Tuesday, July 22, 2014

Prospek Pengembangan Bioenergi dari Produk Pertanian Indonesia



Pengembangan biofuel seyogyanya dalam pola rencana jangka pendek adalah untuk mengurangi ketergantungan kita pada konsumsi sumber energi fosil. Indonesia memiliki berbagai macam tanaman penghasil bioenergi seperti kelapa sawit, jarak, kemiri sultan, kelapa, tebu, sagu dan sebagainya. Untuk komoditas pertanian yang dijadikan sebagai bahan baku bioenergi akan memerlukan serangkaian proses untuk diproduksi, dipanen, ditransportasikan, dan dikonversikan menjadi biofuel, dan didistribusikan bagi utilisasi akhir. Sedangkan rencana jangka panjang adalah bagaimana bahan bakar terbarukan utamanya yang dihasilkan dari sumber-sumber berbasiskan tanaman (nabati) diarahkan sebagai substitusi atas bahan bakar yang selama ini kita gunakan secara total.  Bahan baku biofuel lain yaitu Crude Palm Oil (CPO), produksinya saat ini masih lebih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku minyak goreng di dalam negeri, dibanding untuk pembuatan biodiesel.
Sebagai contoh dari tanaman Jarak Pagar (Jatropha) salah satu bahan baku biodiesel yang saat ini digalakan pemerintah untuk dikembangkan secara besar-besaran bagi pemenuhan kebutuhan bahan baku biodiesel. Dalam pengembangannya masih terkendala dengan ketersediaan bibit dan keterbatasan lahan penanaman. Sejauh mana pengembangan untuk energy alternative dan perhitungan skala agribisnisnya. Pengembangan energi alternatif menjadi solusi utama dalam mempersiapkan pasokan sumber energi di masa depan, meskipun jumlah cadangan minyak dunia relatif masih besar, sekitar 1,35 triliun barel, tetapi kondisi pertumbuhan industri di dunia menunjukan potensi timbulnya persaingan kebutuhan terhadap minyak bumi. Situasi yang cukup mengkhawatirkan adalah tingginya pertumbuhan kebutuhan minyak bumi oleh Cina dan India, yang telah mencapai 3,3% dan 4%  per tahun akan menjadi pemicu melonjaknya harga minyak  pada beberapa tahun kedepan. Persaingan yang sangat ketat di masa depan untuk mendapatkan pasokan minyak bumi, menjadi dorongan utama pemerintah   Indonesia untuk mengembangkan energi alternatif, karena saat ini selain produsen. Indonesia memiliki banyak jenis tanaman yang berpotensi menjadi energi bahan bakar alternatif. Untuk pengembangan Bio Energi berbasis komoditi lokal memerlukan penanganan integrasi yang komprehensilf baik secara horizontal maupun yang terkait secara berkelanjutan. Pengembangan penyediaan Bahan Baku Bahan Bakar Nabati (Bio-energi) memerlukan komitmen dan dukungan dari semua pihak yang terlibat dari instansi Pemerintah baik Pusat dan Daerah, maupun Dunia Usaha. Potensi bioenergi ini juga memiliki potensi memperluas lahan untuk pertanian dan menciptakan pasar baru bagi petani. (Sources: data Litbang Kementan, data media, data diolah F. Hero K. Purba)

No comments: