Thursday, October 13, 2011

Perkembangan dan Potensi Komoditi Mete Indonesia dan produk turunannya untuk Orientasi Ekspor


Produk mete mempunyai peluang untuk memasuki pasar global, namun akan mendapat persaingan dari negara lain. Pasar di negara-negara industri dikuasai oleh konsumen yang menghendaki produk perkebunan yang aman, berkualitas tinggi, dan memiliki risiko minimal bagi kesehatan dan lingkungan hidup. Untuk menghasilkan produk perkebunan yang memenuhi standar konsumen, tidak hanya kualitas produk yang harus diperhatikan, tetapi juga proses produksi, pengemasan, dan distribusinya sampai ke tangan konsumen.

Produksi mete gelondongan dalam skala nasional berada di kisaran 95.000 ton per tahun, jumlah ini tidak mengalami peningkatan berarti selama 10 tahun terakhir. Penghasil mete utama adalah Sultra (35 % produksi nasional), Sulsel (25 %), Lombok, Flores dan Sumbawa (30 %) serta Jawa-Madura (10 %). Kacang mete merupakan jenis bahan makanan yang diperdagangkan secara internasional dan memiliki harga per satuan berat termahal kedua setelah vanila.

Indonesia merupakan penghasil mete terbesar di dunia setelah India, Vietnam, Afrika Barat, Afrika Timur dan Brasil. Penghasil mete gelondongan (mete yang belum dibuka cangkangnya/belum dikacip, cashews in-shell) adalah Afrika Barat (25 % dari produksi dunia), disusul oleh India (22 %), Vietnam (21 %), Brazil (16 %), Afrika Timur (9 %) dan kemudian Indonesia (5 %). Hampir seluruh produksi mete di dunia (90 %) dihasilkan oleh petani kecil di pedesaan. Walaupun ada sekitar 25 negara penghasil mete, namun sebagian besar (99 %) pangsa pasar kacang mete (biji mete olahan, cashews kernels) dikuasai oleh tiga negara saja, yaitu India, Vietnam dan Brasil. Indonesia merupakan penghasil mete terbesar di dunia setelah India, Vietnam, Afrika Barat, Afrika Timur dan Brasil. India merupakan negara pengekspor kacang mete terbesar di dunia, menggantikan kedudukan Afrika Barat yang industri kacang metenya rontok sejak era 1980-an, disusul oleh Vietnam, yang industri metenya baru berkembang sekitar 15 tahun lalu, namun karena pesatnya pertumbuhan berpeluang menjadi pengekspor kacang mete terbesar di dunia. Untuk memenuhi industri kacang metenya, India mengimpor mete gelondongan dari Afrika Barat, Afrika Timur dan Indonesia. Sedangkan Vietnam mengimpor mete dari Afrika Barat dan Indonesia. Sekitar 600 ton mete gelondongan dunia diekspor ke India dan Vietnam setiap tahunnya. Brasil sebagai pengekspor kacang mete terbesar ketiga, selama ini masih dapat memenuhi kebutuhan metenya sendiri. Selain buah jambu Mete dapat dimakan, inti mete gelondong yang dikenal sebagai kacang atau biji mete merupakan camilan gurih renyah yang harganya mahal. Selain itu, biji mete juga dapat diolah sebagai permen kering, selai, buah kaleng, dan anggur mete. Mete gelondong adalah buah sejati jambu mete. Akar mete dapat diolah sebagai obat pencuci perut. Manfaat daun mete tua sebagai obat luka bakar, sedangkan daun muda sebagai lalapan. Kulit kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan tinta, pewarna, obat kumur, dan sariawan. Batang pohon menjadi bahan baku lem perekat buku.Kulit kacang mete juga memiliki kegunaan, yakni dapat diolah menjadi minyak atau dimanfaatkan langsung sebagai bahan bakar pada industri tahu. Kulit mete gelondong mengandung cairan kulit yang disebut cashew nut shell liquid (CNSL). Minyak itu bermanfaat sebagai bahan dasar vernis, perekat, pelunak gesekan, pelapis rem dan kopling, kosmetik, pengawet kayu, hingga bahan campuran minyak rem pesawat.Giyatmi (49), warga Dusun Sedran, Desa Sambirejo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, sejak tahun 1996 menekuni pembuatan CNSL. Kini setiap minggu dia mengirim minimal 4.620 liter CNSL ke sebuah pabrik kampas rem di Jakarta dan 15 ton minyak serupa ke Semarang. Belum lagi kiriman ke sebuah pabrik cat dan lem di Surabaya. Harga satu liternya Rp 4.500. Potensi produk dari jambu mete ini harus dikembangkan lagi mengingat peluang pasar dan orientasi permintaan jika dikembangkan memungkin peluang besar. (Sumber: Berbagai data terkait dan Media, data diolah F. Hero K. Purba)