Friday, August 10, 2012

Komoditi Karet Indonesia dalam Perkembangan Pasar Internasional

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS ) karet pada Juni 2012 turun 5,35% menjadi US$1,05 miliar akibat pelemahan permintaan di negara tujuan dan penurunan harga komoditas. Pada bulan sebelumnya, ekspor karet dan barang dari karet US$1,11 miliar. Pelemahan permintaan terjadi di sejumlah negara, seperti Jepang, India, Australia dan Amerika Serikat. Ekspor karet alam atau technically specified natural rubber (TSBR) 20 ke Jepang pada Juni hanya 33.359,76 ton setara US$103,1 juta atau turun 11,59% dibanding bulan sebelumnya.

Kondisi pasar Ekspor karet Indonesia ke India yang turun 8,24% menjadi 10.321,92 juta ton dan AS yang anjlok 5,61% menjadi 47.514,04 juta ton. Sementara, ekspor ban kendaraan bermotor ke Australia juga tercatat menurun 22,47% menjadi 1.702,57 ton. Untuk produksi karet alam Indonesia pada tahun 2011 diperkirakan mencapai 2,972 juta ton, meningkat dari tahun sebelumnya yang tercatat 2,736 juta ton. Berdasarkan data data yang diolah Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), area perkebunan karet di Indonesia pada 2010 seluas 3.445 juta hektare, dan diperkirakan bertambah 5.000 hektare pada 2011.Untuk harga karet jenis SIR 20 di pasar bursa Singapura pada pembukaan 11 November untuk pengapalan Desember melemah delapan sent dolar AS per kg dari harga di 10 November 2011. Tahun 2011 produksi karet alam dunia diasumsikan hanya berkisar 10,970 juta ton sementara untuk konsumsi diperkirakan mencapai 11,151 juta ton sehingga terjadi kekurangan pasokan atau minus sekitar 181.000 ton. Kurangnya produk karet alam dunia di tahun 2011 salah satunya di karenakan terganggunya produksi karet di beberapa negara seperti Australia, hujan deras yang disebabkan oleh lamina yang juga menyebabkan banjir di negara tersebut telah mengganggu proses penyadapan karet. Kemudian di Thailand asosiasi natural rubber producing countries di Thailand memperkirakan produk karet alam pada musim dingin yang berlangsung mulai Febuari-Mei berdampak pada menurunnya produk karet hingga 50 persen. Pada 10 November 2011, harga SIR 20 ditutup sebesar 3,149 dolar AS per kg untuk pengapalan Desember dan 3,171 dolar AS per kg untuk Januari 2012. Dengan adanya kemerosotan harga karet itu diduga kuat akibat tindakan spekulan melepas posisinya memanfaatkan krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa. Menurut data SICOM (Singapore Commodity Exchange ) harga karet berjangka untuk penyerahan September 2011 ditutup pada level harga Usc468 per kg dari harga sebelumnya Usc476 per kg. Untuk Tokyo Commodity Exchange (TOCOM) harga Karet berjangka RSS3 ditutup melemah. Harga Karet berjangka untuk penyerahan Agustus 2011 ditutup pada level harga ¥351,2 per kilogram dari harga sebelumnya ¥354,3 per kilogram.Untuk nilai ekspor karet alam pada 2010 mencapai US$7.32 miliar. Asia Pasifik merupakan konsumen karet terkemuka, 56 persen dari kebutuhan karet dunia pada tahun 2008. Selain itu, daerah akan posting pertumbuhan terkuat permintaan karet sampai 2013, meskipun fakta bahwa pasar karet penting Jepang diharapkan dapat melihat penurunan karena penurunan tingkat produksi kendaraan bermotor di negara ini setelah kinerja cukup kuat di tahun 2008. Amerika Utara dan Eropa Barat akan terus melihat bawah standar keuntungan relatif terhadap rata-rata global, meskipun kedua daerah akan melihat peningkatan dari penurunan dari periode tahun 2003 sampai 2008. Non-ban permintaan karet akan melebihi permintaan ban karet sampai 2013. Permintaan produk karet non-ban akan mendapatkan keuntungan dari naiknya tingkat industrialisasi di negara-negara berkembang.

Kebutuhan karet domestik hanya 460.000 ton, naik 4.78% dibandingkan de-ngan kebutuhan karet lokal pada tahun lalu 439.000 ton. Total produksi karet dunia pada tahun ini diperkirakan mencapai 10,97 juta ton naik dibandingkan dengan tahun lalu 10,22 juta ton. Thailand menjadi negara produsen karet terbesar diperkirakan mencapai 3,47 juta ton pada tahun ini disusul Indonesia. Sedangkan Malaysia menempati posisi ketiga sebanyak 1,10 juta ton, India 893.000 ton, Vietnam 780.000 ton dan China 679.000 ton. Dengan kondisi cuaca yang anomali menjadi pengaruh yang besar terhadap produksi karet. Pada saat ini kan seharusnya sudah berakhir masa gugur daun dan di wilayah selatan garis khatulistiwa seharusnya sudah mulai musim kemarau. Ini menghambat kenaikan produksi. data Menurut data Bloomberg, harga karet untuk pengiriman Januari 2013 turun 2% pada pekan keempat Juli menjadi ¥226,4 per kg atau US$2,89 per kg di Tokyo Commodity Exchange. Akibat anomali iklim dapat mengakibatkan penurunan produksi karet , pada sekitar 3%-4% dari perkiraan awal produksi karet 2011 sebanyak 3,45 juta ton. Berdasarkan asumsi tersebut, dipastikan Indonesia berpeluang besar untuk memasok karet alam hasil produk Indonesia untuk pasar ekspor. (Berbagai data sumber terkait, BPS, data diolah F. Hero K. Purba)

No comments: