singkong sebagai bahan baku pangan non beras dan non gandum adalah salah satu komoditas penting pendukung diversifikasi pangan. Adapun manfaat dan khasiat singkong singkong juga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit  yaitu: 1. Meningkatkan Stamina; Untuk meningkatkan stamina, campurkan 100 gram singkong, 5 butir angco (sejenis kurma Tiongkok), dan air. Untuk menghindari rasa pahit, tambahkan sedikit madu.2. Demam.;Rebus 60 gram batang singkong dan 300 gram daun singkong dengan 800 cc air. Biarkan rebusan menyusut sampai 400 cc, saring dan minum. Untuk hasil maksimal, harus meminumnya dua kali sehari. 3. Luka; Singkong juga dapat digunakan untuk mengobati luka yang telah memasuki tahap infeksi. Caranya: Tumbuk batang singkong yang masih segar, lalu boreh di daerah yang luka. Boleh juga dibalut lagi dengan perban. Untuk luka yang disebabkan oleh benda panas, singkong dapat diparut dan diperas. Kemudian olesi di daerah luka. Lakukan hingga luka mengering. 4. Sakit Kepala.;Minum obat sakit kepala terlalu banyak juga tidak baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, sebaiknya coba cara alami dengan menumbuk daun singkong sampai halus, lalu menaruhnya di atas kepala untuk kompres.5. Diare.;Untuk mengobati diare atau sakit perut, coba deh gunakan daun singkong. Caranya dengan merebus tujuh lembar daun singkong, dengan 800 cc air, biarkan hingga menyusut 400 cc, saring dan minum.;6. Rematik.; Untuk mengobati rematik, pengobatan dengan singkong bisa dari dalam maupun luar. Pada pemakaian luar, gunakan daun singkong lima lembar ditambah 15 gram jahe. Lalu aduk dan oleskan pada tubuh. Untuk pengobatan dari dalam, gunakan 100 gram batang singkong, serai, garam, jahe 15 gram. Semua bahan tersebut direbus dengan 1000cc air hingga menjadi 400 cc, saring. Minum sebanyak 200cc sekali dalam sehari. Lakukan selama dua hari. 7. Beri-beri.;Beruntung bagi mereka yang gemar menyantap daun singkong, karena akan terhindar dari penyakit ini. Namun, bagi yang sudah terkena penyakit beri-beri, harus mengonsumsi 200 gram daun singkong rebus seperti sayuran segar. (Berbagai sumber media terkait, dan peluang usaha, majalah kesehatan, wikipedia, data diolah F. Hero K. Purba).Dalam pengembangan agroindustri untuk ditingkat petani perlu adanya Klastering Agroindustri Singkong. Manfaat singkong dalam diversifikasi pangan dimana mulai dari raw material singkong segar dapat dibuat menjadi produk olahan langsung dan produk awetan. Produk olahan langsung terdiri dari produk olahan kering (misalnya keripik singkong dan kerupuk singkong) dan produk olahan semi basah (contohnya tape, getuk dan makanan tradisional lainnya). Untuk produk awetan olahan singkong dapat dijadikan produk tapioka dan turunanya, gaplek dengan produk turunannya (antara lain tiwul, nasi rasi (beras singkong), serta tepung singkong sebagai bahan baku untuk tiwul instan dan juga berbagai aneka kue. Nilai ekonomi dari agroindustri singkong dan suatu produk di era kreatif tidak lagi ditentukan oleh bahan baku atau sistem produksi seperti pada era industri, tetapi inovasi terhadap poroduk dan pengembangaanya. Diharapkan singkong dapat lebih baik lagi di kembangkan dan tidak menjadi barang impor dan pengembangan dalam negeri lebih aktif dikembangkan dan dilestarikan untuk pangan rakyat.

Wednesday, April 6, 2022

Peluang dan Tantangan Komoditas Jagung Pengembangan Pangan

Berdasarkan data prognosa Kementan dan BPS, luas panen jagung nasional Januari-Desember 2021 seluas 4,15 juta hektar, produksi bersihnya sebesar 15,79 juta ton dengan kadar air 14 persen. Luas tanam jagung nasional Oktober 2019 -September 2020 mencapai 5,5 juta hektar (ha). Luas panen jagung nasional Januari- Desember 2020 mencapai 5,16 juta ha.Ketersediaan produksi jagung November 2018 sebesar 1,51 juta ton dengan luas panen 282.381 hektare, sementara Desember 1,53 juta ton dengan luas panen 285.993 hektare. Produksi ini tersebar di sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontolo, Lampung, dan provinsi lainnya.  Mensukseskan swasembada pangan, dimana gema swasembada pangan untuk Padi Jagung dan Kedelai, salah satu komoditasnya yaitu jagung, realisasi target dan pencapaian yang perlu dipertimbangkan. Pemenuhan untuk kebutuhan jagung yang mengandalkan impor akan berisiko menghambat indutri peternakan dan pakan dalam negeri. Sebab sebagian besar produksi jagung dikonsumsi oleh negara produsennya.Dalam hal ini produktivitas jagung yang merupakan memang sangat dipengaruhi faktor benih, tanah, irigasi, pemupukan, pengendalian hama, hingga panen dan pascapanen. Selain itu faktor alam, kondisi geografis, dan agroklimat juga sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Hal-hal yang bisa dilakukan pemerintah adalah menjalankan kebijakan untuk menunjang peningkatan produktivitas pangan di Indonesia baik benih, pupuk, infrastruktur, termasuk irigasi, hingga permodalan dan jaminan pasar bagi produk pangan. Indonesia harusmeningkatkan prioritas peningkatan produksi jagung. Komoditas jagung yang diperdagangkan di pasar dunia sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, kemudian diikuti China, Fiji, Brazil, Mexico dan Argentina. Namun tidak semua negara produsen jagung menjadi negara pengekspor. Pemerintah memutuskan untuk mengimpor jagung sebanyak 2,4 juta ton untuk kebutuhan pakan ternak pada 2016. Impor itu akan direalisasikan secara bertahap sebanyak 200 ribu ton setiap bulan. Impor tahun depan hanya mencapai 30% dari total kebutuhan jagung nasional yang mencapai 8,6 juta ton per tahun atau sekitar 665 ribu ton per bulan. Di Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Berdasarkan urutan bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ke 3 setelah gandum dan padi. Negara pesaing utama Indonesia dalam merebut pasar ekspor adalah adalah Amerika Serikat dan Argentina. Impor jagung bahkan mencapai 182 ribu ton atau US$ 53,7 juta. Selama Januari-September, total impor tercatat sebesar 2 juta ton atau US$ 578,1 juta.Asal dari jagung impor tersebut berbeda-beda. Brasil merupakan negara terbesar dalam memasok jagung. Tercatat di bulan September volume impor mencapai 40.080 ton atau US$ 11,6 juta.Kemudian adalah Argentina dengan 34.039 ton atau US$ 10,7 juta, India 36.470 ton atau US$ 11,2 juta, Thailand 82 ton atau US$ 171 ribu dan negara lainnya sebesar 229 ton atau US$ 163 ribu.Menurut data bahwa harga jagung berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Juli 2012 tampak mengalami kenaikan sebesar 4 sen dan ditutup pada posisi 5.98 dolar per bushel. Sedangkan harga jagung berjangka untuk kontrak pengiriman bulan September tampak mengalami peningkatan 8 sen dan ditutup pada posisi 5.51 dolar per bushel. Untuk produksi jagung terbesar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa yakni Jawa Timur, Jawa Tengah masing-masing lima juta ton per tahun, setelah itu menyusul beberapa daerah di Sumatra antara lain Medan dan Lampung, sehingga produksi jagung Indonesia mencapai 16 juta ton per tahun.Di Indonesia daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung di Indonesia adalah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Khususnya di Daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya. Di Indonesia pada tahun 2004 produksinya baru 11,225 juta ton, pada 2005 meningkat menjadi 12,52 juta ton. Dan prediksi untuk tahun 2006 diperkirakan 12,13 Juta ton.

Berbagai studi telah dilakukan oleh para ahli untuk komoditas jagung berdasarkan beberapa permasalahan dengan mengkaji kesesuaian sebaran sentra produksi jagung, pabrik pakan, dan populasi ternak di Indonesia; menganalisis kebutuhan pakan pabrikan untuk ternak; Menganalisis kebutuhan jagung untuk pakan pabrikan; serta menyusunalternatif kebijakan dalam upaya memenuhi kebutuhan jagung untuk pakan. Untuk mewujudkan suatu sistem pertanian yang terpadu, bahwa perlunya peningkatan produksi jagung untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan apabila memungkinkan dengan kapasitas produksi yang besar dapat membuka jaringan pasar ekspor Internasional. Apabila dilihat dari kondisi lahan, iklim serta kapasitas produksinya Indonesia cukup mampu didalam peningkatan agribisnis jagung untuk memenuhi permintaan daripada konsumen domestik dan Internasional. Dalam hal ini bagaimana sttrategi dan pelaksanaan pertanian yang digalakkan dengan integritas dan pemanfaatan lahan serta budidaya dan pertumbuhannya. Menurut survey dan pencatatan USDA, Departemen Pertanian, USA tahun 2005 stoknya masih 122,6 juta ton. Namun, sampai Oktober 2006 yang lalu tinggal 88,1 juta ton.

Menurut data analisa bahwa produksi jagung dalam negeri memang belum mampu mencukupi kebutuhan bahan baku industri pakan ternak, untuk itulah dengan berbagai upaya dalam memenuhi permintaan konsumen agribisnis jagung ini, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan swasembada jagung pada 2007, dengan target produksi 15 juta ton dikarenakan kebutuhan konsumsi dan industri pakan ternak yang melonjak. Diharapkan dalam pencanangan swasembada agribisnis jagung 2007 dapat berjalan dengan baik sesuai dengan mutu bibit tanaman jagung yang berkualitas didalam pengembangannya. Dimana dengan terbatasnya persediaan jagung dunia untuk ekspor dan meningkatnya permintaan etanol baik di Amerika, China dan berbagai negara berpotensi menciptakan ekspektasi kenaikan harga jagung di pasar dunia untuk beberapa tahun ke depan, Indonesia diharapkan dapat mampu menangkap peluang pasar ini menjadi salah satu acuan untuk mencari celah pasar kebutuhan konsumen di pasar dunia. (Berbagai sumber terkait, vizbiz, data usda, etc, data diolah F. Hero K Purba)

Perkiraan ketersediaan produksi jagung November 2018 sebesar 1,51 juta ton dengan luas panen 282.381 hektare, sementara Desember 1,53 juta ton dengan luas panen 285.993 hektare. Produksi ini tersebar di sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontolo, Lampung, dan provinsi lainnya. Panen jagung nasional berlangsung hingga akhir 2021, diperkirakan luas panen September ini 299.059 hektar, Oktober 230.157 hektar, November 207.264 hektar dan Desember seluas 197.265 hektar dengan produksi masing-masing 1,21 juta ton, 916.759 ton, 1 juta ton dan 881.787 ton.

 


Thursday, March 3, 2022

Peluang dan Tantangan Komoditi Kedelai untuk memenuhi Kebutuhan Pangan

 

Harga kedelai di pasar global tembus US$15,77 per bushels atau Rp220.780 per bushels pada pekan kedua Februari 2022. Angka itu melonjak 18,9 persen dibandingkan dengan pekan pertama Januari 2022. Produksi kedelai petani kita rata-rata 1,3 ton per hektare lahan, atau relatif lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat yang produktivitasnya 2,7 ton per hektare. Untuk harga kedelai di tingkat importir saat ini mencapai Rp 7.300-Rp 7.600 per kilogram (kg) yang kemudian dijual oleh para distributor seharga Rp 7.800 per kg kepada industri-industri pengrajin tahu tempe yang mengkonsumsi sekitar 84 persen dari kebutuhan kedelai nasional.Kenaikan harga kacang kedelai yang sudah satu bulan lebih itu bermula dari tingginya jumlah permintaan pasar dibanding pasokan dari petaninya sendiri.Sejak perkembangan nilai tukar rupiah melemah, dimana harga kacang kedelai impor naik cukup tinggi. Produksi kedelai di Indonesia pernah mencapai puncaknya pada tahun 1992 (1,87juta ton). Namun setelah itu, produksi terus mengalami penurunan hingga hanya 0,672 juta ton pada tahun 2003. Artinya, dalam 11 tahun produksi kedelai merosot mencapai 64 persen. Sebaliknya, konsumsi kedelai cenderung meningkat sehingga impor kedelai juga mengalami peningkatan mencapai 1,307 juta ton pada tahun 2004.Sekarang, harga kacang kedelai per kilogram mencapai Rp. 9.000. Untuk memenuhi kebutuhan impor kedelai sampai akhir tahun diperkirakan 400.000-500.000 ton. Setiap tahun kebutuhan kedelai nasional 2,5 juta-2,7 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri 700.000 - 800.000 ton.Berdasarkan data kebutuhan kedelai Indonesia mencapai 2,4-2,6 juta ton sementara produksi lokal hanya mencapai 700-800 ribu ton. Impor yang dibutuhkan sekitar 1,8 juta ton. Perkembangan harga kedele tahun 2012 yakni  Rp 6.700 per kilogram, sementara di tingkat konsumen Rp 7.000-Rp 7.050 per kilogram. Sementara sebelumnya, harga kedelai sempat menyentuh level Rp 8.300 per kilogram pada Juni-September 2012. Harga kedelai terendah di dalam negeri sempat terjadi 5 bulan lalu, di harga Rp 5.600 per kg. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Menurut data dari TradeMap (2012), impor kedelai telah meningkat secara akselerasi sebesar 85% selama 10 tahun terakhir. Misalnya, pada 2001, impor biji kedelai tercatat 1,14 juta ton, tetapi pada tahun 2011, impor biji kedelai bisa tembus menjadi 2,09 juta ton.  Sejak tahun 2000, kondisi tersebut semakin parah, dimana impor kedelai semakin besar. Kenyataannya kita tidak merasa percaya sebagai negara agraris yang mengandalkan pertanian sebagai tumpuan kehidupan bagi sebagian besar penduduknya tetapi pengimpor pangan yang cukup besar.

Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2011, produksi kedelai lokal hanya 851.286 ton atau 29 persen dari total kebutuhan. Karena itu, Indonesia harus mengimpor kedelai 2.087.986 ton untuk memenuhi 71 persen kebutuhan kedelai dalam negeri. Pada tahun 2012, total kebutuhan kedelai nasional 2,2 juta ton. Jumlah tersebut akan diserap untuk pangan atau perajin 83,7 persen, industri kecap, tauco, dan lainnya 14,7 persen, benih 1,2 persen, dan untuk pakan 0,4 persen. Anomali cuaca yang melanda Amerika Serikat dan Amerika Selatan, pasokan kedelai pun turun dan harganya melonjak. Harga kedelai internasional pada minggu ke-3 Juli 2012 mencapai 622 dollar AS per ton atau Rp 8.345 per kilogram untuk harga paritas impornya di dalam negeri. Untuk impor kedelai terbesar Indonesia berasal dari Amerika Serikat dengan jumlah 1.847.900 ton pada tahun 2011. Menyusul impor dari Malaysia 120.074 ton, Argentina 73.037 ton, Uruguay 16.825 ton, dan Brasil 13.550 ton.Tempe yang merupakan makanan khas tradisional Indonesia bisa dikelompokkan dalam kategori pangan fungsional yang mempunyai manfaat kesehatan di luar kandungan gizinya.  Selain lecithin yang merupakan unsur gizi, kedelai juga mengandung genistein (senyawa nongizi) yang bersifat antikanker. Untuk itu perlu pengembangan kedelai untuk produksi nasional, konsumsi kedelai penduduk Indonesia seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk serta berkembangnya industri pangan olahan yang berbahan baku kedelai tidak diimbangi dengan produksi dalam negeri yang mencukupi sehingga impor kedelai terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri(Sumber: data media terkait, BPS, data diolah F. Hero K. P).