Monday, June 23, 2014

Produk Olahan Susu dalam Mengantisipasi Lonjakan Impor, Masalah, Dilema atau Tantangan




Untuk total kebutuhan bahan baku susu tercatat 3,2 juta ton per tahun, sedangkan pasokan dari peternak hanya 690.000 ton yang dihasilkan oleh sekitar 597.135 ekor sapi perah. Persentase impor bahan baku industry susu kini mencapai 80 persen per tahun. Berdasarkan data setiap tahun Indonesia rutin melakukan importasi susu sebesar US$ 700 juta atau sekitar Rp 6,65 triliun. Saat ini kontribusi susu lokal hanya 25% atau sebesar 1.800 ton. Saat ini pun kita masih impor susu sebesar 75% dari kebutuhan nasional atau US$ 700 juta tiap tahun. Untuk produk Susu harus memenuh syarat-syarat kesehatan dan kebersihan, karena susu merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroba. Susu juga mudah rusak bila penanganannya kurang baik sehingga mempunyai masa simpan yang relatif singkat. Untuk menangani kelebihan produksi susu, langkah yang paling tepat adalah dengan mengawetkan susu untuk memperpanjang masa simpan melalui proses pengolahan. Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam industri susu nasional. Diperlukan peran pemerintah untuk meningkatkan pasokan bahan baku susu nasional dengan menggalakkan program ternak sapi. Sebagai salah satu contoh dalam pengembangan Gabungan Kelompok Ternak Makmur Agro Satwa yang berlokasi Desa Sukamekar Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi. Dalam membina Gapoknak ini Pimpinan Gapoknak MAS Sentot Joko Priyono mengatakan bahwa semua prestasi yang diraihnya tersebut merupakan keberhasilan tim yang mau bersama-sama bekerja keras dalam mencerdaskan anak bangsa. Gapoknak MAS yang berdiri sejak Januari 2008, berhasil mencetuskan berbagai program unggulan. Dukungan dari Pemda Sukabumi dan Pemerintah Pusat dalam pembinaan terhadap Gapoknak ini.  Adapun Program dari Gapoktan Makmur Agro Satwa yaitu Gerimis MANDIRI (gerakan mengkonsumsi susu bagi anak usia sekolah secara mandiri). Bekerjasama dengan karang taruna, kelompok wanita usaha, kelompok pemuda dan PKK, program ini menghimbau agar sekolah menyelenggarakan minum susu minimal 1(satu) kali dalam seminggu. Dimana program ini bergerak tanpa ada intervensi dari pemerintah baik dari sisi teknis maupun pembiayaan. Gerimis Peri (gerakan mengkonsumsi susu di lingkungan pegawai negeri). Bekerjasama dengan PKK utuk menghimbau keluarga pegawai negeri untuk mengkonsumsi susu murni dan olahannya minimal 1 liter dalam seminggu. Gerimis Pesta (gerakan mengkonsumsi susu di kalangan pegawai swasta). Bekerjasama dengan PKK. Gerimis Kawin (gerakan mengkonsumsi susu di lingkungan karyawan industri). Bekerjasama dengan SPSI atau kelembagaan buruh yang ada di masing-masing lokasi industri untuk mewajibkan para karyawan atau buruh mengkonsumsi susu dan produk olahanya yang dibiayai oleh manajemen industri yang bersangkutan dalam rangka peningkatan kesehatan karyawan.

Adapun kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) untuk susu olahan dalam negeri saat ini sekitar 3,3juta ton per tahun, dengan pasokan bahan baku susu segar dalam negeri 690 ribu ton per tahun (21 persen) dan sisanya sesebsar 2,61 juta ton (79 persen) masih harus diimpor dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai Negara seperti Australia, New Zealand, Amerika Serikat, dan UniEropa. Menurut data Dewan Persusuan Nasional tahun 2013 ini persentase susu segar untuk memasok kebutuhan nasional diyakini menurun dibandingkan tahun 2012. Prooduksi susu segar di tahaun 2013 diperkirakan turun sekitar 10 -15 persen. strategi pengembangan yang seyogyanya segera dilaksanakan adalah berkaitan dengan upaya peningkatan keunggulan daya saing agribisnis susu segar tersebut.

Proses pengolahan susu bertujuan untuk memperoleh susu yang beraneka ragam, berkualitas tinggi, berkadar gizi tinggi, tahan simpan, mempermudah pemasaran dan transportasi, sekaligus meningkatkan nilai tukar dan daya guna bahan mentahnya. Proses pengolahan susu selalu berkembang sejalan dengan berkembangnya ilmu di bidang tekologi pangan. otensi sumberdaya alam Indonesia yang besar bagi pengembangan agribisnis persusuan, adalah ironis jika sebagian besar dari kebutuhan susu Indonesia masih harus diimpor. Dengan demikian, pemerintah dan stakeholder lainnya perlu berupaya keras meningkatkan pangsa pasar (market share) para pelaku pasar domestik dalam agribisnis persusuan Indonesia. (Source: Berbagai Sumber media terkait, data DPN, data F. Hero K. Purba).

No comments: