Wednesday, February 20, 2013

Potensi Peluang Pisang Abaca dalam Pemanfaatan Nilai Ekonomis dalam Agribisnis



Potensi pengembangan pohon pisang abaca di Indonesia sebenarnya sangat potensial, tetapi kecenderungan untuk budidaya jenis pohon pisang ini tidak begitu kelihatan kecenderungan dalam kancah dunia agibisnis beberapa dekade ini. Pohon Pisang Abaca kembali mendapat perhatian para pelaku bisnis. Membaiknya harga serat Abaca berlangsung seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan serat berkualitas tinggi untuk bahan baku kertas uang, kertas chaque dan berbagai kertas  yang termasuk  dalam sequrity papers lainnya, memiograph, kantong teh celup, tissue, dan lain-lain juga untuk tekstil, geotekstil, dan karpet.Peluang pasar serat Abaca di pasar global cenderung terbuka luas. Permintaan dari Jerman, Belanda, Prancis, Jepang, Spanyol, Denmark, Amerika, Inggris, dan Kanada terus meningkat. Pisang Abaka (Abaca, Musa textilis), memang jenis pisang asli Filipina. Abaka juga disebut Manila hemp, Cebu hemp, dan Davao hemp. Istilah hemp sendiri, berasal dari bahasa Inggris kuno h├Žnep, hingga di sekolah kita sering diberi tahu pak guru tentang pohon pisang penghasil “manila henep”. Hemp adalah istilah untuk komoditas serat dari tanaman ganja (Cannabis sativa L. subsp. sativa var. sativa). Hingga serat abaca pun diberi sebutan manila hemp, untuk membedakannya dengan hemp asli yang berasal dari tanaman Canabis. Abaka adalah komoditas penghasil serat nabati yang cukup penting. Itulah sebabnya tahun 1925, pemerintah Kolonial Belanda pernah mengembangkan abaka secara besar-besaran di Sumatera Utara. Tahun 1930, pemerintah Inggris juga menanam komoditas ini di Sabah dan Serawak, Kalimantan Utara. Pada tahun-tahun itu, Departemen Pertanian AS (USDA), juga menyeponsori usaha pengembangan abaka di Amerika Tengah. Di Filipina sendiri, abaka sudah dikebunkan secara komersial sejak tahun 1800an. (Sources: Foragri, data media artikel majalah,Wikipedia, data diolah F. Hero K. Purba).
Pada pisang abaka yang diambil adalah serat abaka diambil terutama dari bagian batang. Batang pisang, sebenarnya merupakan batang semu, yang terdiri dari lembaran pelepah daun yang menyatu. Batang aslinya pisang beruba bonggol yang berada dalam tanah. Lembaran-lembaran pelepah daun inilah yang selanjutnya akan diproses untuk diambil seratya. Dalam satu batang abaka berdimeter 30 – 40 cm, bisa diperoleh antara 12 sd. 25 lembar pelepah daun. Selain terdiri dari serat selulosa, pelepah abaka juga  mengandung lignin, dan pektin. Setelah lignin dan pektin, dihilangkan, serat abaka disebut sebagai manila, atau manila hemp.
Apabila dianalisa secara agronomis bahwa dalam budidaya penanaman pisang abaca di Indonesia sangat sesuai, mengingat tanaman pisang abaca adalah tanaman yang berasal dari daerah tropis. Selain itu pisang ini sudah pernah dikembangkan secara komersial dalam areal yang besar. Sedangkan dukungan ketersediaan lahan sangat memungkinkan untuk di kembangkan misalnya di daerah Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara (terutama Halmahera), Irian Jaya sebagian Sumatera dan Jawa, tentunya untuk lokasi-lokasi yang memiliki agroklimat yang sesuai untuk tanaman ini. Diharapkan pembudidayaan pisang abaca ini dapat menjadi para perhatian dalam pengembangan potensi usaha agribisnis.

No comments: