Wednesday, July 2, 2014

Bakara, Tapanuli Utara Agrowisata yang Belum Tersentuh Dalam Pengembangan dan Pemanfaatannya





Memori yang terindah yang perlu diperhatikan ketika kita melirik suatu desa di Tapanuli Utara yakni daerah Sitio-tio, Kecamatan Bakti Raja, Bakara, Kabupaten Tapanuli Utara. Bakara berada di tepian bibir Danau Toba. Bakara yang menjadi tanah asal leluhur, negeri tumpah darah Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII itu. Karenanya, panorama sekitarnya indah memukau serta menawan hati. Di arah Timur ada permukaan Danau Toba yang menghempang bagai cermin raksasa. Airnya putih membiru apalagi saat diterpa matahari siang. Di arah Barat ada berjajar Pegunungan Bukit Barisan yang kokoh perkasa dan terkesan angkuh dan sombong. Kata beberapa anak negeri, di balik pegunungan itulah Kecamatan Lintongnihuta yang jaraknya cuma tiga atau empat jam perjalanan kaki. Sementara, di arah Selatan bertengger juga Pegunungan Bukit Barisan, yang kata anak negeri merupakan perbatasan dengan Kecamatan Pollung. Beberapa akses jalan untuk dapat sampai ke Bakara. Bisa lewat perairan Danau Toba dari Balige dan Palipi di Samosir atau Nainggolan serta Onanrunggu juga di Samosir. Tetapi belakangan, tak ada lagi rute kapal penumpang umum dari keempat daerah itu. Menyusur bibir Danau Toba, meliuk-liuk pada kaki Pegunungan Bukit Barisan melintasi beberapa desa di Kecamatan Muara. Setelah melintas di Desa Lontung yang dihuni umumnya marga Rajagukguk, di Aek Sipangolu artinya sudah berada di kawasan Bakara.
Bakkara yang terkenal dengan bawang merah di mana bawang merah adalah komoditas utama penduduk daerah ini, di samping padi dan kacang tanah. Daerah Bakara ini merupakan daerah yang sangat cocok dalam pengembangan agrowisata dengan sumber mata air dan alam yang khas tradisi leluhur. Untuk itu dapat diambil kesimpulan bagi Dinas Pariwisata di Kabupaten Humbanghasundutan:
1) Perlu adanya upaya menggali potensi obyek wisata agro di Desa Sunong-unongjulu, Sitio-tio, Bakara
2) Sebagai modal awal dalam membangun agrowisata berwawasan lingkungan perlu menggandeng pengusaha yang telah berhasil dalam mengembangkan wisata agro,
3) Pengelolaannya dilakukan dengan manajemen kemitraan, dengan prinsip-prinsip bertumpu pada partisipasi masyarakat, memegang azas gotong-royong, dan manajemen terbuka.
4)Bagi masyarakat: Perlu adanya dukungan dari masyarakat setempat terhadap pembangunan agrowisata berwawasan lingkungan, karena kegiatan wisata agro tidak merubah kebiasaan pekerjaan sebagian besar masyarakat setempat sebagai petani.
Bagi ilmu pengetahuan: pembangunan obyek agrowisata berwawasan lingkungan dan menjaga situs-situs yang ada.
 
Pengembangan agrowisata pada gilirannya akan menciptakan lapangan pekerjaan, karena usaha ini dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat pedesaan, sehingga dapat menahan atau mengurangi arus urbanisasi yang semakin meningkat saat ini. Manfaat yang dapat diperoleh dari agrowisata adalah melestarikan sumberdaya alam, melestarikan teknologi lokal, dan meningkatkan pendapatan petani atau masyarakat. Wisata-wisata sejarah alam Bakara mampu memberikan dan menyampaikan pesan moral terhadap kejadian-kejadian masa lalu, sehingga pengunjung dihadapkan pada pilihan hidup dan pemahaman betapa pentingnya kejadian masa lalu. (Sources: Berbagai sumber media terkait, data diolah F. Hero K. Purba)

No comments: