Wednesday, July 10, 2013

Potensi Lokal Pengolahan Gula Lontar dari Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur



Potensi pengembangan potensi dari pulau Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur yakni Gula dari Lontar yang berasal dari  Pohon Siwalan atau disebut juga Pohon Lontar (Borassus flabellifer) adalah sejenis palma /pinang-pinangan yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Adapun Kabupaten Sabu Raijua adalah bagian Kabupaten Kupang. Merupakan pulau terpencil dengan luas 460,78 kilometer persegi, berpenduduk sekitar 30.000 jiwa dengan sifat mobilitas tinggi.
Potensi lontar yang besar, dengan ribuan pohon lontar yang dimiliki daerah ini maka tentu saja dapat diusahakan untuk menjadi salah satu komoditi andalan yang mampu menghidupi masyarakat daerah ini. Dari sisi kualitas, hasil lontar berupa gula sudah cukup dikenal luas. Kualitas gula baik dalam bentuk gula cair, gula lempeng maupun gula semut boleh dikatakan cukup baik, sehingga dari sisi kualitas hasil olahan lontar ini, diharapkan mampu menjadi salah satu potensi lokal yang layak dijual untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan dari sisi kontinuitas, dengan jumlah waktu musim kemarau sepanjang kurang lebih 6 (enam) bulan yang digunakan oleh para penyadap lontar untuk menyadap lontar dan menghasilkan gula olahan lontar maka kesinambungan dan ketersediaan hasil olahan lontar dapat dipertahankan setiap tahun maka potensi ini layak dijadikan salah satu komoditi andalan lokal yang tentu saja mampu berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Pohon Lontar (Borassus flabellifer) menjadi flora identitas Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pohon ini banyak dimanfaatkan daunnya, batangnya, buah hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira), difermentasi menjadi tuak ataupun diolah menjadi gula siwalan (sejenis gula merah). Pohon Siwalan (Lontar) merupakan pohon palma (Palmae dan Arecaceae) yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm. Buah Lontar (Siwalan) bergerombol dalam tandan dengan jumlah sekitar 20-an butir. Buahnya bulat dengan diameter antara 7-20 cm dengan kulit berwarna hitam kecoklatan. Setiap butirnya mempunyai 3-7 butir daging buah yang berwarna kecoklatan dan tertutupi tempurung yang tebal dan keras. (sumber: Gapoktan, data lokal media, data diolah hero13).
Salah satu Gapoktan yaitu Gapoktan Suka Maju yang membudidayakan pengolahan gula lontar di Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Di Kabupaten Sabu Raijua adalah kelapa dan lontar. Bagi masyarakat Sabu, pohon lontar dianggap sebagai pohon kehidupan karena pada saat musim kemarau yang waktunya sangat panjang, nira dari lontar menjadi minuman yang memberikan banyak manfaat. Nira lontar, selain dapat diminum langsung, oleh masyarakat Sabu juga dijadikan menjadi gula air atau disebut juga gula sabu/ gula lontar. Daun lontar yang berbentuk kipas besar dan utuh dapat dipakai untuk berbagai keperluan. Masyarakat Sabu biasa menggunakannya untuk menampung air, nira dan makan ternak. Selain itu, daun lontar juga digunakan sebagai atap rumah, dipakai untuk membuat keranjang anyaman, alat musik tradisional dan lain sebagainya. Tangkai pohon lontar yang kokoh dapat digunakan untuk pagar tanaman dan tongkat. Sementara batangnya dapat dipakai sebagai tiang penyangga dan balokan rumah.
Pengembangan pengolahan potensi produksi gula lontar di Provinsi Nusa Tenggara Timur cukup tinggi, sehingga ada kemungkinan untuk menutupi kekurangan produksi gula tebu. Pengembangan agroindustri pengolahan gula dari pohon lontar ini dapat memberikan nilai tambah bagi petani dan penduduk setempat.

No comments: