Friday, March 6, 2015

Menjamin Harga dan Pasar Komoditas Bagi Petani dan Pro Petani



Bagaimana solusi untuk petani apakah sulitkah memberikan jaminan pasar bagi petani? Peran penjamin pasar ini sebenarnya menjadi kewajiban pemerintah. Terutama untuk Komoditas pertanian yang sensitif harga (seperti beras, jagung, gula, dan kedelai,) agar fluktuasi harganya tidak terlalu merugikan petani seperti kasus anjloknya harga beli gabah baru-baru ini. Untuk membantu petani mencapai harga jual produk pertanian yang kompetitif, pemerintah bisa memberikan subsidi sektor pertanian yang benar pro petani. Jika  dibandingkan, subsidi yang diberikan pemerintah untuk sektor pertanian (Rp 33,5 trilyun, tahun 2009) jauh lebih kecil dari subsidi BBM (Rp 100,6 trilyun, tahun 2009). Apabila kita lihat dari penelitian dan kajian faktor-faktor yang mempengaruhi keterpurukan petani. Salah satu diantaranya adalah kesulitan pembiayaan usahatani dan kebutuhan dana cash untuk keperluan hidup selama masa menunggu penjualan hasil panen, menyebabkan banyak petani terjebak sistem ijon dan atau hutang kepada para tengkulak yang mematok harga pertanian dengan harga rendah, dimana para petani sudah tidak memiliki bargaining position lagi.
Hal yang menjadi focus perhatian bila kita perhatikan pemberian subsidi atau bantuan uang bisa menimbulkan mental ketergantungan di pihak petani. Petani menjadi “terbiasa diberi” bantuan biaya untuk usaha taninya. Padahal sifat subsidi dan bantuan adalah jangka pendek. Bagaimana jika dana subsidi habis dari yang dibantu? Bisakah petani menjadi mandiri kembali? Uluran tangan dalam bentuk pembiayaan sejatinya tidak menyelesaikan masalah karena petani masih akan bergulat dengan ketidakpastian dalam mengelola usaha taninya di masa mendatang.
Dalam hal ini yang terpenting dengan kaidah efisiensi, produktivitas dan nilai tambah/ added value. Sama dengan bisnis lainnya, pertanian adalah kegiatan pengelolaan sumberdaya untuk memperoleh nilai tambah. Keberhasilan optimal akan diperoleh jika pengelolaan dilakukan dengan efisien, produktivitas yang tinggi dan nilai tambah yang tinggi pula. Menuntut kemampuan leadership dan manajerial. Pertanian dalam skala yang paling kecil sekalipun tidak dapat dikerjakan sendiri, tetapi harus dikerjakan oleh lebih dari satu orang, sehingga mebutuhkan kemampuan leadership dan managerial si petaninya. Pada skala yang lebih besar kemampuan tersebut akan lebih menonjol dan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan. Jasa petani ini tampaknya belum memperoleh apresiasi yang cukup karena banyak petani Indonesia yang masih harus bergelut meningkatkan kesejahteraannya untuk hidup layak. Dengan harapan besar dipikulkan di pundak pemerintah agar menciptakan kebijakan-kebijakan yang pro-petani. Pertanian merupakan kegiatan usaha/bisnis yang sama saja dengan usaha lainnya, menuntut kaidah-kaidah bisnis seperti kepioneeran, efisiensi, dinamis, nilai tambah, keuniq-an produk. Apabila kaidah tersebut dijalankan maka pertanian dapat mensejahterakan petaninya sebagaimana telah ditunjukkan sebagian kecil petani maju. (Sources: Berbagai sumber terkait, data diolah F. Hero K. Purba)

No comments: