Monday, July 13, 2015

Strategi Akses Pemasaran Potensi Pengolahan dan Pengembangan Kopi Papua





Pengembangan Potensi Pengolahan kopi membahas potensi dan tantangan yang dihadapi di dalam pengembangan Komoditas kopi arabika organik di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Lembah Baliem merupakan daerah tempat tinggal Suku Dani dimana Masyarakat adat yang diperkenalkan ke dunia luar sebagai petani pejuang. Mereka hidup bertani, namun gemar berperang. Kopi Baliem ini adalah kopi papua jenis arabika. Petani di wilayah utara Wamena umumnya menjual biji kopi mereka ke Koperasi Baliem Arabica yang saat Ini membayar sebesar Rp. 25.000 per kilogram untuk biji kopi yang sudah dikupas Dan dikeringkan. Petani memilih menjual ke Koperasi karena tidak mampu menanggung biaya angkut biji kopi dari kampong ke Wamena, walaupun di Wamena terdapat pembeli yang bersedia membeli hingga Rp.40.000, per kilogram Biji kopi yang belum dikupas tetapiHarus kering. Kopi yang memiliki ciri khasnya arabika, karakter rebusannya asam, agak berbeda dengan karakter rebusan kopi robusta yang lebih pahit. Tidak terlalu pahit karena memang arabika memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibanding robusta. Head of Cooperative KSU Baliem Arabica; Selion Karoba mengungkapkan, September 2012 mendatang, pihaknya akan mengekspor kopi ke Amerika 18 ton. Tahun ke tahun hasil produksi kopi di Pegunungan Tengah Papua terus meningkat, pertama kita ekspor 12 ton, kemudian 14 ton dan 16 ton, selanjutnya September 2012 ekspor ke Amerika 18 ton. Pada tahun 2001 untuk luas lahan tanaman kopi di Kabupaten Jayawijaya tercatat 3.076 hektar, yang merupakan hampir setengah (42,7 persen) dari luas total 6.208 Ha areal perkebunan kopi Provinsi Papua. Perkebunan yang keseluruhannya milik rakyat ini tersebar di Kecamatan Tiom, Bokondini, dan Asologaima.
Produksi kopi Jayawijaya yang juga diekspor ke Singapura, Jepang, dan Australia ini, besarnya 316,30 ton atau setara dengan hampir setengah produksi kopi provinsi yang besarnya 740,3 ton. Selain ke Amerika, pihaknya juga akan mengirim kopi ke sejumlah tempat seperti Freeport dan Jakarta. Mengenai harga kopi, harga kopi ditentukan dalam Rapat Umum Anggota (RUA) KSU Baliem Arabica, dimana tahun ini harga pembelian kopi dari petani Rp 6.000 per liter. “Kita sudah beberapa kali naikkan harga pembelian kopi, 2010 lalu harga kopi gabah (kopi dengan kulit kering) Rp 5.000 per liter, tahun ini harganya Rp 6.000 per liter, dan 2013 mendatang harganya kita naikkan menjadi Rp 7.000 per liter. Kualitas kopi dari Lembah Baliem tidak perlu lagi diragukan. Dalam berbagai tes uji citarasa yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri, sudah terbukti “Baliem Blue Coffee”atau disingkat “Bebecoffee”memiliki citarasa yang tinggi. Terakhir pada konfrensi Asosiasi Kopi Spesial Amerika yang diikuti oleh pelaku-pelaku kopi Spesial dari seluruh dunia, kopi dari daerah ini diikutsertakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia karena Koperasi Baliem Arabica adalah salah satu anggota organisasi itu. Berdasarkan data kopi di Kabupaten Yahukimo, Jayawijaya dan Lani Jaya cukup besar, dengan jumlah petani kopi 2010 orang dan luas lahan 1.102 ha serta kemampuan produksi 193,25 ton pertahun. Potensi produk kopi terbesar terdapat di kabupaten Jayawijaya, yaitu sebesar 138,75 ton pertahun, kemudian Lani Jaya. Pada tahun Rainforest Alliance melakukan audit terhadap Koperasi Baliem Arabika. Hal ini merupakan bagian dari program Aliansi Pembangunan Pertanian Papua (PADA) untuk pengembangan kopi di Lembah Baliem, Papua. Rainforest Alliance memiliki misi untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan menjamin mata pencaharian yang berkesinambungan dengan mengubah praktek-praktek penggunaan lahan, praktek bisnis dan perilaku konsumen. Diharapkan potensi pengolahan kopi dibeberapa daerah dapat ditingkatkan dalam meningkatkan perekonomian masyarapat petani kopi di Papua. (Sumber: data Litbang, Disbun Papua, data diolah frans hero13)

No comments: