Monday, February 6, 2012

EKSPOR STRATEGI PRODUK AGRIBISNIS INDONESIA KE RUSIA


Pada bulan Mei 2011, nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai 790 juta dollar AS. Ekspor Indonesia tercatat 370 juta dollar AS dan impornya senilai 420 juta dollar AS. Menurut data Federal Custom Service Rusia, total nilai perdagangan kedua negara tahun 2010 mencapai 1,91 miliar dollar AS, meningkat hampir 200 persen dari tahun 2009. Nilai ekspor Rusia sebesar 1,04 miliar dan impor 866 juta dollar AS. Nilai tersebut menunjukkan defisit untuk Indonesia sebesar 108,3 juta dollar AS. Juni 2011, total nilai perdagangan Indonesia-Rusia mencapai 970 juta dengan nilai ekspor Indonesia ke Rusia senilai 630 juta dollar AS dan impor dari Rusia senilai 340 juta. Dengan demikian, pada semester pertama 2011, Indonesia mengalami surplus 290 juta dollar AS. Rusia merupakan juga pasar potensial dunia, dengan PDB per kapita pada 2009 mencapai lebih dari US$ 15.200, dengan populasi Rusia sekitar 140 juta jiwa. Rusia merupakan importir terbesar nomor 11 dunia dengan total impor lebih dari dari US$ 160 miliar pada tahun 2009. Ekspor Indonesia ke Rusia saat ini masih relatif kecil dengan share 0,32% dari total ekspor Indonesia ke dunia di mana Rusia merupakan negara tujuan ekspor Indonesia urutan ke-36. Nilai ekspor ├«ndonesia ke negara ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dengan tren 7,68% selama 2005-2009 atau senilai US$ 315,76 juta pada tahun 2009. Salah satu alasan utama diterapkannya strategi internasional adalah bahwa pasar internasional menghasilkan peluang baru yang potensial. Kerjasama dibidang pertanian dan peluang pasar ekspor dalam ekspasi pasar merupakan salah satu strategi pasar yang perlu diterapkan dalam berbagai strategi. Dengan adanya peningkatan hubungan kerjasama antara Indonesia –Rusia, hal ini sudah terlihat berdasarkan Deklarasi mengenai dasar hubungan persahabatan dan kemitraan diantara Rusia dan Indonesia dalam abad XXI. Neraca perdagangan Indonesia-Rusia masih kecil, pada tahun 2006 hanya US$ 680 Juta dan defisit bagi Indonesia. Ekspor utama Indonesia adalah produk-produk pertanian yang pada 2006 berjumlah US$ 272,5 Juta dan cenderung meningkat. Sebaliknya impor Indonesia dari Rusia pada 2002 nilainya US$151,3 Juta. Pada 2003 impor Indonesia menurun menjadi US$ 99,8 Juta, kemudian meningkat pada 2004, Impor Rusia dari Indonesia pada Mei 2004 nilainya US$ 16,6 Juta dan pada bulan April nilainya US $ 15,9 juta. Dibandingkan nilai impor bulan Mei 2004 dengan nilai impor bulan April 2004, maka nilai impor Rusia dari Indonesia naik sebesar US $ 0,7 juta juta atau 4,4 %. dan 2005, yakni US$223,4 juta dan US$ 431, 5 Juta, pada 2006 menjadi US$ 416 Juta. Total perdagangan Indonesia-Rusia setiap tahunnya naik sebesar 12,11%, dengan nilai perdagangan mencapai US$ 774,89 miliar pada 2009. Beberapa komoditi Indonesia yang diimpor Rusia tahun 2004 dengan nilai diatas US $ 0,5 juta dan pangsanya terhadap pasar Rusia:

· HS.15 Minyak nabati US$ 5,036 Juta, pangsa 13,5%.

· HS 09 Kopi, teh dan Rempah-rempah US$ 1,677juta, pangsa 7,6 %.

· HS. 18 kakao dan olahannya US$ 0,514 juta, pangsa 1,9 %.

Ekspor terbesar Indonesia ke Rusia di antaranya minyak sawit mentah / CPO, teh, margarin, dan tembakau, Rusia merupakan juga pasar potensial bagi Indonesia. Pada tahun 2005, dari data yang dikumpulkan oleh BPS Indonesia mencatat surplus US$ 126 Juta dari volume perdagangan yang jumlahnya mencapai US$ 574 juta. Beberapa komoditi seperti teh, tekstil, dan CPO ternyata laku di pasaran Rusia. Kerjasama dalam bidang pertanian ini kiranya dapat lebih ditingkatkan lagi dengan peluang pasar yang ada dengan jumlah permintaan produk pertanian yang beraneka ragam tersebut. Mencermati hal ini peluang pasar yang ada dan hubungan yang baik antara Indonesia-Rusia merupakan suatu nilai tambah dalam meningkatkan kerjasama bilateral khususnya di bidang pertanian. (sumber: KBRI Rusia, BPS dan info data sumber terkait, data diolah oleh F. Hero K. Purba,)

No comments: