Wednesday, March 14, 2012

Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship) Membangun Bangsa Mandiri untuk Menangani Kemiskinan


Untuk membangun suatu kemandirian dalam Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship) harus dimulai dari Mental seseorang tersebut, serta menjiwai apa yang menjadi tujuan hidup, dalam suatu siklus kehidupan yang sesungguhnya. Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship) merupakan suatu dasar untuk membangkit semangat sesorang untuk pencapaian hidupnya dengan berwirausaha. Tentunya tidak segampang membalikkan telapak tangan membangun suatu usaha yang melibatkan banyak orang. Mengenai Social Entrepreneurship yang sudah dikenal ratusan tahun yang lalu diawali antara lain oleh Florence Nightingale (pendiri sekolah perawat pertama) dan Robert Owen (pendiri koperasi). Pengertian Social Entrepreneurship sendiri berkembang sejak tahun 1980 –an yang diawali oleh para tokoh-tokoh seperti Rosabeth Moss Kanter, Bill Drayton, Charles Leadbeater dan Profesor Daniel Bell dari Universitas Harvard yang sukses dalam kegiatan Social Entrepreneurship karena sejak tahun 1980 berhasil membentuk 60 organisasi yang tersebar diseluruh dunia. Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare).

Solusi riil untuk membantu meringankan beban orang-orang yang kurang mampu dapat diselesaikan salah satunya dengan mempraktekkan Social Entrepreneurship. Dalam hal ini bukan semata-mata mengandalkan lembaga pemerintahan atas nama Kementerian Kesejahteraan social dan Kementerian Kesejahteraan Rakyat. Masyarakat secara pribadi bisa bergerak sendiri dan membangun kemandirain. Akan menghasilkan efek ganda, sesuai dengan pemaparan di atas, yakni kesejahteraan orang lain meningkat dan menjadi nilai kewirausahaan untuk mencari profit. Sebenarnya ada yang paling mendasar untuk dimengerti dan dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Dan hal ini sesungguhnya bisa dilakukan dengan mengubah paradigma masyarakat Indonesia pada umumnya. Jika selama ini lembaga-lembaga sosial tersebut hanya dipandang sebuah ajang aktualisasi diri untuk saling membantu sesama, maka sebenarnya dengan membangun sendiri sebuah Social Entrepreneurship juga akan mendatangkan profit secara finansial. Hal ini bisa diterapkan semenjak dini untuk memupuk rasa kemanusiaan dan pemahaman apa itu Social Entrepreneurship.

Konsep kewirausahaan sosial berarti hal yang berbeda bagi orang yang berbeda dan peneliti (Dees, 1998). Satu kelompok peneliti mengacu pada sosial kewirausahaan tidak nirlaba inisiatif dalam pencarian strategi pendanaan alternatif, atau manajemen skema untuk menciptakan nilai sosial (Austin, Stevenson, &
Wei-Skiller, 2003; Boschee, 1998). Kelompok kedua
peneliti memahami itu sebagai tanggung jawab sosial praktek bisnis komersial terlibat dalam crosssector
kemitraan (Sagawa & Segal, 2000; Waddock,
1988). Dan kelompok ketiga memandang kewirausahaan sosial sebagai sarana untuk meringankan masalah sosial dan mengkatalisasi sosial transformasi (Alvord et al., 2004). Penting untuk dicatat perbedaan konseptual antara definisi. Definisi kewirausahaan sosial biasanya mengacu pada suatu proses atau perilaku; definisi pengusaha sosial berfokus pada pendiri inisiatif, dan definisi usaha sosial merujuk untuk hasil nyata dari kewirausahaan sosial. Meskipun sejumlah besar definisi, sistematis upaya untuk inisiatif peta dan definisi jarang terjadi (lihat Boschee (1995) dan Waddock dan Post (1995), selama dua pengecualian). Sementara definisi yang saling melengkapi, masing-masing berfokus pada aspek yang berbeda dari fenomena tersebut, yang
belum tentu menjadi penghalang dalam mencari teori,
kita masih belum memiliki gambaran yang komprehensif tentang fenomena dan kurangnya pemahaman yang jelas tentang bagaimana kewirausahaan sosial harus dipelajari.

Apabila kita tinjau dari dari kegiatan yang dilakukan dalam kewirausahaan sosial, ada tiga kegiatan yang dilakukan oleh wirausahawan sosial yaitu pertama, kegiatan yang dilakukan tidak bertujuan untuk mencari laba. Kedua, kegiatan yang dilakukan merupakan bisnis dengan tujuan sosial. Ketiga kegiatan wirausahawan sosial merupakan kegiatan perpaduan antara bisnis sosial tetapi tidak mencari laba. Titik tekan dari ketiga kegiatan dari wirausahawan sosial itu dapat berupa bisnis dengan tujuan sosial serta tidak berorientasi kepada pencarian keuntungan. Wirausahawan sosial bukan tidak mencari keuntungan akan tetapi kebermanfaatan kegiatan tersebut bagi masyarakat merupakan tujuan utama. Kegiatan-kegiatan inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat miskin agar dapat membentu mengentaskan kemiskinan tersebut dalam upaya melakukan kegiatan yang bermanfaat dan berkelanjutan. (Berbagai sumber terkait, (Sagawa & Segal, 2000; Waddock, 1988),et all, data diolah: Frans Hero K. Purba)

Social Entrepreneurship (Social Entrepreneurship) Developing Independent Nation to Address Poverty
To build an independent in Social Entrepreneurship (Social Entrepreneurship) should start from the Mental person, as well as animating what the purpose of life, in a real life cycle. Social Entrepreneurship (Social Entrepreneurship) is a basis for someone to awaken the spirit of achievement of his life with entrepreneurship. Certainly not as easy as turning the palm of the hand to build a business that involves a lot of people. About Social Entrepreneurship known hundreds of years ago initiated among others by Florence Nightingale (founder of the first nursing school) and Robert Owen (founder of the cooperative). Social Entrepreneurship own understanding developed since the 1980s that preceded by figures such as Rosabeth Moss Kanter, Bill Drayton, Charles Leadbeater and Professor Daniel Bell of Harvard University's success in Social Entrepreneurship activities because since 1980 successfully established 60 organizations scattered around the world. Simple understanding of the Social Entrepreneur is someone who understands social problems and use entrepreneurial skills to make social change (social change), mainly covering the areas of well-being (welfare), education and health care (healthcare). Real solutions to help ease the burden on those who are less able to be resolved either by practicing Social Entrepreneurship. In case this is not solely rely on government agencies on behalf of the Ministry of Social Welfare and the Ministry of Social Welfare. Community can move themselves personally and personal build. Will generate a multiplier effect, in accordance with the description above, the welfare of others increases and becomes the value of entrepreneurship to seek profit. Actually there is the most fundamental to understand and be understood by society at large. And this indeed could be done by changing the paradigm of Indonesian society in general. If during these social institutions are just self-actualization is seen as a competition to help each others, then actually build your own with a Social Entrepreneurship will also bring profit financially. This can be applied since the early to foster a sense of humanity and understanding what is Social Entrepreneurship. The concept of social entrepreneurship means different things to different people and researchers (Dees, 1998). One group of researchers refers to not-for-profit social entrepreneurial initiative in the search for alternative funding strategies, or management schemes to create social value (Austin, Stevenson, & Wei-Skiller, 2003; Boschee, 1998). The second group of researchers to understand it as a socially responsible business practices involved in commercial crosssector
partnerships (Sagawa & Segal, 2000; Waddock, 1988). And a third group looked at social entrepreneurship as a means to alleviate social problems and catalyze social transformation (Alvord et al., 2004). Important to note the conceptual distinction between the definitions. Definition of social entrepreneurship generally refers to a process or behavior; definition of social entrepreneurs focused on the founder of the initiative, and the definition of social enterprise refers to the tangible results of social entrepreneurship. Although a large number of definitions, systematic effort to map initiatives and definitions are rare (see Boschee (1995) and Waddock and Post (1995), for two exceptions). While the definition of complementary, each focusing on different aspects of the phenomenon, which not necessarily an obstacle in finding a theory, we still lack a comprehensive picture of the phenomenon and the lack of a clear understanding of how social entrepreneurship should be studied. If our review of the activities carried out in social entrepreneurship, there are three activities performed by social entrepreneurs: first, the activities performed are not intended for profit. Second, the business activities carried out by social goals. These three activities of social entrepreneurs is a blend of social business activities but not for profit. The third pressure point of the activities of social entrepreneurs can be either a business with social purpose and not profit-oriented. Social entrepreneur is not for profit but the usefulness of these activities for the community is the ultimate goal. These activities are actually needed by the poor to alleviate poverty Formatting in an attempt to perform activities that are beneficial and sustainable.

No comments: