Wednesday, June 13, 2012

Mengolah Sampah Menjadi Bernilai Ekonomi dan Berwawasan Lingkungan “Sustainable Green Clean”


Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah salah satu aspek yang terpenting untuk diperhatikan dalam sistem pengelolaan sampah secara terpadu. Kepedulian masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan salah satu faktor teknis untuk menanggulangi persoalan sampah perkotaan atau lingkungan pemukiman dari tahun ke tahun yang sema kin kompleks. Pengolahan Sampah Terpadu menuju “Zero Waste” harus merupakan teknologi yang ramah lingkungan. Beberapa daerah telah dikembangkan usaha yang berorientasi pada pola pemanfaatan sampah dengan mengubah menjadi berbagai jenis barang yang bermanfaat, seperti payung, tas, serta berbagai jenis barang yang berbahan plastik bekas. Kreativitas dari masyarakat dalam mengolah sampah menjadi sebuah karya yang bisa menghasilkan rupiah dan bermanfaat dibanding hanya sebatas dibuang atau di bakar. (Sources data: article majalah, newspaper, data terkait, data diolah F. Hero K. Purba).

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam Mengubah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), merupakan langkah strategis Pemda DKI Jakarta dalam mengurangi volume sampah; di samping mencegah tingkat pencemaran akibat sampah yang tidak diubah menjadi barang-barang yang lebih ekonomis atau dapat dipergunakan kembali.

Mengingat perilaku dari masyarakat berpengaruh besar terhadap kebersihan, maka masyarakat harus berperan secara aktif dalam pengolahan sampah yang optimal. Serta dibutuhkan pioneer untuk merubah paradigma pengelolaan sampah dari pendekatan ujung pipa (end of pipes) yaitu membuang sampah langsung ke TPA ke arah pengelolaan sampah dengan prinsip 3 R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali) dan Recycle (daurulang)”, (Witoelar 2006: 2). Kebijakan pengelolaan sampah ditekankan pada pengurangan sampah pada sumbernya, pemilahan dan daur ulang. Fondasi awal yang sangat penting dalam merubah paradigma ini adalah merubah kebijakan ke arah minimalisasi sampah pada sumbernya, bukan pada pembuangannya.

Banyak produk daur ulang yang dapat dihasilkan dari sampah, seperti tas dan kantong belanja, daur sampah organic menjadi Kompos, produk kerajinan dan sebagainya. Adapun yang menjadi nilai positif dalam keuntungan lain yang bisa diperoleh untuk pengelolaan yaitu: 1. Mereduksi sampah secara sistematis.2. Membuka lapangan kerja baru karena.3. Menambah penghasilan bagi komunitas pasar.4. Menyediakan pupuk organik berkualitas tinggi bagi petani dengan harga terjangkau.5. Menanggulangi kelangkaan pupuk dan lahan kritis. 6. Mengurangi beban pengelolaan sampah pemerintah daerah. 7. Mencegah terjadinya pemanasan global. 8. Mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional berbasiskan pertanian organik. Dalam pengolahan sampah ini dapat menimbulkan multiplier effect melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Masyarakat mulai terangsang untuk menciptakan berbagai teknologi pendukung pengelolaan sampah, mulai dari teknologi tempat-tempat penampungan sampah di rumah tangga untuk dijadikan pupuk kompos, teknologi pemanfaatan sampah menjadi produk yang bernilai ekonomis dan pemasaran hasil pengolahan sampah.

1 comment:

Jessica Ananda said...

Nah ini dia yang saya suka, begitu orang-orang mulai peduli dengan lingkungan hidup kita. Sepertinya harus lebih banyak lagi orang-orang seperti bapak supaya lebih banyak lagi orang yang aware dengan kelestarian lingkungan hidup kita!

Anyway saya mau sharing sedikit informasi mengenai pengolahan sampah yang akhirnya menjadi instalasi seni bernilai tinggi.
http://citragrandcity.com/wow-mengubah-sampah-menjadi-barang-seni/#

semoga bermanfaat :D