Tuesday, October 11, 2011

Ekspor Karet Indonesia dalam permintaan Pasar Internasional


Menurut data SICOM (Singapore Commodity Exchange ) harga karet berjangka untuk penyerahan September 2011 ditutup pada level harga Usc468 per kg dari harga sebelumnya Usc476 per kg. Untuk Tokyo Commodity Exchange (TOCOM) harga Karet berjangka RSS3 ditutup melemah. Harga Karet berjangka untuk penyerahan Agustus 2011 ditutup pada level harga ¥351,2 per kilogram dari harga sebelumnya ¥354,3 per kilogram.Untuk nilai ekspor karet alam pada 2010 mencapai US$7.32 miliar. Asia Pasifik merupakan konsumen karet terkemuka, 56 persen dari kebutuhan karet dunia pada tahun 2008. Selain itu, daerah akan posting pertumbuhan terkuat permintaan karet sampai 2013, meskipun fakta bahwa pasar karet penting Jepang diharapkan dapat melihat penurunan karena penurunan tingkat produksi kendaraan bermotor di negara ini setelah kinerja cukup kuat di tahun 2008. Amerika Utara dan Eropa Barat akan terus melihat bawah standar keuntungan relatif terhadap rata-rata global, meskipun kedua daerah akan melihat peningkatan dari penurunan dari periode tahun 2003 sampai 2008. Non-ban permintaan karet akan melebihi permintaan ban karet sampai 2013. Permintaan produk karet non-ban akan mendapatkan keuntungan dari naiknya tingkat industrialisasi di negara-negara berkembang.

Untuk kebutuhan karet domestik hanya 460.000 ton, naik 4.78% dibandingkan de-ngan kebutuhan karet lokal pada tahun lalu 439.000 ton. Total produksi karet dunia pada tahun ini diperkirakan mencapai 10,97 juta ton naik dibandingkan dengan tahun lalu 10,22 juta ton. Thailand menjadi negara produsen karet terbesar diperkirakan mencapai 3,47 juta ton pada tahun ini disusul Indonesia. Sedangkan Malaysia menempati posisi ketiga sebanyak 1,10 juta ton, India 893.000 ton, Vietnam 780.000 ton dan China 679.000 ton. Dengan kondisi cuaca yang anomali menjadi pengaruh yang besar terhadap produksi karet. Pada saat ini kan seharusnya sudah berakhir masa gugur daun dan di wilayah selatan garis khatulistiwa seharusnya sudah mulai musim kemarau. Ini menghambat kenaikan produksi. Anomali iklim dapat mengakibatkan penurunan produksi karet , pada sekitar 3%-4% dari perkiraan awal produksi karet 2011 sebanyak 3,45 juta ton.

Menurut data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), untuk tahun 2011 produksi karet alam dunia diasumsikan hanya berkisar 10,970 juta ton sementara untuk konsumsi diperkirakan mencapai 11,151 juta ton sehingga terjadi kekurangan pasokan atau minus sekitar 181.000 ton. Kurangnya produk karet alam dunia di tahun 2011 salah satunya di karenakan terganggunya produksi karet di beberapa negara seperti Australia, hujan deras yang disebabkan oleh lamina yang juga menyebabkan banjir di negara tersebut telah mengganggu proses penyadapan karet. Kemudian di Thailand asosiasi natural rubber producing countries di Thailand memperkirakan produk karet alam pada musim dingin yang berlangsung mulai Febuari-Mei berdampak pada menurunnya produk karet hingga 50 persen. Dengan adanya asumsi tersebut, dipastikan Indonesia berpeluang besar untuk memasok karet alam hasil produk Indonesia ke luar negeri/ekspor dan tentunya dengan catatan untuk produk karet Indonesia agar lebih ditingkatkan.(Berbagai data sumber terkait, data diolah F. Hero K. Purba)

Friday, October 7, 2011

Krisis Ekonomi Dunia dan Antisipasinya dalam Perekonomian Global


Kekhawatiran pasar terhadap posisi fiskal Italia dan Spanyol telah membuat Bank Sentral Eropa akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah darurat dan mulai meningkatkan program pembelian asetnya dengan membeli obligasi pemerintah Italia dan Spanyol. kondisi perekonomian global kembali terlihat memasuki cuaca buruk. Awal Agustus suatu lembaga rating terkemuka, Standard & Poor (S&P), menurunkan rating Amerika Serikat (AS) dari AAA ke AA+. Ini adalah suatu pukulan telak, mengingat rating puncak AAA telah dipegang AS sejak 1941. Krisis fiskal dan prospek ekonomi yang negatif adalah argumen S&P untuk melakukan downgrade atas status kredit AS.

Di Eropa permasalahan krisis fiskal bahkan lebih parah. Secara teknis, sebenarnya Yunani telah bangkrut dan sepenuhnya tergantung pada bantuan dana dari International Monetary Fund (IMF) dan Uni Eropa. Bantuan dana juga diberikan kepada Portugal dan Irlandia yang tengah mendekati kondisi bangkrut. Kalangan analis memperkirakan, Spanyol dan Italia segera menyusul.

Kejatuhan posisi fiskal negara-negara di Eropa dan AS akan menimbulkan kerugian (capital loss) bagi banyak lembaga keuangan besar dunia. Dengan posisi modal yang belum pulih dari krisis global lalu, hal itu akan kian memperburuk fungsi intermediasi. Kerugian juga akan dialami sektor riil yang akan menurunkan keyakinan (optimisme) bisnis.

Indonesia tentu tidak dapat menghindar dari perkembangan ekonomi global yang negatif itu. Dampak perkembangan ekonomi global akan terjadi melalui jalur perdagangan, keuangan, dan psikologis. Daya tahan yang tinggi seperti ketika menghadapi krisis global pada 2008-2009 dapat saja terjadi, mengingat kontribusi sektor perdagangan hanya sebesar 10%-15% terhadap pembentukan output nasional. Kendati demikian, dampak tak langsung terhadap konsumsi dan investasi (yang mencakup 70% kontribusi output nasional) melalui jalur keuangan dan psikologis lebih penting untuk diperhatikan.

Berdasarkan hasil proyeksi Bank Dunia, harga CPO pada 2012 akan menurun berada di bawah USD1.000 per ton. Harga minyak mentah dunia juga cenderung turun, di mana harga minyak WTI kini berada di bawah USD90 per barel.Beruntung minyak mentah kita sebagian besar di ekspor ke pasar Asia, yang masih memperoleh harga yang relatif lebih tinggi. Penurunan harga ini hampir terjadi pada seluruh komoditas primer yang diekspor Indonesia.

Dengan penurunan harga-harga ini terutama dipengaruhi oleh ekspektasi akan menurunnya demand atas berbagai komoditas primer akibat melemahnya ekspektasi pertumbuhan ekonomi global dan tingginya risiko perekonomian global.Kondisi ini diperkirakan akan menyebabkan melambatnya volume perdagangan dunia, yang akhirnya akan memengaruhi perdagangan luar negeri (khususnya ekspor) Indonesia.Situasinya diperkirakan akan mirip dengan pelemahan ekspor Indonesia yang terjadi pada 2008,di mana sejak September 2008 hingga kuartal I-2009, ekspor Indonesia mengalami penurunan. Pengurangan porsi investasi asing dapat terjadi secara tiba-tiba (sudden reversal)—dalam kondisi ini rupiah berpotensi mengalami tekanan besar. Kendati demikian, cadangan devisa yang dimiliki, yakni sebesar +/- US$120 miliar, diperkirakan dapat mengimbangi risiko ini. Di samping itu, berbagai indikator kerentanan, seperti rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB), defisit fiskal, dan inflasi, berada dalam batas aman. Dengan demikian, potensi risiko dari sudden reversal dapat dikatakan cukup terkendali.

Dengan melakukan pengawasan lebih ketat harus diberikan pada sektor keuangan, terutama perbankan. Berbeda dengan industri lain, menutup suatu bank bukan pekerjaan yang gampang, apalagi jika bank besar (memiliki risiko sistematis). Penutupan bank berpotensi menimbulkan dampak domino berupa persepsi negatif nasabah yang memicu penarikan dana besar-besaran dari sistem perbankan (bank rush). Aspek yang terpenting yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan risiko. Pengalaman yang ada menunjukkan dua sumber utama kerentanan perbankan, yakni penurunan kualitas aktiva produktif dan kerugian portofolio dagang (trading book), terutama dari valuta asing dan surat berharga. Adapun dari analisa analisis bahwa Pertama, pemerintah kesulitan membayar. Kedua, mungkin pemerintah meningkatkan pajak atau menambah pengeluaran untuk sektor keuangan yang mengurangi insentif ekonomi di sektor riil. Ketiga, investor di sektor nonriil akan kehilangan kepercayaan. Ekonomi dunia sekarang terlalu otomatis di mana setiap kemungkinan menghasilkan return baik sektor riil maupun nonriil berkompetisi. Akibatnya potensi kapital lebih banyak terserap di sektor nonriil. Salah satu sifat ekonomi nonriil adalah tiap instrumen tidak independen satu dengan yang lainnya. Keruntuhan yang satu segera merembet pada yang lain atau bersifat sistemik. Industri ini sangat rawan terhadap shock psikologis dan rumor.

Adapun Krisis yang terjadi diramalkan akan terjadi biasanya memberi koreksi pada sistem yang ada dan memungkinkan lahirnya ekonomi baru. Ekonomi baru inilah yang diharapkan mengurangi peran ekonomi nonriil dan mendorong penguatan ekonomi riil.Kelebihan kapital di negara maju yang selama ini diserap di pasar derivatif dan saham yang menggelembung lebih masuk akal jika benar-benar tersalur ke ekonomi dunia ketiga yang masih memungkinkan tumbuh. Kalau demikian halnya, penyerapan itu juga akan memiliki misi lain berupa kemanusiaan, mengurangi keterbelakangan, kemiskinan, pengangguran sampai kriminalitas dan terorisme. Krisis yang diduga akan terjadi tentu akan memukul sektor perbankan.Terutama melalui kredit pada sektor-sektor yang terimbas krisis. Perlu dikaji sektor-sektor apa yang akan terpukul jika terjadi krisis di negara maju. (Berbagai sumber media terkait,infobanknews, data diolah F. Hero K. Purba)

Monday, October 3, 2011

Perkembangan Harga Komoditi Indonesia


Karakteristik dari suatu komoditi yaitu harga adalah ditentukan oleh penawaran dan permintaan pasar bukannya ditentukan oleh penyalur ataupun penjual dan harga tersebut adalah berdasarkan perhitungan harga masing-masing pelaku Komoditi. Perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan Mei 2011 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Dari pantauan harga di pasar bulan Januari 2011, harga beras mentik naik 3,5%, harga gula pasir naik 0,5%, harga minyak goreng naik 3,9%, harga daging sapi naik 1,4%, daging ayam kampung naik 15,1%, harga telur ayam kampung naik 1,78%, harga cabe merah kecil naik 73,84%, harga kubis/kol naik 47,4%, harga wortel naik 19,1% dibanding harga bulan Desember 2010.

Komoditi yang turun harga dibanding harga Desember 2010 adalah sawi hijau turun 43,8%, tomat turun 12,7%, jagung turun 1,2%, telur ayam broiler turun 4,2%, daging ayam broiler turun 3,81%, bawang putih turun 5%. Harga bahan pokok bulan Januari 2011 dibanding bulan Januari 2010 yang mengalami kenaikan antara lain terong panjang (naik 126,8%), kubis/kol (naik 113,2%), cabe merah kecil (naik 440,2%), cabe merah besar (naik 123,9%), minyak goreng (naik 32%), beras mentik (naik 26,4%), bawang merah lokal (naik 88,9%), bawang putih (naik 45,9%). Kelompok Bahan Makanan pada Mei 2011 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,46 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi antara lain: ikan cakalang, ikan bandeng, tomat buah, tomat sayur, ikan mujair, ikan katamba, kangkung, minyak kelapa, ikan ekor kuning, ikan selar, kacang panjang, bayam, wortel, ikan tongkol, ketimun, ikan kembung/gembung, nangka muda, pepaya, pisang, kelapa, udang basah, ikan bubara, labu siam/jipang, ikan kakap merah, gula merah, daging ayam ras, buncis, apel, kacang tanah, bawang goreng, susu bubuk, kol putih/kubis, ikan mas, margarine, dan susu rendah lemak. Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi antara lain: tepung terigu, susu

untuk balita, telur ayam kampung, bumbu masak jadi, tauge/kecambah, ikan baronang, kacang hijau, sawi hijau, daging ayam kampung, kerupuk udang, daun singkong, ikan asin belah, udang kering (ebi), daging sapi, ikan teri basah, terong panjang, jagung manis, bawang putih, cumi-cumi, minyak goreng, beras, kentang, ikan teri kering, jeruk, telur ayam ras, cabe merah, ketela pohon, bawang merah, ikan layang, dan cabe rawit.

Sementara itu untuk berdasarkan laporan analisis harga Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, Kamis (25/8/2011), selama tiga pekan pertama Agustus, produksi CPO di Malaysia sudah turun 5-7 persen dibandingkan Juli lalu. Produksi turun karena pengurangan jam kerja buruh perkebunan selama bulan puasa.Di MDEX ( Malaysia Derivatives Exchange), harga CPO untuk penyerahan ditutup pada level harga 3.130 ringgit per ton dari harga sebelumnya 3.161 ringgit per ton. Harga CPO yang ditransaksikan di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) ditutup melemah. Harga CPO untuk penyerahan September 2011 ditutup pada level harga Rp 9.075 per kilogram atau melemah Rp 40 per kilogram. Harga kelapa sawit di tingkat pedagang pengumpul di wilayah pinggiran Kota Bengkulu berkisar antara Rp 1.100 dan Rp 1.150.

Harga TBS saat ini sangat bergantung pada buah tanaman. Untuk buah tanaman di atas tujuh tahun harganya berkisar Rp 1.250-Rp 1.350 per kilogram, sedangkan buah di bawah itu rata-rata Rp 1.200 perkilogram. (Sumber data BPS dan Media Terkait, darta diolah F. Hero K. Purba)

Wednesday, September 28, 2011

Perkembangan Kenaikan Volume Kedelai dalam Persaingan Pasar


Volume impor kedelai sepanjang Januari-Agustus 2010 naik sebesar 33,96% dari periode yang sama tahun 2009, yaitu dari 928.200 ton menjadi 1.243.400 ton. Kenaikan volume impor tersebut juga terjadi saat harga kedelai dunia bertengger di harga tinggi. Pelaku usaha makanan yang berbasis kedelai, seperti pembuat tahu dan tempe, mengeluh. Penurunan permintaan kedelai untuk bahan baku industri pada periode 1991 – 2000 terutama terjadi pada saat krisis dan meningkat kembali pada periode 2001 hingga sekarang.

Kondisi yang perlu dicermati adalah tidak tercatatnya stok kedelai yang kemungkinan memang tidak ada lembaga yang melaksanakannya atau tidak tercatat adanya stok kedelai. Apabila tidak ada lembaga yang melakukan stok maka dapat diperkirakan bahwa pasar domestik akan terpengaruh langsung oleh fluktuasi kondisi pasar internasional. Untuk harga kedelai untuk kontrak pengiriman Juli 2011 di Chicago Board of Trade hari ini (12/5) berada di level US$ 13,3650 per bushel. Harga itu telah turun 9% dari level tertingginya dalam setahun ini yang berada di posisi US$ 14,7025 per bushel pada 9 Februari 2011.

Kualitas kedelai lokal bisa lebih baik dibandingkan dengan kedelai impor dengan metode pengelolaan benih yang lebih baik. Biaya tanam juga bisa ditekan dengan pola tanam organik yang tidak tergantung kepada pupuk kimia tentu menjadi modal bagi petani dalam peningkatan produksi kedelai nasional.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kedelai nasional tahun 2010 sebanyak 908,11 ribu ton dan impor kedelai sepanjang tahun 2010 sebanyak 1,7 juta ton. Data dari Dewan Kedelai Nasional menyebutkan kebutuhan konsumsi kedelai dalam negeri tahun 2011 sebanyak 2,4 juta ton sedangkan sasaran produksi kedelai tahun 2011 hanya 1,44 juta ton. Masih terdapat kekurangan pasokan (defisit) sebanyak satu juta ton kedelai. Dalam proses perkebunan, lahan yang telah ditanami dengan kedelai dapat menghasilkan dua kali lebih banyak protein dibandingkan jika ditanami tanaman lain. Kedelai yang matang akan menjadi keras dan kering. Meskipun sebagian besar kedelai berwarna kuning, ada juga varietas lain berwarna hitam, coklat atau hijau.
Di Indonesia, Saat ini, kedelai menjadi bagian tidak terpisahkan dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak hanya diolah menjadi susu dan minyak kedelai, hasil olahan lain kedelai seperti tepung kedelai, tauco, tempe, tahu dan kecap sangat mendominasi santapan di Indonesia.
Konsumsi kedelai yang terus meningkat pesat setiap tahunnya, juga sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi yang ditandai oleh meningkatnya konsumsi per kapita kedelai sebesar 5,55%. Sebagian besar produksi kedelai diolah menjadi bahan pangan yang siap dikonsumsi

oleh masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung seperti tempe, tahu, kecap dan kripik tempe. Untuk mendongkrak produksi kedelai memang berat mengingat ada sekitar 70 % kebutuhan kedelai dipenuhi dari impor. Terus membanjirnya impor kedelai tahun 2000 memiliki dampak yang tragis bagi petani kedelai dan untuk dapat mencapai imbangan impor harus ada perlakuan khusus dengan mengembalikan kepercayaan petani kembali bertanam kedelai. Upaya perimbangan impor dan pertumbuhan produksi kedelai jika produksi dapat terus ditingkatkan secara linear dari 13 % di tahun 2003 terus tumbuh meningkat hingga 20 % pada tahun 2010. Selama dasawarsa ke depan (2003 – 2013), yang rasional dilakukan adalah menekan impor dengan substitusi dari produksi dalam negeri sampai tinggal 10 – 20 % impor. Hal ini relevan dengan kondisi saat ini dan dapat terjadi jika ada pengaturan tata niaga untuk kepastian harga yang layak saat petani panen raya dan menciptakan produktivitas kedelai yang tinggi sehingga menurunkan biaya produksinya per satuan hasil. (Berbagai sumber media terkait, data diolah F. Hero K. Purba)

Monday, September 26, 2011

Produkstivitas Kacang Mete Indonesia dalam Peluang Ekspor


Produksi mete gelondongan dalam skala nasional berada di kisaran 95.000 ton per tahun, jumlah ini tidak mengalami peningkatan berarti selama 10 tahun terakhir. Penghasil mete utama adalah Sultra (35 % produksi nasional), Sulsel (25 %), Lombok, Flores dan Sumbawa (30 %) serta Jawa-Madura (10 %). Kacang mete merupakan jenis bahan makanan yang diperdagangkan secara internasional dan memiliki harga per satuan berat termahal kedua setelah vanila.

Indonesia merupakan penghasil mete terbesar di dunia setelah India, Vietnam, Afrika Barat, Afrika Timur dan Brasil. Penghasil mete gelondongan (mete yang belum dibuka cangkangnya/belum dikacip, cashews in-shell) adalah Afrika Barat (25 % dari produksi dunia), disusul oleh India (22 %), Vietnam (21 %), Brazil (16 %), Afrika Timur (9 %) dan kemudian Indonesia (5 %). Hampir seluruh produksi mete di dunia (90 %) dihasilkan oleh petani kecil di pedesaan. Walaupun ada sekitar 25 negara penghasil mete, namun sebagian besar (99 %) pangsa pasar kacang mete (biji mete olahan, cashews kernels) dikuasai oleh tiga negara saja, yaitu India, Vietnam dan Brasil. Indonesia merupakan penghasil mete terbesar di dunia setelah India, Vietnam, Afrika Barat, Afrika Timur dan Brasil. India merupakan negara pengekspor kacang mete terbesar di dunia, menggantikan kedudukan Afrika Barat yang industri kacang metenya rontok sejak era 1980-an, disusul oleh Vietnam, yang industri metenya baru berkembang sekitar 15 tahun lalu, namun karena pesatnya pertumbuhan berpeluang menjadi pengekspor kacang mete terbesar di dunia. Untuk memenuhi industri kacang metenya, India mengimpor mete gelondongan dari Afrika Barat, Afrika Timur dan Indonesia. Sedangkan Vietnam mengimpor mete dari Afrika Barat dan Indonesia. Sekitar 600 ton mete gelondongan dunia diekspor ke India dan Vietnam setiap tahunnya. Brasil sebagai pengekspor kacang mete terbesar ketiga, selama ini masih dapat memenuhi kebutuhan metenya sendiri. Konsumen kacang mete dunia adalah negara-negara di Amerika Utara, Uni Eropa, China, Timur Tengah, India dan Australia. Yang menarik, India merupakan negara produsen dan sekaligus konsumen mete terbesar di dunia.
Jumlah penduduk India sekitar 5 kali lipat Indonesia, namun konsumsi metenya 45 kali lipat. Kebutuhan kacang mete Amerika Utara dan Uni Eropa selama ini dipenuhi oleh India dan Brasil. India juga mengekspor kacang mete ke Timur Tengah, sedangkan Vietnam mengekspor kacang mete ke Amerika Utara, China dan Australia.
Kacang Mete Indonesia sebagian besar diekspor dalam bentuk gelondongan ke India dan Vietnam dan kemudian dilabel sebagai produk India dan Vietnam, hanya sebagaian kecil (kurang dari 1 % dari pangsa kacang mete dunia), yang bisa berhasil menembus pasar kacang mete internasional. (Berbagai sumber media terkait, data diolah F. Hero K Purba)