Monday, May 14, 2012

Proteksi Pasar Komoditi Pro Petani Miskin dalam Persaingan Pasar Global


Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan sektor pertanian di Indonesia adalah terbatasnya sektor pertanian dalam menyediakan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan bagi petani karena terbatasnya akses petani terhadap sumberdaya pertanian utamanya akses pada sumber daya lahan. Pemenuhan untuk kebutuhan pangan rakyat. Dalam membangun dan mengembangkan pertanian pada masa yang akan datang. Kesejahteraan petani dan keluarganya merupakan tujuan utama yang menjadi prioritas dalam melakukan program apapun.

Indonesia seharusnya dipenuhi petani jaminan pasar subsidi yang diberikan negara maju untuk petaninya dan ekspor produk pertanian disinyalir merugikan negara berkembang, termasuk Indonesia. Kerugian negara berkembang diperkirakan mencapai US$17 miliar tiap tahunnya. Angka ini adalah hasil perhitungan World Bank terhadap subsidi yang diberikan negara-negara anggota OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan) kepada pelaku usaha tani di masing-masing negaranya selama periode 2005—2007. Menurut Data World Bank menyebutkan, subsidi pertanian yang diberikan periode 2005—2007 mencapai US$368 miliar per tahun. Sementara negara maju anggota WTO juga memberi subsidi bagi petaninya. Di antaranya Uni Eropa (US$151 miliar per tahun), Amerika Serikat (US$102 miliar per tahun), dan Jepang (US$49 miliar per tahun). Indonesia sendiri tahun 2009 memberikan total subsidi Rp 33,5 trilyun (± US$3,5 miliar) untuk sektor pertanian. Dengan Kondisi ini mengakibatkan permasalahan dengan masuknya produk pertanian impor berharga murah. Harga produk pertanian Indonesia menjadi kurang bersaing dengan harga produk pertanian impor yang murah. Dalam hal membantu petani mencapai harga jual produk komoditi pertanian yang berdaya saing dankompetitif, pemerintah bisa memberikan subsidi sektor pertanian yang benar-benar pro kepada petani. Untuk pembangunan pertanian pada masa lalu mempunyai beberapa kelemahan, yakni hanya terfokus pada usaha tani, lemahnya dukungan kebijakan makro, serta pendekatannya yang sentralistik. Akibatnya usaha pertanian di Indonesia sampai saat ini masih banyak didominasi oleh usaha dengan: (a) skala kecil, (b) modal yang terbatas, , (c) sangat dipengaruhi oleh musim, (d) penggunaan teknologi yang masih sederhana (e) wilayah pasarnya lokal, (f) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), (g) akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah, (h) pasar komoditi pertanian yang sifatnya mono/oligopsoni yang dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi eksploitasi harga yang merugikan petani. Strategi kita untuk dapat melindungi dan memanfaatkan kekayaan alam yang berupa plasma nuftah yang dimiliki oleh negara-negara sedang berkembang, tidak hanya untuk kepentingan pembangunan sektor pertanian. Akses Pasar menjadi sesuatu yang vital bagi petani, fluktuasi harga di pasar adalah fluktuasi tingkat kesejahteraannya. Sudah selayaknya petani memahami liku-liku atau mekanisme pasar, terlebih jika menyangkut pasar global, di mana sekumpulan produk petani dijual dengan berbagai persyaratan yang amat ketat, seperti menyangkut kualitas, kadar kontaminasi pestisida, pengemasan, waktu pengiriman, dan sebagainya. Diharapkan ke depan persaingan pasar untuk komoditi dapat berdaya saing dengan memperhatikan kualitas dan Sustainability Supply Chain untuk mempertahankan akses pasar serta ekspansi pasar baru bagi hasil pertanian. (Berbagai media terkait, dan sumber lainnya, agriculturenetwork, data diolah F. Hero K Purba).

No comments: