Thursday, November 1, 2012

Potensi Karet dalam Perkembangan Akses Pemasaran Domestik dan Internasional



Indonesia adalah negara penghasil karet (Hevea brasiliensis) terbesar kedua di Dunia setelah Thailand. Perkembangan harga bokar kualitas 90 persen di tingkat pabrik di Gapkindo setempat sejak 1-31 Mei tercatat Rp30.279 per kg, hari berikutnya naik menjadi Rp. 30.445 per kg dan pada bulan Mei 2012 turun signifikan menjadi Rp27.839 per kg. Ekspor untuk komoditi karet crum rubber tidak memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan devisa Negara. Berdasarkan data bahwa Indonesia sendiri sebagai negara dengan luas lahan karet terbesar di dunia, dengan luas areal mencapai 3,4 juta hektare (2009), yang mengungguli areal karet Thailand (2,67 juta hektare) dan Malaysia (1,02 juta hektare) hingga tahun lalu, hanya mampu memproduksi karet 2,7 juta ton. Angka ini masih di bawah Thailand yang berhasil memproduksi 3,1 juta ton karet per tahun. Malaysia berada di urutan ketiga dengan produksi 951 ribu. (Sources data: BPS, data media, Ditjen Perkebunan, data diolah F. Hero K. Purba)
Untuk produksi karet diperkirakan tiga juta ton naik dari tahun lalu 2,7 juta ton. Pada tahun 2012, produksi karet berpotensi naik 7 persen hingga 10 persen menjadi 3,3 juta ton. Dalam meningkatkan produksi perkebunan Karet, Pemerintah melaksanakan upaya penggunaan bibit unggul Karet pada petani, percepatan peremajaan Karet tua, peningkatan efisiensi usaha tani, diversifikasi usaha tani Karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela, peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan margin harga petani termasuk upaya untuk mendatangkan investor industri pengolahan karet, pengembangan infrastruktur dan kebijakan lainnya yang dapat mendorong penguatan permodalan petani karet. merupakan salah satu sub sektor perkebunan yang dikonsumsi sebagai bahan baku industri. Karet memegang peranan sangat penting dalam pembangunan pertanian terutama sebagai penghasil devisa dan penyerap tenaga kerja. Negara tujuan ekspor karet Indonesia adalah RRC, Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.  Berdasarkan data informasi bahwa untuk menstabilkan harga karet minimal antara Indonesia, Malaysia dan Thailand terjadi perbedaan. Malaysia menginginkan agar harga kembali ke level 3,5 dollar AS, sementara Thailand 2,5 dollar AS dan Indonesia ke level 3,5-4,5 dollar AS per kilogram. Potensi karet Indonesia dipasar dunia sangat memegang peranan penting sebagai salah satu negara penghasil karet. Diharapkan dimasa mendatang dapat lebih ditingkatkan lagi potensi produksi karet yang ada didengan mempertimbangkan pangsa pasar dan quota ekspor dalam membangun strategi ekspor karet nasional.

1 comment:

PCGayver said...

Pisau Sadap Karet
Pisau Karet

Harusnya kita jaya dinegeri kita sendiri