Tuesday, June 24, 2014

Membangun Indonesia Kuat Melalui Produk Pertanian Berdaya Saing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA/AEC)



Optimisme dalam Pengembangan Pertanian diperlukan karena tantangan perekonomian Indonesia tidak ringan. Sebagai suatu pilar strategis, AEC mencakup 12 sektor prioritas yang salah satunya adalah : produk berbasiskan pertanian (agro-based product). Hal ini tentu akan berdampak kepada liberalisasi sektor pangan di tanah air disamping berbagai perjanjian perdagangan yang sudah ditanda tangani oleh Indonesia sebelumnya memberikan dampak pembukaan impor produk pangan secara besar-besaran. Dalam pengembangan potensi produk pertanian dan olahan untuk Integrasi produk berbasiskan pertanian ini mengacu kepada prinsip WTO yang disesuaikan dengan AEC. Pada dasarnya tetap bertujuan untuk meliberalisasi sektor pertanian di tingkat ASEAN. System liberalisasi pertanian, yang pada awalnya dipromosikan oleh WTO bergantung kepada mekanisme perdagangan global dan system rantai pasokan pangan. Dampak implementasi terhadap AEC 2015 perlu diperhatikan serta kesiapan Indonesia di dalam sektor pangan pertanian dan olahan.
Free Trade Agreement (FTA) bilateral, yakni Kesepakatan Kemitraan Ekonomi (EPA) Indonesia-Jepang, sedangkan enam sisanya FTA yang ditandatangani Indonesia sebagai bagian dari ASEAN, termasuk AFTA.Salah satu yang paling ekstensif, ambisius, dan di depan mata adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN, yang salah satu pilarnya adalah pembentukan pasar tunggal ASEAN pada 2015 atau dua tahun dari sekarang. Di ASEAN sendiri kesepakatan perdagangan bebas bilateral (BTA) ditempuh karena kemajuan AFTA dianggap terlalu lamban. Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) yang akan menjadikan ASEAN pasar tunggal dan basis produksi kompetitif di kawasan juga bentuk dari respons ASEAN terhadap bangkitnya ekonomi China dan India.
 Persaingan ketat produk pertanian dari negara-negara tetangga ASEAN, seperti Thailand, Myanmar, Vietnam dan Laos, dengan menjaga mutu /kualitas produk, kuantitas dan Kapasitas produk yang dihasilkan. Dan perlu mempersiapkan segala aspek dalam teknologi untuk mendorong penerapan SNI, GAP, GHP dan GMP. Hal ini terjadi persaingan harga antara produk pertanian dalam negeri dengan negara-negara lainnya. Padahal, sebagaimana yang diketahui selama ini, harga produk pertanian dari luar negeri justru lebih rendah jika dibandingkan dengan harga produk yang dihasilkan oleh tanah air. AEC akan mengubah ASEAN menjadi suatu pasar tunggal. Hal ini memberikan kesempatan untuk meningkatkan nilai bisnis di negara ASEAN, untuk  dapat beradaptasi dengan pasar terbuka. (Sumber: Berbagai data media terkait, data diolah F. Hero K. Purba).

No comments: