Monday, March 17, 2014

Potensi Pengembangan Usaha Pisang Mas dan Pisang Agung, Lumajang dalam Usaha Agribisnis




Potensi bercocok tanam Pisang Mas Kirana (Garcinia Maggostana L) ini juga sudah mendapat pengakuan internasional, yakni dari Negeri Belanda. Asosiasi Petani Pisang Seroja dari Desa Kandang Tepus, telah mendapat sertifikat Global GAP (Good Agricultural Practices) dari Control Union Certification dari Belanda.Sentra produksi pisang mas kirana tersebar di 3 (tiga) kecamatan yaitu Senduro, Pasrujambe dan Gucialit. Petani pisang di kabupaten ini telah tergabung dalam Paguyupan Pisang Mas dan Asosiasi Petani Pisang Lumajang. Di Kecamatan Senduro, sebagai sentra utama pisang mas kirana, kini jumlah lahan yang ditanami pisang mas kirana mencapai 425 hektar. Awalnya lahan untuk tanaman pisang mas kirana hanya sekitar 15-20 hektar.Pisang mas kirana semakin dikenal luas. Dari tiga kecamatan itu, produksi pisang mas kirana mencapai 200 ton per bulan. Jika awalnya hanya Rp 1.600 per kg, kini harga pisang mas kirana melejit hingga Rp 5.200 per kg. Setiap tahunnya bisa dihasilkan pisang mas kirana sebanyak 216.515 kuintal per hektarnya. Bentuk buahnya yang cukup cantik dan rasa manis yang dimiliki pisang mas kirana, memberikan daya tarik tersendiri bagi para konsumen, sehingga wajar adanya bila varietas pisang ini telah dipasarkan ke luar daerah Lumajang, bahkan pernah diekspor ke mancanegara seperti Singapura, China, Jepang, dan Taiwan. Untuk pisang Mas Kirana dalam hal kualitas menyangkut grading (pengelompokan), packaging (pengemasan), labelling (pelabelan), dan wrapping (pengepakan). Sedangkan kuantitas terkait kemampuan memenuhi jumlah pesanan. Persediaan harus dipersiapkan apabila sedang tidak musimnya, produk yang diminta harus ada. Kontinuitas berhubungan dengan kemampuan memasok dalam jangka waktu kontrak tertentu. Di sini, terkait pula pengetahuan mengenai rotasi tanaman dan pola tanam. Dalam cara mengelola pengemasan pisang yang hygienis. Meskipun kelihatan sepele, tetapi proses ini sangat menentukan calon importir sebelum memasukkan pisang ke negaranya. Dan mereka pasti menempaykan proses pengelolaan secara hygienis sebagai syarat ekspor. Pengembangan Komoditi Pisang Agung di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur sebagai kota pisang agung, dapat meningkatkan kesejahteraan para petani pisang agung. Kecamatan Pasru Jambe misalnya, sekitar 90,8 persen dari 1.225 keluarga atau sekitar 3.050 jiwa warganya adalah petani pisang agung. Populasi tanaman pisang agung di desa itu mencapai 612,5 hektar atau sekitar 1,53 juta pohon pisang, dengan asumsi rata-rata 2.500 pohon pisang per hektar. Pisang Agung menjadi ciri khas dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Daerah penghasil terbesar pisang Agung adalah Senduro. Beberapa ahli mengkategorikan pisang Agung sebagai jenis “Plantain”, yakni jenis pisang yang harus diolah sebelum dikonsumsi. Berbeda dengan jenis plaintain lainnya, pisang Agung dapat juga dimakan secara langsung. Kulitnya yang relatif tebal dan keras, membuat pisang Agung dapat bertahan lama untuk mencapai fase masak sehingga rasanya semakin manis. Pisang Agung juga digunakan sebagai bahan mentah untuk pengolahan keripik pisang, sale, dodol dan selai.
Nilai ekonomis dari Pisang Agung Lumajang  sedang berkembang dengan pesat, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan. Kabupaten Lumajang yang terkenal dengan sebutan Kota pisang terdiri dari 21 Kecamatan sebagian besar merupakan sentra pisang dengan memiliki luas 2644 ha dengan produksi 29,546 ton per tahun. Beberapa varietas pisang yang dikembangkan di Kabupaten Lumajang diantaranya, Agung Semeru, Mas Kirana, Raja Lumut, Ambon, Susu, Embug dan lain sebagainya. Pisang Agung merupakan salah satu komoditi unggulan pertanian yang sangat potensial, baik secara teknis, sosial, maupun ekonomis. Sebagai tanaman nonmusim, pisang agung dapat dipanen sewaktu-waktu dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Untuk peluang ekspor pisang Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan produk pisang dari negara lain. Hal ini dilihat dari sisi untuk pemasaran Internasional, dan kedepannya untuk  mengembangkan produk pisang di pasar domestik dengan mencoba mengembangkan peluang investasi. Produksi Pisang Indonesia cenderung meningkat,sedangkan konsumsi meningkat,laju pertumbuhan konsumsi yang sedikit lebih rendah ini diduga akibat makin banyaknya pisang ekspor dan makin beragamnya jenis buah lain baik lokal mapun impor. (Sumber: data media, Litbang, data diolah hero13).

No comments: